JCR dan Realisasi Investasi

Oleh : Prof Firmanzah PhD

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan

Di tengah perlambatan ekonomi dunia, investasi di sektor riil dan infrastruktur sangat dibutuhkan oleh semua negara. Investasi yang tumbuh akan menggerakkan perekonomian, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat. Selain itu juga, pendapatan yang diterima akan memberikan jaminan penyerapan output nasional yang dihasilkan dan meningkatkan pendapatan negara melalui sektor perpajakan. Tidaklah mengherankan apabila masing-masing negara berupaya menarik investasi sebesar-besarnya untuk mengompensasi tren pelemahan pasar ekspor dunia.

Kondisi dan iklim investasi di Indonesia terus membaik seiring dengan terjaganya peringkat investasi Indonesia dan realisasi investasi pada kuartal II-2013. Baru-baru ini, lembaga pemeringkat yaitu Japan Credit Rating Agency, Ltd. (JCR) mempertahankan peringkat Investasi Indonesia (Sovereign Credit Rating) pada tingkat BBB-/stable outlook.

JCR menyampaikan 3 (tiga) faktor kunci yang mendukung keputusan afirmasi tersebut. Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan dan didukung oleh permintaan domestik yang solid. Kedua, beban utang publik yang rendah sebagai hasil dari pengelolaan fiskal yang berhati-hati. Ketiga, ketahanan terhadap tekanan eksternal.

Dalam analisisnya, JCR juga menyampaikan ulasan bahwa Indonesia akan tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan kesinambungan fiskal pada tahun-tahun mendatang. Di sisi lain, Indonesia perlu memperhatikan defisit transaksi berjalan yang dialami neraca pembayaran belakangan ini. Tantangan Indonesia saat ini adalah bagaimana menyeimbangkan dan mengurangi defisit perdagangan melalui serangkaian kebijakan import-substitution melalui percepatan industrialisasi dan ekstensifikasi pasar ekspor non-tradisional.

Sementara itu, realisasi investasi Indonesia juga terus meningkat ketika banyak negara di Asia mengalami penurunan investasi di sektor riil. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merilis nilai investasi pada semester I-2013 (Januari-Juni) yang mencapai Rp192,8 triliun atau meningkat 30,2% dibandingkan semester 1-2012 sebesar Rp148,1 triliun. Nilai tersebut merupakan 49,4% dari target realisasi penanaman modal di 2013 sebesar Rp 390,3 triliun. Realisasi tersebut terdiri dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp60,6 triliun dan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp132,2 triliun.

Upaya untuk terus meningkatkan investasi dilakukan melalui serangkaian kebijakan dari mulai penyederhanaan prosedur dan perizinan investasi, pembukaan sejumlah investasi yang tadinya masuk dalam daftar negatif investasi (DNI) dan kebijakan lain seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Terus mengalirnya investasi di Indonesia diharapkan mampu untuk memperkuat basis industri nasional sehingga nilai tambah produk nasional akan semakin tinggi. Selain itu, ke depannya hal ini akan meningkatkan nilai ekspor nasional yang selama ini masih mengandalkan pada ekspor bahan mentah terutamanya produk mineral, tambang dan perkebunan.

Related posts