Depresiasi Rupiah Bebani Industri Mamin - Harga Jual Bakal Naik Hingga 5%

NERACA

Jakarta - Terdepresiasi atau melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah terjadi dalam beberapa pekan ini membuat resah sebagian masyarakat, karena dengan melemahnya rupiah akan sangat terasa terhadap pelaku industri yang mengandalkan atau memakai bahan baku impor untuk proses produksinya. Apabila pelaku usaha jenis terakhir ini sudah tertekan, industri domestik juga bakal terpukul dan yang paling terakhir adalah kenaikan harga yang akan dibebani ke konsumen.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi Siswaja Lukman mengungkap Industri makanan dan minuman (mamin) sangat terbebani dengan pelemahan nilai tukar rupiah, karena 70% bahan baku industri mamin berasal dari impor. Jadi jangan kaget apabila setelah hari raya Idul Fitri ini, harga produk mamin bisa naik 3 sampai 5%.

\"Harga bahan baku yang diimpor mengikuti kurs, sehingga jika kurs melemah harganya tentu berpotensi meningkat sudah sekitar tiga bulan ini depresiasi nilai tukar rupiah terjadi. Bahkan rupiah sempat melemah sekitar 10 % atau mencapai Rp10.400,\" kata Adhi saat dihubungi Neraca di Jakarta akhir pekan lalu.

Untuk itu dia mengimbau kepada pemerintah untuk segera menstabilkan kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika tersebut. Dia berkata jika kurs rupiah masih di bawah Rp10 ribu maka hal itu masih relatif aman bagi produsen. Tapi jika sudah lebih dari itu, pengusaha bakal melakukan kalkulasi harga yang disesuaikan dengan kenaikan biaya produksi. Menurut Adhi pelemahan rupiah lebih berdampak pada industri makanan dan minuman ketimbang kenaikan BBM.

Ekspor Stagnan

Di tempat berbeda, Sekjen Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Franky Sibarani mengungkap pelemahan rupiah ini juga berisiko membuat kinerja ekspor industri seperti makanan dan minuman cenderung stagnan.Bahkan menurutny sebelum adanya pelemahan ini kinerja ekspor makanan dan minuman, sudah mengalami penurunan.“Kalau tanpa melihat pelemahan ini, ekspor kami pada kuartal I/2013 sudah turun 11,81% secara year-on-year (y-o-y). Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini akan semakin menghambat pertumbuhan kinerja ekspor kami,” kata Franky.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai ekspor makanan olahan pada kuartal I/2013 mencapai US$159,565 juta. Adapun untuk ekspor minuman pada periode yang sama mencapai US$36,188 juta.

Dia menambahkan pelemahan nilai tukar mata uang ini hampir terjadi di semua negara, tidak hanya Indonesia. Selama harga di pasar internasional bisa dinegosiasikan, maka nilai ekspor tidak akan terlalu anjlok.Pelemahan nilai tukar rupiah ini mempengaruhi ongkos produksi hingga 70% terutama dalam pembelian bahan baku. Dia mencontohkan perusahaan sirup yang membutuhkan 60% bahan baku dari gula industri impor.“Sampai sejauh ini mereka masih menggunakan stok lama untuk berproduksi. Kemungkinan pada September baru mulai dilakukan transaksi impor gula,” ujar Franky.

Sementara itu, Vice President PT Indofood Sukses Makmur Franciscus Welirang. Dia mengungkapkan pihaknya telah berencana menaikkan harga jual produk tepungnya sekitar dua persen. Penyesuaian itu terpaksa dilakukan karena kenaikan harga bahan baku gandum. Seperti yang diketahui saat ini bahan baku gandum dipenuhi dari impor. \"Harga gandum internasional naik lalu diikuti dengan pelemahan rupiah. Mau tidak mau kami terpaksa harus menaikkan harga,\" terangnya.

Dia menerangkan saat ini semua produsen tepung sudah berancang-ancang menaikkan harga. Namun hingga saat ini kenaikan itu belum terealisasi karena semua produsen sedang menunggu. Hal itu terkait persaingan harga di pasar. \"Biasanya kami yang memulai menaikkan harga lalu akan diikuti produsen tepung lainnya. Tapi sekarang kami berusaha menahan dulu hingga stabilitas harga tercapai,\" kata Franciscus. Dia khawatir jika harga tepung dinaikkan saat ini akan menimbulkan kepanikan pasar.

Related posts