Harga Pangan Melonjak, Petani Tetap Melarat - IRONI PENGELOLAAN SEKTOR PANGAN

NERACA

Jakarta – Berkah dari lonjakan drastis harga produk-produk pangan belakangan ini seharusnya dinikmati oleh para petani dalam negeri. Namun ironisnya, kaum tani di Indonesia tetap melarat. Mereka hanya bisa melongo menyaksikan terkereknya harga pangan mulai dari produk hortikultura, palawija, makanan-minuman, hingga daging. Pengelolaan sektor pangan yang buruk disebut sebagai biang keladi dari kenyataan bahwa para petani tak kecipratan rezeki di tengah melambungnya harga komoditas pangan.

Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir menjelaskan bahwa sebagian besar petani memang tidak menikmati dampak kenaikan harga beberapa jenis bahan pangan yang mereka hasilkan. Pasalnya, menurut dia, pemerintah masih mengandalkan bahan-bahan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. \"Karena pemerintah masih mengandalkan impor, maka para petani tidak mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga,\" ujarnya kepada Neraca, Senin (29/7).

Di mata Winarno, kenaikan harga memang lebih menguntungkan para pedagang. \"Jumlah petani ada jutaan, lalu yang membeli (pedagang) hanya sedikit. Kemudian pedagang menjualkan langsung ke konsumen yang jumlahnya banyak, maka rantai bisnis ini selalu dinikmati oleh pedagang bukan petani. Karena posisi petani selalu lemah,\" katanya.

Bahkan, kata dia, pemerintah telah membuka pintu impor untuk 13 produk hortikultura dengan mengeluarkan surat persetujuan impor (SPI) untuk semester II-2013. \"Tercatat sebanyak 260.064 ton produk hortikultura yang masuk ke Indonesia,\" papar Winarno.

Menurut dia, semestinya pemerintah segera menghentikan resep jangka pendek dengan melakukan impor. Ia juga mengatakan bahwa peran Pemerintah dalam perlindungan petani tidak dijalankan dengan baik. Hal tersebut dapat dilihat dari tidak adanya kebijakan yang melindungi petani baik dari segi jaminan pasar dan harga.

Terkait hal ini, Bustanul Arifin, pakar pangan dan pertanian, mengungkapkan, dalam ekonomi pertanian, dikenal istilah elastisitas transmisi harga. Untuk hampir semua komoditas pertanian, elastisitas transmisi harga ini sangat rendah. Berkisar 0.1 dan 0.3. Maksimal adalah 0.5. Jadi, kalau harga di tingkat konsumen naik Rp 100, maka harga di tingkat produsen cuma naik Rp 10.

Mengapa elastisitas transmisi harga sampai rendah? Bustanul menjelaskan, hal itu berhubungan dengan struktur pasar dan sistem tataniaga komoditas pangan dan pertanian. Contoh sederhananya, kalau harga cabe naik sampai Rp 100.000 per kilogram, harga cabe di petani paling cuma Rp 20.000. \"Melihat gap harga petani dan di pasaran yang jauh seperti itu memang spekulan/pedagang yang lebih banyak diuntungkan, dan itu ketidakadilan yang harus segera dibenahi,\" tambahnya.

Secara terpisah, Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf mengatakan hal yang aneh terjadi di Indonesia adalah petani tidak dapat menikmati keuntungan yang besar atas kenaikan harga pangan yang diproduksi oleh petani ini.

“Margin keuntungan petani dan pengusaha sangatlah besar, dimana keuntungan petani sangatlah kecil dibandingkan keuntungan yang diterima oleh pengusaha. Oleh karenanya, kenaikan harga barang pangan ini sangat menguntungkan pengusaha dan spekulan, kemudian hal ini menjadi suatu ketidakadilan yang terjadi dalam sektor pangan ini,” katanya.

Syarkawi menuturkan seharusnya kementerian terkait yaitu Kementerian Pertanian (Kementan) lebih mementingkan dan melindungi kepentingan petani. Dia pun mengingatkan pemerintah agar lebih mementingkan petani ketimbang kepentingan pengusaha dan spekulan.

“Banyaknya pelaku usaha dan spekulan yang melakukan penyimpangan dalam sektor pangan ini, seperti contohnya melakukan penimbunan barang pangan dan melakukan kejahatan kartel pangan,” ujarnya. agus/mohar/bari/munib

Related posts