BI Rate Belum Topang Kenaikan Indeks BEI

NERACA

Jakarta - Labilnya pergerakan indeks di Bursa Efek Indonesia pada pekan ini dan dimulai sejak BI Rate naik 50 basis poin, ternyata tidak membantu nilai tukar rupiah menguat dan sebaliknya membuat investor asing galau dengan kondisi tersebut hingga memaksa melakukan aksi jual.

Kata analis dari Universal Broker Satrio Utomo, kenaikan BI Rate tidak memberikan dampak positif mengangkat nilai tukar rupiah, “Saya termasuk orang yang kurang happy dengan kebijakan-kebijakan BI saat ini. Pasalnya, setelah kenaikan BBM. Bank Indonesia mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang \'mengecewakan\' seputar inflasi,”tandasnya di Jakarta, Selasa (30/7).

Menurutnya, pernyataan-pernyataan Bank Indonesia (BI) yang mengecewakan seperti prediksi angka inflasi bakal 7,76% bukannya menenangkan pasar. Kemudian BI secara mengejutkan (diluar ekspektasi) menaikan BI rate sebesar 50 basis pada Juli. Padahal malam sebelumnya dolar melemah terhadap hampir semua mata uang.

Sehingga makin melemahkan rupiah yang bergerak makin tidak terkendali. Sebagai informasi, terakhir BI melepas rupiah untuk bergerak diatas psikologisnya pada Rp 10.00. Namun, menurut dia masih ada sedikit harapan yaitu menunggu aliran dana asing masuk lagi.

Menjelang lebaran bursa akan libur 1 minggu dan menjadi alasan bagi pemodal asing untuk wait and see. \"Selain itu, Dow Jones juga masih ragu-ragu mau naik atau turun. Sehingga yang terjadi saat ini adalah saling tunggu-menunggu\", jelas dia.

Kata Satrio, kinerja emiten pada kuartal 1 tahun 2013 hanya 15% emiten yang mampu melampaui ekspektasi analis. Akibatnya pelaku pasar tetap menunggu pengumuman kinerja yang dikeluarkan oleh emiten tersebut, “Biasanya karena ada aksi tunggu-menunggu harga bisa turun perlahan. Namun prediksinya hingga Kamis kita masih tetap flat. Kinerja emiten sepertinya masih cukup sulit karena yang dibawah ekspektasi pasar mencapai 50%\", jelas dia.

Hal senada juga disampaikan Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan, sejak kenaikan BBM subsidi sentimen di pasar modal lesu dan sehingga yang terjadi adalah penurunan IHSG.

Transaksi Sepi

Diakui Analis E-Trading Securities Andrew Argado, dalam satu bulan terakhir transaksi di pasar modal memang sepi karena dipengaruhi oleh dua sentimen yaitu eksternal dan internal. Faktor eksternal seperti kebijakan-kebijakan ekonomi dari Amerika Serikat dan regional seperti Cina dan Jepang sangat berdampak pada ekonomi Indonesia yang menyebabkan IHSG oleng.

Faktor internal yang bersinggungan seperti rilis cadangan devisa, defisit karena impor barang modal yang terbanyak diserap impor pesawat, “Kondisi ini membuat kita mengeluarkan lebih banyak dolar. Padahal seharusnya kita menyimpan dolar yang ada. Meskipun begitu cadangan devisa masih mampu menutupi impor kita tapi anyg menjadi konsentrasi pasar adalah inflasi\", ungkap dia.

Sehingga emiten yang banyak melakukan impor akan terkena dampak ini. Sektor komoditas juga berada di level melandai, pada gilirannya ketika kondisi eksternal membaik dari data-data ekonomi yang dirilis akan jadi perhatian. Namun saat sektor komoditas dan inflasi berjalan seiringan, komoditas berbasis energi akan terdongkrak terlebih dahulu.

Selain menjelaskan mengenai inflasi, dia juga menjelaskan dana asing yang keluar dan net sell asing adalah hal yang berbeda. Sehingga menurut dia yang terjadi saat ini

Asing hanya keluar sementara dari Indonesia dan nanti setelah ada kepastian kondisi ekonomi, asing akan masuk lagi. \"Kalaupun asing keluar itu bukan dari capital market, karena mereka lebih banyak investasi di surat utang. Mereka net sell karena mau ambil untung juga\", ungkap dia.

Dia menambahkan mereka melarikan dulu dananya dari Indonesia, karena mau lihat emiten dipasar modal untuk memperbaiki kinerja. Sejak minggu lalu asing mulai belanja namun belum banyak. Investor asing melakukan net buy tetapi belum cukup besar. (nurul)

Related posts