BRI Raup Laba Rp10 Triliun di Semester Pertama

NERACA

Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp10,012 triliun di semester 1 2013, atau tumbuh 16% dibanding periode yang sama tahun lalu yang senilai Rp8,61 triliun. Pertumbuhan kinerja BRI ini didorong oleh pertumbuhan kredit yang tercatat sebesar 28,5% atau sebesar Rp391,77 triliun per akhir Juni 2013.

\"Kenaikan laba bersih ini dicapai dengan pertumbuhan kredit yang melampaui industri yang tumbuh sekitar 20%-22% pada tahun 2013. Pencapaian ini sekaligus sinyal bagus di tengah inflasi pada semester dua yang akan menekan pertumbuhan kami,\" kata Direktur Bisnis UMKM BRI, Djarot Kusumayakti, di Jakarta, Selasa (30/7).

Dengan pencapaian ini, sambung dia, tidak mengubah ekspetasi atas pertumbuhan BRI pada tahun ini yang ditargetkan mencapai 22%-24%. BRI, kata Djarot, masih berharap kredit usaha rakyat menaikkan pertumbuhan kredit. Dia menambahkan, bisnis mikro BRI juga terus memperlihatkan momentum pertumbuhan yang menggembirakan. Kredit mikro BRI dalam periode yang sama tumbuh sebesar 26,4% mencapai Rp122,08 triliun, atau meningkat Rp25,49 triliun. Pertumbuhan kredit mikro BRI, lanjut dia, tidak hanya menghasilkan peningkatan outstanding pinjaman, tetapi juga menghasilkan peningkatan jumlah nasabah.

Hingga akhir Juni 2013, jumlah debitur mikro BRI mencapai 5,9 juta orang. Sebagai catatan, kontribusi kredit mikro BRI dalam portfolio kredit BRI terus meningkat dalam lima tahun terakhir.

Dengan pertumbuhan bisnis mikro, yang disertai dengan mlai bertumbuhnya segmen kredit kecil dan menengah, maka komitmen BRI untuk terus mengembangkan segmen Mikro, Kecil, dan Menengah (MKM) di Indonesia sangat kuat, seperti yang tercermin dari dominasi kredit MKM dalam portfolio BRI yang mencapai 73,2% dari total kredit.

Dari sisi pendanaan, BRI juga berhasil menumbuhkan dana pihak ketiga (DPK). Djarot menuturkan, per akhir Juni 2013, total DPK BRI mencapai Rp439 triliun atau tumbuh 18,3% dari Juni tahun lalu.

\"Perolehan DPK BRI didominasi oleh penyimpan ritel, seperti yang terlihat dari jumlah rekening simpanan yang per akhir Juni 2013 mencapai 37 juta rekening,\" ujarnya. Pertumbuhan kredit yang tinggi tersebut juga dibarengi dengan penjagaan kualitas kredit seperti yang tercermin dari tingkat kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) yang terjaga pada 0,41%, menurun dari tingkat NPL enam bulan pertama tahun sebelumnya yang mencapai 0,55%.

Taruhan reputasi

Terkait BRI dituduh menelantarkan pensiunan, di tempat terpisah, Dosen FEUI Berly Martawardaya menilai tidak mungkin bank pelat merah yang akrab dengan UKM ini akan merusak reputasi yang dibangunnya sejak lama dengan menelantarkan para pensiunannya.

\"Bisa rusak reputasi BRI (jika menelatarkan pensiunan). Saya tidak yakin lembaga besar dengan rekam jejak yang bagus dan kepekaan tinggi pada kaum kecil, melakukan hal tersebut. Saya pikir itu hanya masalah miss communication antara manajemen dengan pensiunan,\" kata Berly.

Menurut dia, rekam jejak BRI juga sangat baik sehingga perlu ada inisiatif dari kedua pihak untuk lebih intensif dan proaktif melakukan mediasi sehingga sehingga mencapai jalan keluar yang win-win solution. \"Untuk pensiunan, lebih baik mediasi daripada demonstrasi,\" ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, sekelompok pensiunan pegawai BRI yang mengatasnamakan Forum Kelompok Penuntut Pesangon (FKP3) akan melakukan aksi demonstrasi pada Agustus mendatang. Mereka mengklaim pihak Manajemen BRI belum membayarkan pesangon dan pensiun sesuai dengan ketentuan perundangan.

“Bahkan, bukan tidak mungkin pada akhirnya aksi itu berpotensi dimanfaatkan oleh kepentingan kelompok tertentu,” ujar Ketua Persatuan Pensiunan BRI, Purwanto, pekan lalu.

Pada dasarnya, lanjut Purwanto, sistem pembayaran pesangon dan pensiun bagi karyawan BRI yang sudah memasuki masa purna tugas sudah sejalan dengan UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Apalagi, pihak manajemen BRI pun sebelum menetapkan kebijakan tersebut sudah meminta legal opinion dari pihak Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans).

“Saya fikir sangat tidak masuk akal bila pihak manajemen bermain-main dalam menangani hal yang sangat sensitif itu. Apalagi, para penentu kebijakan tersebut juga adalah karyawan BRI yang kelak akan pensiun juga. Mungkinkah mereka akan membuat kebijakan yang dapat merugikan diri mereka sendiri nantinya,” ujarnya. [ardi/rin]

Related posts