Peruri: Cetak Upal Pakai Teknologi Canggih

NERACA

Jakarta - Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) mengatakan banyaknya peredaran uang palsu (upal) karena teknologi yang digunakan semakin canggih, sehingga para pelaku pemalsuan uang terus melakukan inovasi dan improvisasi cetakan uang hingga menyerupai aslinya.

“Kami akui peredaran uang palsu memang semakin banyak. Karena para pemalsu terus belajar untuk menyerupai yang asli. Terus, mereka didukung teknologi yang semakin canggih. Tapi jumlahnya belum pada posisi yang mengkhawatirkan. Masih sekitar di bawah satu persen. Ini karena negara kita politiknya sedang stabil. Berbeda lagi kalau (negara) dalam keaadan goyang, itu sangat marak (peredaran upal),” kata Kepala Divisi Pengembangan Pasar dan Dukungan Penjualan Perum Peruri, Indrio Tjahyo, di Jakarta, Rabu (24/7) malam.

Akan tetapi, dirinya mendorong partisipasi masyarakat untuk menghentikan peredaran upal. Menurut Indrio, pihaknya juga terus bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk mendeteksi beredarnya uang palsu yang kian canggih. Hal ini, kata Indrio, juga dianggap perlu untuk mempelajari sejauhmana kemiripan uang palsu yang dicetak para pemalsu.

“Nanti yang terdeteksi akan digali sejauhmana kemiripannya dan menggunakan teknologi apa mereka untuk mencetaknya. Tapi kalau ketemu lalu menggunakan teknologi konvensional dengan hasil cetak menggunakan printer biasa, misalnya, ya, kita biarkan saja. Artinya, kita sudah paham teknologi,” tambahnya.

Dia mengklaim jika uang palsu sulit beredar di wilayah perkotaan. Pasalnya, masyarakat yang hidup di perkotaan sudah familiar dengan sistem keamanan distribusi uang yang menggunakan peralatan formal yang dimiliki perbankan. Justru, lanjut Indrio, yang perlu ditingkatkan kewaspadaannya di daerah pinggiran kota.

Terkait modus pencetakan upal, Indrio berkata demikian. “Mereka (pemalsu uang) biasanya mencetak memakai uang Rp100 ribu. Kemudian ditukar dengan uang asli melalui pecahan yang lebih kecil yang sudah disebar di pasar. Setelah itu baru mereka bawa ke kota untuk dipergunakan sesuai dengan kepentingannya,” ungkap Indrio.

Minimal lima tahun

Untuk langkah antisipasi, selain bekerjasama dengan BI dan Polri, Perum Peruri juga menggandeng Interpol. Dengan demikian, para pencetak dan pengedar uang palsu dapat terus diawasi oleh dunia. Tak hanya itu saja. Diskusi dan saling tukar informasi untuk mencari metode yang tepat dalam pencegahan beredarnya uang palsu dapat terus dilakukan oleh masyarakat dunia.

“Sebenarnya, sistem keamaan uang sudah ditentukan standardnya secara internasional. Salah satunya memberi cetakan intaglio (dapat diraba). Jadi uang itu ngga bisa sembarangan dicetak. Ada standard yang universal. Kertasnya juga khusus karena sifatnya forensik,” paparnya. Meski begitu, Perum Peruri mengakui bila keberadaan uang palsu ini harus terus-menerus diperbaharui feature security system-nya.

“Minimal lima tahun sekali. Ini supaya membuat bingung para pemalsu untuk mempelajari uang asli. Ketika mereka (pemalsu) baru sadar perbedaannya, kita sudah selangkah lebih maju dari mereka karena sudah merubah lagi rahasia keamanannya. Kalau sampai 10 tahun pun tidak apa-apa. Asalkan tidak lebih dari itu (10 tahun), karena terlalu lama (merubah sistemnya) jadi akan sangat berbahaya,” tukas Indrio. [lulus]

Related posts