Wapadai Peredaran Uang Palsu

Jelang Lebaran

Sabtu, 03/08/2013

Kebutuhan uang receh saat menjelang Lebaran meningkat, namun masyarakat harus mewaspadai keberadaan uang palsu. Kebutuhan yang terus meningkat ada sebagian orang memanfaatkan momen seperti sekarang ini, dengan menawarkan uang palsu.

”Menjelang Lebaran ini, diprediksi transaksi penukaran uang semakin meningkat. Atas hal itulah, masyarakat patut waspada dengan ulah sejumlah orang tak bertanggung jawab yang menggunakan uang palsu saat transaksi,” tuturnya Kepala Bidang Humas Polda, Hermasnyah.

Ia mengatakan masyarakat harus hati-hati terhadap ulah orang yang tak bertanggung jawab. Karena, menurut dia, bisa saja ada orang yang memakai uang palsu dalam transaksi penukaran tersebut, khususnya pada penukaran uang di jalan.

Menurut dia, semua pihak harus mewaspadai kemungkinan tersebut, baik pembeli maupun penjual jasa penukaran uang harus sama-sama waspada. “Mungkin penukaran uang di jalan saat ini belum ramai. Tetapi mulai H-10, transaksi makin meningkat tajam dan mulai banyak yang melakukan penukaran uang,” tuturnya.

Penjual jasa penukaran uang pecahan kecil terpantau telah mulai marak dilakoni oleh sejumlah kalangan masyarakat. Kebanyakan mereka menawarkan mata uang dengan pecahan Rp5.000 hingga Rp20 ribu yang dijual seharga Rp110 ribu untuk 20 lembar pecahan Rp5.000 dan lima lembar pecahan Rp20 ribu.

Sebelumnya sepanjang Januari hingga April 2013, BI menemukan 144 lembar uang palsu dengan nilai nominal Rp11.470.000, dalam bentuk pecahan Rp100.000 dan Rp50.000. Uang palsu tersebut merupakan sortiran uang yang masuk dari sejumlah bank yang melakukan penukaran uang ke BI, maupun yang langsung disampaikan ke BI.

Keberadaan uang palsu memang terus menghantui masyarakat, sulit membedakan uang palsu dan asli bagi orang yang belum mengerti bagaimana membedakannya, maka dari penukaran uang sebaiknya di tempat-tempat yang sudah disediakan oleh pemerintah, seperti di bank. Waspada terhadap uang palsu harus di tingkatkan supaya masyarakat tidak dirugikan.