Produksi IKM Makanan Naik Hingga 50% - Jelang Lebaran 2013

NERACA

Jakarta - Dua pekan menjelang Hari Raya Idul Fitri, produksi industri kecil dan menengah sektor makanan, meningkat secara keseluruhan sampai 50%, khususnya kue khas lebaran. Walaupun di tengah naiknya beberapa bahan pokok dan paska naiknya harga bahan bakar bersubsidi.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Euis Saedah mengungkap potensi industri kecil dan menengah di sektor makanan ringan masih prospektif, mengingat jumlah penduduk yang besar sekitar 250 juta jiwa.

\"Pelaku usaha di sektor makanan ringan, sedang bersaing ketat dengan sesama pelaku usaha lokal maupun dengan produk impor, baik itu legal maupun ilegal, dari China, Malaysia, Thailand, atau Jepang,\" jelas Euis saat dihubungi Neraca, Senin (29/7).

Untuk itu, lanjut Euis, perlu peningaktan daya saing yang salah satunya dengan sistem quality, cost, and delivery. Menurut Euis, pelaku usaha industri kecil menengah di sektor pangan juga harus memenuhi berbagai ketentuan, terutama yang menyangkut keamanan pangan seperti pencantuman nama produk, nama perusahaan, berat bersih, tanggal kadaluarsa, komposisi dan kandungan nutrisi, Standar Nasioanal Indonesia atau SNI, hazard analitycal critical control point (HACCP), dan tanda halal bagi yang sudah memenuhinya. \"Syarat ini sering tidak dihiraukan pelaku usaha,\" ujarnya.

Selain itu, menurut dia, peran kemasan juga menentukan. \"Kemasan bukan hanya bahan pembungkus, tapi sarana komunikasi dan informasi tentang produk tersebut kepada konsumen. Jika disepelekan akan tidak bisa bersaing dengan produk impor yang kemasannya lebih baik,\" katanya.

Saat ini, lanjut Euis, menargetkan pertumbuhan industri kecil sepanjang sampai akhir tahun ini mencapai 8%,lebih naik sedikit dari tahun lalu yang hanya mencapi 6%. Euis memaparkan, untuk industri mamin ketersediaan bahan baku menjadi komponen utama.Industri mamin dinilai mampu menjadi penopang pertumbuhan pada tahun ini karena jumlah pelaku sebanyak 30% dari total IKM. Total IKM dalam negeri, mencapai 4 juta.

Menyumbang 15%

Di tempat berbeda, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman menyatakan sumbangan IKM baru 15% dari total produksi nasional. Padahal jumlah IKM yang bergerak di sektor makanan-minuman sangat banyak dibandingkan perusahaan besar. \"Pemain industri besar di sektor makanan-minuman jumlahnya hanya 0,5 % dibanding IKM,\" ujarnya.

Timpangnya perbandingan produksi antara IKM dan industri besar disinyalir akibat rendahnya kualitas pemasaran pelaku usaha kecil. Selain volume produksi rendah, pengusaha kecil tidak memiliki strategi penetrasi pasar yang jitu. \"Mereka kebanyakan mengandalkan trial dan error saja dalam memasarkan produk, kalau laku alhamdulilah, kalau tidak laku ya berhenti,\" kata Adhi.

GAPMMI menggandeng Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bersama lembaga riset IPSOS menggelar pelatihan pemasaran bagi IKM. Materi yang diberikan misalnya riset pasar sederhana, pengemasan produk, dan memetakan kebutuhan konsumen.

\"Dengan pelatihan survei ini, kita memberi IKM itu materi planning usaha, karena dengan planning setidaknya 50 % bisa membantu mereka membangun brand dan meningkatkan keberhasilan dalam berusaha,\" ungkap Adhi.

Sejauh ini, UKM makanan-minuman kebanyakan bergerak memproduksi makanan ringan dan minuman kemasan. Bila pengusaha kecil bisa bertahan dari serbuan produk serupa dari China, Vietnam, dan Thailand, Adhi percaya pertumbuhan industri makanan bisa stabil di angka 8%. \"2013 ini kita target pertumbuhan 8 %, dengan Rp 750 triliun omset target tahun ini,\" tegasnya.

Related posts