Pendapatan Astra Tertekan Kenaikan Upah Buruh - Bukukan Pendapatan Rp 94,27 Triliun

NERACA

Jakarta- PT Astra Internasional Tbk (ASII) mencatatkan pendapatan bersih hingga semester pertama 2013 sebesar Rp94,27 triliun, atau turun 1,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp95,91 triliun. Sepanjang semester pertama ini pun, laba periode berjalan yang dicatatkan perseroan turun 10,9%, atau menjadi Rp10,12 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya mencapai Rp11,36 triliun.

Informasi tersebut disampaikan Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Prijono Sugiarto dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa (30/7). Menurut dia, laba perseroan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp8,81 triliun pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp9,22 triliun. Laba bruto perseroan turun menjadi Rp16,56 triliun hingga semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp17,91 triliun.

Sementara beban pokok pendapatan perseroan turun menjadi Rp77,71 triliun hingga semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp78 triliun. “Meningkatnya kompetisi pada pasar mobil, kenaikan biaya tenaga kerja, dan menurunnya harga komoditas diperkirakan masih akan mempengaruhi kinerja usaha pada semester kedua tahun ini,” jelasnya.

Pada semester pertama ini, sambung dia, perseroan mencatatkan kenaikan beban penjualan sebesar Rp4 triliun pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp3,69 triliun. Beban umum perseroan naik dari Rp4,2 triliun pada semester pertama 2012 menjadi Rp4,6 triliun pada semester pertama 2013. Penghasilan bunga perseroan turun menjadi Rp355 miliar pada semester pertaam 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp375 miliar.

Laba Saham Turun

Laba per saham perseroan turun menjadi Rp218 pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp239. Total liabilitas perseroan naik menjadi Rp101,62 triliun pada 30 Juni 2013 dari 31 Desember 2012 senilai Rp92,46 triliun. Ekuitas perseroan naik menjadi Rp95,53 triliun pada 30 Juni 2013 dari periode 31 Desember 2012 senilai Rp89,81 triliun.Kas dan setara kas perseroan naik menjadi Rp15,51 triliun pada 30 Juni 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp11,05 triliun.

Untuk mendukung kinerjanya tahun ini, perseroan mengganggarkan belanja modal terkonsolidasi sebesar Rp15,5 triliun di tahun dari belanja modal terkonsolidasi di tahun lalu sebesar Rp13 triliun. Peningkatan anggaran tersebut seiring dengan rencana perseroaan untuk meningkatkan infrastruktur. “Capex lebih banyak ke infrastruktur. Yang bergeser dari sektor alat berat, UNTR akan turun diambil alih infrastruktur, agribisnis, sedang otomotif tetap on.” jelasnya.

Belanja modal untuk infrastruktur, lanjut dia, antara lain akan digunakan untuk mengambil alih pelabuhan di Kalimantan Timur yaitu Iskal dengan investasi tahap awal sebesar Rp600 miliar. Perseroan juga akan menyelesaikan pengambilalihan tol Mojokerto yang dilakukan 1,5 tahun lalu. Dalam pengembangan usaha pembangkit tenaga listrik, saat ini perseroan sedang menjajaki investasi di pembangkit listrik untuk Hydro dengan kapasitas 200 MW, dan ikut dalam tender PLN.

Sementara untuk alokasi belanja modal di sektor otomotif, kata dia, akan tetap mengalami peningkatan yaitu menjadi Rp8,4 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp7 triliun. Hal tersebut didasarkan pada kondisi pasar otomotif yang dinilai masih akan bergairah di tahun ini. Rencananya, perseroan akan menggunakan belanja modal di sektor otomotif ini untuk Astra otoparts dan penambahan outlet.

(lia)

Related posts