Lepas Saham Miratel Dinilai Keputusan Tepat

NERACA

Jakarta – Rencana PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) menjual saham anak usahanya PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) saat ini masih tahap kajian, namun sebagai perusahaan yang harus berkembang secara berkesinambungan, Mitratel sebaiknya dilepas.

Hal tersebut disampaikan Praktisi pasar modal Lucky Bayu Purnomo. Menurutnya, dalam upaya mempercepat tercapainya sasaran perusahaan menjadi leader dan provider terbesar di bisnis telekomunikasi, membuat Mitratel terus melakukan proses pembangunan yang berkesinambungan dan tentunya membutuhkan banyak biaya. “Saat ini Mitratel dipandang memerlukan biaya operasi yang cukup tinggi, dimana hal tersebut dapat menggangu kinerja keuangan Telkom itu sendiri, sehingga saya kira merupakan keputusan yang tepat dan harus segera di realisasikan untuk melepas saham Mitratel,”katanya kepada Neraca di Jakarta kemarin.

Kata Lucky, jika saham Mitratel dilepas akan menjadi upaya untuk meminimalisir pengeluaran dana operasional perusahaan yang rata rata di ambil dari perusahaan induk. Selain itu, anak usaha yang menyumbang keuntungan dan laba bersih paling tinggi adalam PT Telkomsel dan tidak mungkin dilepas oleh induk usahanya.

Lanjutnya, pelepasan saham Miratel juga untuk menjawab tantangan pasar. Dimana, setiap perusahaan yang akan melakukan berbagai macam proses akuisisi, baik akuisisi asset ataupun akuisisi atas perusahaan yang sejenis tentunya membutuhkan biaya besar. Maka seiring perkembangan zaman dan kemajuan era teknologi dan informasi, para pelaku usaha seharusnya mempertimbangkan aspek keuangan yang dapat mempengaruhi performa perusahaannya sendiri termasuk mitratel.

Sebelumnya, Direktur Utama Telkom Arief Yahya pernah bilang, ada empat perusahaan yang berminat untuk akuisisi Mitratel. Dari empat perusahaan tersebut, tiga diantaranya adalah perusahaan publik dan satu perusahaan nonpublik. Namun jika ingin melepas sahamnya, Mitratel harus melakukan spin off karena tidak dilakukan jika masih menjadi divisi Telkom.“Saya menargetkan spinn off pada tahun ini, serta pelepasan saham Mitratel dapat diselesaikan pada tahun ini juga. Selain itu, untuk strategi partner dan IPO akan dipertimbangkan lebih matang lagi,”paparnya.

Dia juga menyatakan akan melepas saham Mitratel kepada investor yang menawarkan dengan nilai tertinggi. Karena bagaimana dan siapapun pengusaha tower tersebut akan menjadikan tower business tersebut independent dan listing company.

Mitratel didirikan pada tahun 1995 berawal dari perusahaan mitra KSO di wilayah Kalimantan dengan nama PT, Dayamitra Malindo yang sahamnya dimiliki oleh beberapa perusahaan swasta nasional dan swasta asing. Dalam perjalanannya kepemilikan saham telah mengalami beberapa kali perubahan dan akhirnya pada Desember 2004 saham Mitratel 100% dimiliki PT. Telekomunikasi indonesia, Tbk.

Sejak penghujung tahun 2007 Mitratel mengalami transformasi bisnis dengan mulai memasuki bisnis penyediaan infrastruktur telekomunikasi yang salah satu diantaranya berupa penyediaan menara telekomunikasi (tower provider) untuk memenuhi kebutuhan penempatan BTS bagi para operator telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia. (nurul)

Related posts