Opsi IPO ANTV dan TV One Mengerek Harga Saham VIVA - Mengaburkan Wacana Penjualan

NERACA

Jakarta – Rencana grup Bakrie menutupi utang, tidak lagi diambil lewat pelepasan saham anak usaha PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) melalui wacana akuisisi Grup MNC atau CT Corp. Pasalnya, perseroan lebih memilih meningkatkan nilai pemegang saham dua stasiun televisi yang dimilikinya, yakni ANTV dan TV One dengan mekanisme penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO), “VIVA berencana meningkatkan nilai pemegang saham dengan beberapa cara, salah satunya dengan mendivestasikan anak usaha televisi, TV One maupun ANTV yang memiliki kinerja sangat baik. Kami segera memutuskan pilihan yang terbaik, bisa juga melalui IPO, kami sedang mempertimbangkan berbagai opsi,” kata Direktur Utama VIVA Erick Thohir di Jakarta, Kemarin.

Adanya wacana IPO ANTV maupun TV One kembali mengaburkan wacana penjualan ANTV kepada MNC Group yang santer dikabarkan media massa beberapa waktu lalu. Pernyataan ini pun menjadi kejelasan akan keraguan Grup Bakrie melepas anak usahanya ANTV ataupun TV One.

Sebelumnya, Komisaris Utama VIVA Anindya Bakrie pernah bilang, masih pikir-pikir melepas sebagian atau bahkan seluruh saham PT Visi Media Asia Tbk. Namun rencana tersebut juga belum berpikir matang untuk melepas saham tersebut, “Kita pastikan bahwa VIVA sangat prospektif, Januari-Februari saja revenue 35-40% lebih tinggi. Ini prospeknya masih bagus jadi belum ada ke arah lepas saham, ini masih gosip. Karena namanya perusahaan public,”tandasnya.

Dia menuturkan, ditengah positifnya pertumbuhan ekonomi menjadi pasar yang menjanjikan bagi bisnis di industri media ini. Oleh karena itu, perseroan belum berpikir melepas saham. Dia menambahkan, semua media selalu berpikir untuk bisa menjadi lebih baik salah satunya dengan melakukan kerjasama. \"Bisa berpikir lebih baik. Kerjasama antar media perlu ditingkatkan, contohnya Bakrie Telecom dengan media lain, saya rasa biasa itu sehat,\" kata Anindya.

Sesuai Harga

Sebaliknya, Aburizal Bakrie sebagai pemilik kelompok usaha Bakrie menyatakan siap menjual perusahaan miliknya dengan catatan jika ada harga yang sesuai. Hal tersebut terungkap dalam artikel Financial Times yang mewawancarai Aburizal Bakrie soal pencapresan dan situasi bisnisnya, Rabu (3/4). Financial Times membeberkan, Grup Bakrie sedang berencana membeli kembali saham perusahaan tambangnya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari Bumi Plc, namun masih kekurangan uang. Sehingga, beberapa analis menilai, Grup Bakrie harus menjual salah satu perusahan medianya demi mendapatkan uang. \"Semuanya dijual di harga yang tepat,\" kata Aburizal seperti dikutip dari Financial Times.

Asal tahu saja, santer dikabarkan adanya penawaran dari MNC Group kepada VIVA terkait pengambilalihan ANTV senilai Rp6 triliun. Hary Tanoe, bos MNC Group memang sudah sejak lama mengincar seluruh media milik VIVA Group, khususnya TV One dan ANTV. Bahkan, sempat dikabarkan Hary Tanoe menawar TV One dan ANTV sekaligus senilai Rp10 triliun. TV One dan ANTV yang memiliki kinerja baik memang menjadi incaran sejumlah bos media.

Para Pembeli

Selain Hary Tanoe, bos Para Group Chairul Tanjung dan SCTV Group Eddi Sariaatmadja sempat ikutan mengincar TV One dan ANTV. CEO CT Corp Chairul Tanjung mengungkapkan, dirinya tengah menawar pembelian saham VIVA sebesar US$ 1,8 miliar secara tunai atau setara Rp17,46 triliun dengan kurs Rp9.700 per dolar. Disebutkan, pihak CT Corp mengklaim salah satu penawar tertinggi, “Proposal kami adalah membeli semua sahamnya, saku uang saya masih dalam,”ujarnya.

Selain itu, kata Chairul Tanjung, pihaknya menilai mampu membeli 100% saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA). Hanya saja, kesepakatan ini belum selesai. Nantinya, dalam membeli 100% saham VIVA tersebut, CT Corp akan menggunakan dana pinjaman baru.

Namun, kabar terakhir, Hary Tanoe merupakan pihak yang paling berpeluang mengambil alih TV One maupun ANTV. Pernyataan Erick Thohir tersebut memberikan nuansa baru terkait rencana VIVA Group terhadap TV One dan ANTV. Para pemegang saham VIVA kemungkinan besar memasukkan opsi IPO dalam rencana divestasi TV One maupun ANTV.

Ketika dikonfirmasi, Corporate Secretary VIVA Neil Tobing tidak membantah maupun membenarkan kabar tersebut. “Ya itu kan terserah pemegang saham. Maksud pernyataan Pak Erick sebenarnya adalah menekankan bahwa pertumbuhan kinerja keuangan dan operasional anak-anak perusahaan sangat baik. Bahkan kalau di IPO-kan pun juga siap,” ujar Neil Tobing.

Pada semester I-2013, VIVA mencatat kenaikan laba bersih sebesar 61,3% dari Rp17,3 miliar pada semester I-2012 menjadi Rp27,9 miliar pada semester I-2013. Kenaikan laba didorong oleh keberhasilan VIVA mencatat pendapatan iklan tertinggi di industri media.

Pendapatan VIVA tercatat sebesar Rp721,8 miliar di semester I-2013, naik 32,2% dari periode yang sama tahun 2012 sebesar Rp 545,8 miliar. Pertumbuhan 32,2% tersebut, jauh melebihi kenaikan pendapatan iklan 10 TV Nasional atau industri media yang sebesar 16,7% menjadi Rp7,8 triliun di semester I-2013. (bani)

Related posts