Sebagian Sapi Impor Tak Penuhi Syarat Berat Badan - Hasil Seleksi Badan Karantina Kementan

NERACA

Jakarta - Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian Banun Harpini menyatakan bahwa masih ada sebagian sapi impor yang didatangkan dari Australia yang tidak memenuhi persyaratan salah satunya adalah persyaratan berat badan. Ia menjelaskan bahwa pada gelombang pertama pengiriman sapi potong yang dilakukan pada 25 Juli lalu dan diperkirakan akan tiba di Indonesia pada 30 Juli mendatang ada yang tidak memenuhi persyaratan.

\"Data kami, sapi impor yang berangkat dari Australia dalam pengapalan pertama berangkat pada 25 Juli, hanya terdapat 1.478 ekor, padahal awalnya diperkirakan 1.600 ekor. Dari hasil seleksi, ada beberapa yang tidak memenuhi persyaratan seperti masalah berat badan,\" ujar Banun di Jakarta, Senin (29/7).

Ia mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama sapi potong pesanan Pemerintah Indonesia tidak diloloskan adalah terkait dengan berat badan. Standarnya, hewan ternak itu seharusnya berbobot minimal 400 kilogram. Namun demikian, Banun mengklaim bahwa pihaknya sudah langsung menghubungi otoritas Karantina Australia untuk memeriksa sapi siap potong itu. Tujuannya agar tudingan hormon seperti yang menimpa daging Bulog tak terjadi.

\"Kami sudah kirim dokter hewan melakukan tindakan karantina di Darwin, Australia. Di samping itu, selain memeriksa sebelum shipment, dokter kami ikut dalam kapal mengikuti perjalanan kapal, tidur sama sapinya,\" tandasnya. Menurut dia, pihaknya telah menerapkan pengawasan dan penetapan perizinan yang ketat terkait dengan daging impor.

Syarat-syarat tersebut antara lain. Pertama, Penerbitan Rekomendasi Persetujuan Pemasukan (RPP) daging sapi dengan mensyaratakan negara asal daging sapi harus bebas dari penyakit ekspotik atau penyakit yang tidak terdapat di Indonesia. Kedua, Daging harus berasal dari unit usaha yang memenuhi persyaratan sistem jaminan keamanan pangan Kementan dan jaminan kehalalan yang disetujui Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).

Jaminan keamanan pangan dan kehalalan harus dibuktikan dalam bentuk sertifikat kesehatan yang diterbitkan otoritas kompeten di negara asal dan sertifikat halal yang diakreditasi LPPOM MUI. \"Persyaratan tersebut diatas belaku setiap pelaku importasi daging termasuk daging Perum Bulog,\" ungkapnya.

Terhadap pemasukan daging sapi oleh perum Bulog telah dilakukan tindakan karantina di tempat pemasukan yaitu Bandara Soerkarno Hatta dan Pelabuhan Tanjung Priok. Pemeriksaan tersebut berupa kelengkapan, kebenaran dan keabsahan dokumen persyaratan (sertifikasi kesehatan dan kehalalan).

Pemeriksaan fisik terhadap kesesuaian kemasan dan isi serta label. Pemeriksaan kesehatan daging impor dari aspek hama penyakit. Pemeriksaan terhadap residu dan cemaran bahan berbahaya dilakukan secara berkala dan bersifat monitoring. \"Dengan demikian daging yang diimpor Bulog dijamin telah memenuhi kriteria aman, sehat, utuh dan halal untuk dikonsumsi masyarakat,\" tukas dia.

Isu Negatif

Pemerintah harus benar-benar kerja keras agar komoditas impor khususnya daging dari Australia benar-benar terbebas dari penyakit. Pasalnya isu negatif sempat menerpa daging impor yang dilakukan oleh Bulog. Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengungkapkan, saat ini muncul isu-isu negatif bahwa daging yang diimpor Bulog tidak halal dan mengandung residu horman yang melebihi ambang batas. \"Awalnya hiruk pikuk masalah daging bagaimana kita fokus agar harga daging turun, ambang batasnya harus di bawah Rp 100.000 per kilogram,\" ujar Rusman.

Saat ini tujuan pemerintah menurunkan harga daging melalui operasi pasar daging Bulog, ternyata dihadang dengan isu-isu tidak halal dan mengandung residu hormon. \"Sekarang muncul isu kalau daging Bulog banyak mengandung hormon yang dapat menyebabkan kanker dan penyakit lainnya, isunya terlalu serem,\" ungkap Rusman.

Rusman menegaskan, isu-isu tersebut tidak benar. Karena daging yang diimpor oleh Bulog sama dengan daging-daging yang diimpor perusahaan swasta selama ini. \"Daging dari Bulog ini sama yang kita konsumsi yang diimpor dari pihak swasta selama bertahun-tahun, aturannya sama, pengawasannya sama, asal dagingnya sama (Australia), daging beku, dan dijamin kehalalnya,\" tegas Rusman.

Ia menyatakan bahwa Pemerintah menjamin daging yang diimpor oleh Bulog dan dijual di pasar tradisional dan rumah-rumah kualitasnya sama dengan daging yang diimpor untuk hotel dan restoran, dan halal.

Lebih lanjut dikatakan Rusman, Pemerintah lebih memilih Australia sebagai negara importir karena antara Indonesia dengan Australia mempunyai kedekatan geografis. \"Karena secara geografis Australia lebih dekat sama Indonesia, nggak sampai mingguan. Empat hari sampai, kalau dalam waktu normal,\" ujar Rusman.

Bahkan lanjut Rusman, waktu tempuh Australia ke Indonesia bakalan lebih cepat dengan menggunakan pesawat. Hanya sekitar tujuh jam waktu tempuh daging dan sapi bisa sampai Indonesia. Alasan lain, lanjut Rusman, Australia dianggap negara yang aman daging sapinya. Jadi negara lain yang menjadi sumber impor masih diragukan keamanan dari segi kesehatan.

\"Dia (Asutralia) salah satu negara yang oleh Indonesia dianggap aman, karena kita menganut, daging hewan yang diimpor dari luar negeri sifatnya bebas secara country. Bebas dari segala macam, penyakit. Gak bisa dari Brazil dan India. kita tidak boleh ilegal, karena sistem yang dianut, country base trees,\" ucap Rusman.

Related posts