Laba Austindo Nusantara Anjlok 88% - Kinerja Semester Pertama

NERACA

Jakarta- PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga semester pertama tahun ini US$8,73 juta, atau turun 88,11% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya US$73,45 juta. Perseroan juga mencatatkan penurunan pendapatan 16,75%, atau menjadi US$75,34 juta hingga semester pertama 2013 dari periode yang sama tahun sebelumnya US$90,51 juta.

Informasi tersebut disampaikan manajemen perseroan dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (30/7). Disebutkan, penjualan perseroan pada semester pertama ini turun menjadi US$67,25 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya US$80,29 juta. Pendapatan konsesi jasa turun menjadi US$2,39 juta hingga semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya US$3,01 juta.

Beban perseroan turun menjadi US$61,97 juta hingga semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya US$63,17 juta. Selain itu, laba sebelum pajak perseroan turun dari US$27,34 juta pada semester pertama 2013 menjadi US$13,36 juta. Total liabilitas dan ekuitas perseroan naik menjadi US$412,35 juta pada 30 Juni 2013 dari periode 31 Desember 2012 senilai US$399,36 juta. Kas dan setara kas perseroan turun menjadi US$61,05 juta pada semester pertama 2013 dari periode 31 Desember 2012 senilai US$76,59 juta.

Dalam rencana bisnisnya, emiten yang bergerak di bidang perdagangan dan jasa serta pengoperasian perkebunan kelapa sawit ini akan mengembangkan dua lini usaha baru, yaitu produksi tepung sagu dan biogas. Pengembangan usaha di dua lini tersebut dinilai cukup potensial dan dapat berkontribusi terhadap kinerja perseroan. “Ke depan kita juga akan mengembangkan dua lini usaha baru, yaitu produksi tepung sagu dan biogas,” kata President Director Austindo Nusantara Jaya, Suwito Anggoro.

Menurut dia, perusahaannya telah memiliki konsesi atas pengelolaan hutan sagu yang berada di Papua Barat dengan luas lahan 40 ribu hektar (ha). Ditargetkan, perseroan siap memproduksi tepung sagu pada akhir 2013 mendatang. Sementara untuk proyek pembangkit listrik biogas, kata dia, perseroan berencana akan membangun pabriknya di wilayah Belitung dengan sertifikasi karbon emisi (roundtable on sustainable palm oil/RSPO). “Kami juga telah menandatangani perjanjian dengan PT PLN Belitung,” imbuhnya.

Untuk meningkatkan pertumbuhan kinerja tahun ini, manajemen perseroan mengaku telah memiliki konsesi atas pengolahan hutan sagu yang berada di Papua Barat dengan luas lahan 40.000 hektar. Selain itu, perseroan akan menanam 19 ribu hektar lahan, antara lain di Kalimantan Barat dalam tiga tahun. Targetnya, perseroan akan menanam lahan untuk kelapa sawit sekitar 5.500 hektar.

Dengan adanya pengembangan bisnis sawit dan penanaman lahan untuk kelapa sawit sekitar 5.500 hektar, perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 12%. Untuk mendukung kinerjanya tahun ini, perseroan menargetkan dana sebesar US$60 juta. Ke depan, selain memperoleh dana dari IPO, pihaknya juga optimistis dapat memperoleh pinjaman dari perbankan. “Di lihat dari pendapatan dan tata kelola yang baik kita akan mendapatkan pinjaman yang besar dari bank.” kata Wakil Direktur Utama perseroan, Istini Tatiek Siddharta. (lia)

Related posts