BI Mengaku Ketersediaan Valas Membaik

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) memahami jika beberapa waktu lalu terjadi keterbatasan valuta asing (valas) karena supplier dan eksportir belum ada di zona nyaman untuk melepas dana mereka. “Ini merupakan hal yang biasa karena cerminan nilai tukarnya dan cerminan dari harga yang dikehendaki calon pembeli dan calon penjual,” ujar Gubernur BI, Agus DW Martowardojo di Jakarta, Kamis (25/7).

Namun dia juga mengatakan, beberapa hari terakhir ketersediaan valas sudah menuju kondisi yang sehat dan bergairah. “Disini BI akan selalu hadir untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan hadir disaat ada gejolak yang tidak wajar,” kata Agus.

Selain itu, BI akan melakukan langkah koordinasi dengan eksportir tertentu yang memiliki ekspetasi lebih terhadap nilai tukar. “Kita lihat beberapa hari, pasar sudah merespon dengan baik, bahkan jika dilihat dari sisi pembeli seperti Pertamina, PLN yang membeli valas cukup besar, diharapkan ketika mereka memenuhi kebutuhannya tidak menimbulkan kondisi gejolak pasar, ini akan kita koordinasikan dengan baik,” ujarnya.

Sedangkan untuk total utang luar negeri swasta, Agus mengatakan semua pencatatannya ada di BI, selain itu, BI pun melakukan analisis tentang posisi terbuka atau yang tidak terbuka. “Jadi secara umum kita melihat ini betul-betul terbuka masih dalam jumlah yang terkendali,” ungkap Agus.

Terkait dengan lelang FX Swap yang digelar BI setiap hari kamis ini, Agus mengatakan lelang ini akan member kepastian bagi pemilik valas apabila mereka melepas dananya 3 bulan kedepan, maka mereka akan mendapatkan harga sesuai dengan yang disepakati sebelumnya.

“Peminat FX Swap besar sekali lebih dari target yang kita tawarkan, dengan ini kami juga akan mempelajari pelelangan FX Swap akan digelar lebih dari sekali setiap minggunya,” imbuhnya. Agus mengharapkan agar tercipta kondisi yang baik bagi pemilik dana atau investor karena investasi saat ini dilakukan harus melakukan lindung nilai atau hedging.

Nah, instrumen utama hedging antara lain adalah FX Swap. “Justru itu alternatif tersedianya valas sehingga kalau permintaan (demand) valas besar bisa dipenuhi antara lain melalui spot atau FX Swap, tentu akan buat tekanan rupiah makin kurang sekarang ini. Sedangkan premi yang kita kemarin ditawarkan 5%-6% untuk tenor 1-6 bulan,” ucap dia.

Sebelumnya, BI menyampaikan untuk menggelar lelang FX Swap perdana pada 18 Juli 2013, BI melaporkan lelang tersebut melebihi target yang ditetapkan (oversubscribed) dengan jumlah penawaran yang masuk sebesar US$ 1.240 juta dari target US$ 500 juta bertenor satu, dua tiga dan enam bulan.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, dari jumlah penawaran tersebut, jumlah FX Swap yang dimenangkan sebesar US$600 juta dan menunjukkan respon yang positif oleh pasar. Hal ini menunjukan bahwa kepercayaan pasar semakin meningkat terhadap kondisi likuiditas di pasar domestic khususnya ketersediaan valas.

Selain itu, lelang FX Swap ini merupakan salah satu bagian dari penguatan bauran kebijakan yang diambil BI untuk beberapa tujuan yakni, pertama, lelang FX Swap merupakan bagian penguatan operasi moneter Bank Indonesia untuk pengelolaan likuiditas valas dan rupiah di pasar. Kedua, lelang FX Swap dimaksudkan sebagai instrumen lindung nilai (hedging) bagi investor maupun pengusaha terhadap risiko pergerakan nilai tukar rupiah atas kebutuhan likuiditas valas dan rupiah.

Terakhir, lelang FX Swap ini merupakan salah satu upaya Bank Indonesia dalam mendorong pendalaman pasar melalui pembentukan harga yang lebih efisien dan transparan, serta pengayaan instrumen, sehingga pelaku pasar tidak hanya bergantung pada instrumencash marketdalam pengelolaan likuiditas.

Menurut Perry, pihaknya meyakini berbagai langkah penguatan bauran kebijakan yang ditempuhnya akan semakin memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, pengendalian inflasi, maupun stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. [sylke]

Related posts