Fokus Ekonomi Daerah

Oleh : Tumpal Sihombing

Presiden Direktur BondRI

Menurut pembaca, apa yang akan terjadi bila “an unstoppable force” bertemu dengan “an immovable object”? Respon para pembaca boleh jadi akan beragam dalam pikiran masing-masing. Ini mungkin bisa dikaitkan dengan kondisi peran pusat dan daerah, yang secara spesifik difokuskan pada subjek perekonomian dan perimbangan keuangannya.

Sering muncul opini yang menyatakan bahwa geliat perekonomian saat ini tidak bersifat fundamental karena lebih disebabkan gejolak kondisi eksternal. Ini merupakan suatu opini yang naif dan subjektif. Sebagai perekonomian yang menganut sistem ekonomi terbuka, apabila efeknya telah menyebabkan perekonomian mengarah ke profil risiko kredit tinggi, maka hal itu tentu telah menyentuh aspek fundamental, tak soal dari manapun asal permasalahan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Sejarah telah mencatat bagaimana Indonesia pernah mengalami krisis moneter sistemik yang berakibat fundamental. Apapun yang terkait dengan definisi sistem, maka exposure terhadap risiko sistemik tak akan mungkin dapat dihilangkan atau dihindari, dalam hal ini termasuk perekonomian Indonesia jika dikaitkan dengan kondisi gejolak eksternal saat ini.

Perihal eksternal dapat berdampak sistemik dan fundamental bagi perekonomian Indonesia, at anytime. De facto, perekonomian domestik sudah terpengaruh kondisi pelemahan ekonomi global. Bank Dunia telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di rentang 6,0%-6,3%. Bukan tidak mungkin prediksi itu akan dipangkas lebih rendah lagi jika sikon tidak membaik. Semua hal yang menyentuh sovereign dan berpotensi sistemik, akan berdampak fundamental dalam konteks perekonomian.

Salah satu kelemahan perekonomian Indonesia saat ini adalah lemahnya integritas struktur internal perekonomian domestik, terbukti dari timpangnya perimbangan kontribusi/tanggung jawab antara pemerintah pusat dan daerah. Apabila pemerintah fair dalam hal perimbangan partisipasi/kontribusi pusat-daerah, boleh jadi gejolak eksternal akan tetap menjalar ke domestik, namun dengan daya-hempang yang lebih lama dan lebih kuat bertahan tentunya dibanding kondisi kontribusi yang timpang.

Fokus pengembangan ekonomi daerah yang berorientasi jangka menengah dan panjang akan berpotensi memberikan efek multiplier yang signifikan bagi perekonomian nasional. Berdasarkan data Bappenas, potensi kontribusi pembangunan di daerah akan dapat menggerakan 60% perekonomian nasional. Ini sangat signifikan dan peran pembangunan di daerah ini akan sangat menentukan kesuksesan perekonomian negara. Pertumbuhan ekonomi nasional tidak akan maksimal jika kontribusi daerah belum dioptimalkan. Revisi turun pertumbuhan ekonomi saat ini lebih disebabkan perbedaan dalam pengambilan keputusan serta perumusan kebijakan antara pemerintah pusat vs daerah perihal perimbangan partisipasi serta kontribusi keduanya bagi perekonomian secara agregat.

Ada elemen dalam tim perumus kebijakan perekonomian di pemerintahan yang sangat mendukung dan berharap pengembangan ekonomi daerah agar segera digalakkan. Di sisi yang berbeda, ada juga elemen yang sangat kukuh dalam mengutak-atik ranah fiskal-moneter di tingkat pusat dengan harapan dapat mengatasi tantangan perekonomian yang dihadapi saat ini. Tarik-ulur pusat vs daerah ini akan terus berlangsung selama “conflicting interest” yang mewakili “different agenda” masih ada dalam tubuh tim perumus kebijakan ekonomi nasional.

Lalu apa yang akan terjadi apabila“an unstoppable force” bertemu dengan “an immovable object”? Jawabannya adalah keduanya harus rela masuk ke dalam suatu fasa akhir, yaitu state of surrender (saling mengalah untuk win-win solution). Ilustrasi ini mungkin bisa memberikan ide praktis bagi para tim perumus kebijakan ekonomi nasional di tingkat pusat maupun daerah.

Related posts