Lagi, Pemerintah Tak Restui Kenaikan Harga Elpiji

NERACA

Jakarta - PT Pertamina (Persero) masih belum dapat restu dari Pemerintah terkait dengan rencana kenaikan harga gas elpiji 12 kg. Hal tersebut seperti yang diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik. Ia mengatakan bahwa pasca lebaran bukanlah waktu yang pas untuk menaikkan harga gas elpiji pasalnya masyarakat masih terkena efek dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). \"Harga elpiji belum waktunya dinaikkan masyarakat berat baru habis dinaikkan BBM,\" ujar Jero di Jakarta, Senin (29/7).

Menurut dia, jika harga gas dinaikkan pasca lebaran, maka inflasi akan semakin tidak terkendali mengingat harga-harga yang sudah naik sebelum lebaran. \"Belum waktunya. Itu kan menurut Karen belum dibahas. Rakyat baru kena kenaikan BBM, efek inflasi masih ada, efek psikologis masih. Apalagi sekarang ada lebaran, jangan dulu sekarang, masih ada cara lain untuk mengatasinya,\" jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengaku tengah membahas soal persiapan pasokan tabung gas elpiji dan rencana kenaikan harga elpiji. \"Nanti kami sedang mau bahas sekarang (harga). Tapi stok elpiji ada,\" pungkas dia. Saat ini, harga jual gas elpiji 12 kg di pasar sebesar Rp 72.500 per tabung. Dengan prosentase kenaikan sebesar itu, jika dihitung, kenaikan harga elpiji sekitar Rp 7.250- Rp 10.875 per tabung. Dengan begitu, harga jual bakal merangkak naik menjadi Rp 79.750- Rp 83.375 per tabung.

Dalam beberapa tahun belakangan, Pertamina selalu mengalami kerugian karena menjual gas elpiji 12 kg terlalu murah. Maka dari itu, Pertamina berencana menaikkan harga antara 10-20%. Disetiap kilogram elpiji 12 kg yang dijual, Pertamina menelan kerugian hingga Rp 5.000. Nilai iniyang diberikan langsung oleh Pertamina, bukan oleh negara.

Dilanjutkan Karen, kerugian besar tersebut akan mengganggu kinerja Pertamina. Termasuk dalam hal belanja modal (capital expenditure/capex). Apalagi, negara-negara Timur Tengah masih mengalami gejolak yang suatu saat dapat menyebabkan harga gas melambung tinggi. \"Ini kan situasi di Timur Tengah tidak menentu. Kemudian, waktu stabil saja kita sudah alami kerugian hampir Rp 18 triliun, itu kan mengurangi capexnya Pertamina,\" ujarnya.

Menurut Karen, gas elpiji non subsidi lebih banyak dikonsumsi masyarakat menengah ke atas. Dengan kata lain, seandainya dinaikkan tidak akan memberatkan masyarakat kalangan menengah ke bawah. \"Ini kan sebenarnya buat masyarakat menengah ke atas,\" tegas dia.

Karen menegaskan, kenaikan harga gas elpiji non subsidi tersebut merupakan wewenang korporasi bukan atas persetujuan pemerintah. Namun, lanjut dia, keputusan tersebut telah disepakati pemegang saham yakni Menteri BUMN Dahlan Iskan. \"Ini kan hak korporasi, itu kan yang elpiji non PSO. itu juga persetujuan RUPS dan pak Dahlan juga sudah menyetujui,\" ujar dia.

Kenaikan Bertahap

Wakil Presiden Elpiji dan Produk Gas Pertamina Gigih Wahyu Hari Irianto menjelaskan bahwa pihaknya akan menaikkan harga elpiji kemasan tabung 12 kg secara bertahap hingga mencapai tingkat keekonomiannya. \"Kalau bicara besaran dan waktu terserah saja. Kami ingin naiknya secara bertahap hingga mencapai harga keekonomian,\" kata Gigih.

Menurut dia, pihaknya sudah meminta kenaikan harga elpiji 12 kg sejak lama, namun belum juga disetujui. Saat ini, lanjutnya, pihaknya berharap kenaikan dilakukan setelah Lebaran 2013. Gigih mengatakan, kenaikan harga elpiji sudah masuk dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2013 yang disetujui Kementerian BUMN.

Apalagi, tambahnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga sudah meminta agar dilakukan pengurangan subsidi yang tidak perlu seperti untuk elpiji 12 kg. Menurut dia, selain merugi, Pertamina juga menyubsidi masyarakat golongan mampu. \"Tidak etis kami harus menyubsidi masyarakat menengah ke atas,\" katanya.

Di sisi lain, lanjutnya, pemerintah sudah menyediakan elpiji 3 kg bersubsidi bagi masyarakat menengah ke bawah. Pada awal 2013, Pertamina mengusulkan kenaikan harga elpiji 12 kg sebesar 36,2 persen mulai Maret 2013 kepada pemerintah. Harga jual elpiji 12 kg direncanakan naik dari sebelumnya Rp5.850 menjadi Rp7.966,7 per kg atau naik Rp2.116,7 per kg. Dengan demikian, harga elpiji dari agen ke konsumen akan naik dari Rp70.200 menjadi Rp95.600 atau naik Rp25.400 per tabung kemasan 12 kg.

Kenaikan harga itu, kalau diberlakukan Maret 2013, akan mengurangi kerugian Pertamina dari bisnis elpiji 12 kg sebesar Rp1,1 triliun atau menjadi tinggal Rp3,9 triliun. Pertamina terakhir kali menaikkan harga elpiji 12 kg pada Oktober 2009 sebesar Rp100 per kg dari sebelumnya Rp5.750 menjadi Rp5.850 per kg.

Related posts