Pemulihan Pasca Gempa Perlu Ditingkatkan - Banyak Dilupakan

Nestapa Aceh Tengah, seolah tak lagi penting. Siapa membicarakannya? Tidak di masjid-masjid yang kini meriah orang berbuka, berdzikir, shalat dan bermunajat. Tidak pula di ruang pejabat publik apalagi menjadi tema pembahasan krisis sosial negara. Bencana Aceh Tengah seolah selesai setelah Presiden kembali dari kunjungan singkatnya ke lokasi.

Seperti diketahui pada 2 Juli 2013 yang lalu, telah terjadi bencana gempa bumi dengan kekuatan 6,2 Skala Richter yang telah menewaskan 42 orang serta mengakibatkan kerusakan pada 623 bangunan fasilitas umum. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, jumlah pengungsi korban gempa mencapai 52.113 jiwa atau 12.301 KK di Kabupaten Bener Meriah 19.984 jiwa (5.034 KK), dan di Kabupaten Aceh Tengah 32.129 jiwa (7.267 KK).

Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) menegaskan, kendati hanya 40 jiwa tewas dan sedikit yang hilang, dengan 56,000 jiwa mengungsi, Gempa Aceh layak disebut ‘bencana nasional’. Pantas dikatakan Bencana Nasional kalau tidak lagi ada kepedulian dan dukungan memulihkan kemiskinan yang datang karena gempa di Aceh. Adalah bencana jika sebuah bangsa kehilangan kemanusiaan dan empatinya.

MRI sudah hampir dua pekan di lokasi kejadian, memperkirakan padafase emergencyberlangsung sebulan sejak gempa terjadi, korban sangat membutuhkan air bersih, pangan, selimut,personal hygiene(sabun, handuk, shampoo, sikat gigi dan lain-lain), pakaian(anak, dewasa laki-laki, dewasa perempuan, pembalut),shelteryang nyaman agar terhindar dari penyakit akibat buruknya sanitasi.

Relawan medis MRI telah memberikan Layanan Kesehatan untuk para korban, tak kurang dari 750 korban telah mendapatkan layanan dari targetmelayani 10.000 jiwa. SedangkanTrauma healingsudah berlangsung sejak 14 Juli lalu.

Sebelumnya,PT Frisian Flag Indonesia (FFI) mendukung Palang Merah Indonesia (PMI) juga turut melaksanakan program PSP (Psychosocial Support Program/Program DukunganPsikososial)dengan memberikan bantuan sebanyak 4.032 kemasan susu UHT Frisian Flag Kid dan School untuk anak-anak pengungsi korban bencana gempa bumi yang diterima oleh Bapak Muslim di Posko PMI di daerah Pegasing, Aceh Tengah pada Jumat, 12 Juli 2013 yang lalu.

Pada Sabtu, 13 Juli 2013 lalu, PMI membagikan bantuan susu Frisian Flag tersebut kepada anak-anak para pengungsi dalam kegiatan program PSP di Kecamatan Kota Panang. Program PSP bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan psikososial individu maupun masyarakat agar tetap berfungsi optimal pada saat mengalami krisis dalam situasi bencana, yang menargetkan anak-anak.

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah dengan mengajak anak-anak untuk menggambar bersama dan kegiatan menyenangkan lainnya yang mampu meringankan beban para korban.

BERITA TERKAIT

Menkeu Harap Swasta Makin Banyak Terlibat di Infrastruktur

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap makin banyak pihak swasta yang terlibat dalam pembangunan…

Tak Hanya Masyarakat Miskin, Rentan Miskin Juga Perlu Diperhatikan

      NERACA   Jakarta - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebutkan, selain masyarakat miskin dan sangat miskin, masyarakat…

Ini yang Perlu Anda tahu Sebelum Beli Tiket Murah

Berburu tiket murah sebelum bepergian memang menarik demi menghemat biaya perjalanan, tapi bagaimana agar semua bejalan lancar dan menyenangkan. Perusahaan…

BERITA LAINNYA DI CSR

Implementasi Gerakan Donasi Kuota - Kini 100 Sekolah di Kaltim Terhubung Internet Cepat

Peduli pada peningkatan kualitas dunia pendidikan, PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) terus menyalurkan kuota internet cepat yang terkumpul melalui…

Ajak Anak Indonesia Berprestasi - Indomilk Bantu Sarana Inspirasi di 50 Sekolah

Menggali potensi yang dimiliki para siswa berprestasi di Indonesia agar bisa unjuk gigi di mata dunia, PT Indolakto, anak perusahaan…

Telkomsel Berbagi Bersama 1200 Anak Yatim

Menyambut Natal 2017, Telkomsel wilayah operasional area Jabotabek Jabar menggelar rangkaian sejumlah kegiatan kepedulian dengan tema “Saatnya Berbagi dan Melayani”…