Penyerapan Biodiesel Baru 412 Ribu KL - Per Juli 2013

NERACA

Jakarta - Pemerintah menargetkan penyerapan penggunaan biodiesel hingga akhir tahun dapat mencapai 1 juta kiloliter (kl). Meskipun begitu, sampai dengan pertengahan Juli 2013, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM baru mencatat sebesar 411.997 kiloliter. Artinya penyerapan hingga bulan Juli belum mencapai setengahnya. Hal tersebut seperti diungkapkan Kasubdit Pelayanan dan Pengawasan Usaha Bioenergi Ditjen EBTKE, Dotor Panjaitan di Jakarta, Selasa (30/7).

Ia menjelaskan bahwa pihaknya masih tetap optimis target penyerapan 1 juta kiloliter bisa tercapai meskipun saat ini penyerapannya belum setengahnya. Rasa optimis tersebut lantaran PT Pertamina (Persero) melakukan perluasan distribusi sampai ke Sumatera Barat, Bengkulu dan Sulawesi Selatan. \"Kami harapkan hingga Desember nanti bisa naik lagi karena ada perluasan distribusi oleh Pertamina,\" tutur Panjaitan.

Panjaitan mengungkapkan, sosialisasi pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) ke badan usaha pertambangan sudah dilakukan. Dua persen biodiesel bisa dicampurkan dalam konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) di industri alat berat pertambangan. Namun dia menyatakan, ada sejumlah keraguan di kalangan industri alat berat akan campuran tersebut lantaran mesin alat berat diproduksi hanya untuk BBM. \"Tapi Komatsu sudah memberi rekomendasi, campuran hingga 20 persen tidak berpengaruh pada kinerja mesin,\" ungkap Panjaitan.

Meskipun belum ada suplai bioethnol pada kendaraan bermotor, namun kata Panjaitan, bahwa PT Perkebunan Nusantara XI akan produksi bioethanol sebesar 120 ribu kl per tahun. Rencananya pabrik pengolahan tetes tebu tersebut akan diresmikan oleh Menteri BUMN pada Agustus nanti. Secara nasional kapasitas terpasang bioethanol mencapai 300 ribu kl. Dengan PTPN XI itu nantinya jadi 420 ribu kl.

Sebelumnya, Direktur Bioenergi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana menyatakan bahwa Pemerintah berencana meningkatkan penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) dengan jenis biodiesel yang akan dicampur dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan persentase mencapai 10% dari yang sebelumnya 7,5%. Dari kebijakan tersebut, diperkirakan akan menambah penggunaan biodiesel mencapai 1 juta kiloliter dari realisasi tahun lalu mencapai 700 ribu kiloliter. \"Dengan kebijakan tersebut maka dapat mendorong pemanfaatan biodiesel di sektor transportasi yang akan mencapai 1 juta kiloliter dari realisasi tahun lalu yang hanya mencapai 700 ribu kiloliter,\" ujarnya.

Menurut dia, peningkatan penyerapan biodiesel bersubsidi lantaran terjadinya perluasan penggunaan yang dari sebelumnya hanya di wilayah Jawa dan Sumatera. Untuk kali ini, kata Dadan, penggunaan biodiesel meluas hingga mencapai Kalimantan dan Sulawesi.

Rencananya pemerintah akan memasukkan kenaikan persentase campuran BBM tersebut ke dalam pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2013 dengan DPR. \"Kenaikan mandatori perlu mendapat persetujuan DPR, karena menyangkut alokasi subsidi yang bakal bertambah,\" tuturnya.

Selain itu, pemerintah mewajibkan perusahaan luar negeri yang menjual BBM non subsidi di Indonesia mencampurkan BBM yang dijualnya dengan BBN. \"Mereka masih belum berminat untuk campurkan BBN ke BBM yang dijualnya,\" ungkap dia.

Optimis Berkembang

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Said D.Janie merasa optimistis bahan bakar nabati (BBN) jenis biodiesel berkembang pesat di Indonesia. \"Fungsi biodiesel untuk menggantikan bahan bakar minyak (BBM) yang berasal dari fosil, yang lambat laun produksinya akan menurun,\" kata Said.

Said mengatakan, biodiesel dibuat dari bahan baku tanaman jarak dan crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah yang pasokannya sangat banyak tersebar di wilayah Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera. Saat ini BBN biodiesel sudah mulai diaplikasikan pada jenis kendaraan otomatis dan beberapa pembangkit listrik, bahkan pemerintah sudah melakukan sosialisasi dari Aceh hingga Bali untuk penggunaan bahan bakar biodiesel.

Selain memproduksi biodiesel, BPPT juga melakukan penelitian terhadap cara pembibitan tanaman jarak serta membuat rancangan pabrik pembuatan biodiesel dalam skala kecil dengan produksi 3.000-6.000 liter per hari.

Dikatakan Said, biodiesel bermanfaat bagi kendaraan, industri pabrikasi, maupun pembangkit tenaga listrik, pasalnya penggunaan biodiesel sebanyak 10-20% mampu mengurangi emisi gas karbondioksida (CO2) hingga 20-30% dibanding BBM fosil, seperti solar dan premium. \"Selain mengurangi kadar polusi CO2, biodiesel mampu memperlambat proses pemanasan global,\" kata Said.

BERITA TERKAIT

Menhub Optimis Penyerapan Anggaran 90%

      NERACA   Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi optimistis anggaran akan terserap hingga 90 persen sampai…

Investor di Bursa Capai 820 Ribu Investor

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan, jumlah investor saham per bulan Oktober 2018 mencapai 820.000 investor berdasarkan…

Ambisi NFC Raup Pundi Keuntungan Bisnis Digital - Dirikan Perusahaan Baru

NERACA Jakarta – Geliat pertumbuhan ekonomi digital saat ini, menjadi berkah dan peluang bagi PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) untuk…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

CIPS Sebut Pengembangan Vokasi Masih Temui Hambatan

NERACA Jakarta – Pengembangan pendidikan vokasi masih menemui banyak hambatan. Di antaranya adalah mengenai kurangnya fasilitas penunjang, tempat praktik dan…

Perang Dagang Disebut Memperparah Ketidakpastian Global

NERACA Jakarta – Penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat terus terjadi dalam beberapa hari belakangan. Rupiah menguat hingga…

Duta Ayam-Telur Diharapkan Dorong Konsumsi Protein Hewani

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) mengharapkan Duta Ayam dan Telur…