Pelemahan Rupiah Momok Bagi Pelaku Pasar - Sentimen Lesunya Pasar Sepekan

NERACA

Jakarta- Selain faktor eksternal dari imbas spekulasi The Fed dan sentimen eksternal lainnya, dari dalam negeri pelemahan rupiah masih menjadi momok bagi pelaku pasar. Dari data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dilansir Bank Indonesia, dalam sepekan terakhir rupiah melemah 195 poin (1,93%) ke posisi 10.265 pada Jumat (26/7) dibandingkan pekan sebelumnya 10.070.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, laju rupiah yang semakin terperosok semakin dalam menimbulkan ekspektasi bahwa Bank Indonesia (BI) akan menaikkan kembali BI rate dan akan mengganggu kinerja dari emiten yang memiliki eksposur biaya dalam mata uang dolar. “Begitu pun dengan adanya berita kenaikan suku bunga untuk kartu kredit menambah sentimen negatif.” katanya di Jakarta, Senin (29/7).

Tak ayal, sambung dia, kondisi tersebut juga ikut mendorong pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sebelumnya sempat menguat. Sepanjang perdagangan pekan kemarin, asing yang sebelumnya sudah berkurang dalam melakukan nett sell, kembali meningkatkan aksi jual bersih (nett sell) yang tercatat sebesar Rp230,53 miliar atau lebih tinggi dari sebelumnya senilai Rp120,42 miliar.

Selain itu, bursa saham Asia bergerak variatif setelah merespon rilis data di China membuat mood pelaku pasar kembali berubah. “Dari pola teknikal yang terbentuk, laju rupiah yang masih longsor, dan kondisi memerahnya bursa saham Asia juga mendukung untuk pelemahan.” jelasnya.

Menurut dia, rupiah sempat menguat tipis terimbas kenaikan yen Jepang dan dolar Australia setelah partai berkuasa di Jepang (Liberal Democratic Party) mampu meraih mayoritas dalam pemilu tingkat tinggi seiring langkah PM Shinzo Abe untuk mengubah kebijakan ekonomi. Selain itu, penguatan rupiah terjadi terimbas kenaikan Yuan China setelah People\\\'s Bank of China (PBoC) mengakhiri kebijakan batas bawah biaya pinjaman yang sebelumnya ditetapkan 30% di bawah suku bunga acuan.

Sentimen positif lainnya, kata dia, dari pertemuan G20 menegaskan komitmen untuk lebih fokus pada kebijakan yang lebih memacu pertumbuhan ekonomi. Namun, kabar-kabar positif tersebut tidak bertahan lama seiring langkah BI yang melonggarkan laju rupiah di pasar offshore. “Apalagi hal ini dipertegas oleh salah satu pejabat BI bahwa BI memang membiarkan rupiah melemah secara bertahap.” ungkapnya.

Dirinya mengungkapkan, pelemahan rupiah juga dipicu oleh rilis perlambatan data Foreign Direct Investment (FDI) untuk kuartal kedua 2013, di mana pertumbuhan tersebut masih lebih rendah dari periode sebelumnya. Kemudian rupiah semakin anjlok tak tertahankan seiring melemahnya dolar Australia setelah rilis inflasi yang di bawah ekspektasi dan depresiasi Yuan setelah rilis HSBC manufacturing PMI yang terkontraksi.

Belum adanya rilis dari BI mengenai langkah yang akan diambil untuk menahan pelemahan Rupiah membuat pelaku pasar berekspektasi Rupiah akan terdepresiasi kembali. Padahal laju nilai tukar euro cukup positif dengan rilis data-data ekonominya. Terlebih dengan adanya penilaian BI bahwa rupiah sedang mencari keseimbangan baru dan menteri keuangan melihat pelemahan rupiah masih cukup aman sehingga memberikan kesan rupiah memang sengaja dibiarkan melemah.

“Belum lagi, rilis pertumbuhan data penjualan rumah baru dan manufacturing PMI AS yang menimbulkan spekulasi percepatan stimulus dan kenaikan suku bunga antarbank di China juga melemahkan rupiah.” imbuhnya.

Related posts