“Asuransi Lokal Butuh Modal Segar” - Cengkeram Asing Semakin Kuat

NERACA

Jakarta - Tak bisa dipungkiri bila modal menjadi indikator utama dalam mengembangkan bisnis, tak terkecuali asuransi. Tak pelak, pelaku industri asuransi Indonesia, mau tidak mau, dituntut mempersiapkan diri dalam menghadapi “gempuran”, terlebih saat ini semakin maraknya industri asuransi asing yang masuk ke Indonesia serta datangnya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015 mendatang.

Kalangan praktisi dan pelaku industri asuransi tak menampik kalau industri asuransi lokal membutuhkan dana segar. Direktur Utama PT Jasaraharja Putera, Slamet Riyadi menuturkan, industri perasuransian lokal perlu melakukan sejumlah langkah dalam menghadapi MEA. Pasalnya, akan ada persaingan antarnegara saat momentum itu terjadi, dan industri perasuransian lokal perlu memiliki sejumlah strategi agar mampu bertahan saat digempur oleh perasuransian asing.

“Pada saatnya nanti, kedatangan MEA perlu disikapi dengan kita mencari permodalan yang baik. Bila permodalan rendah, kapasitas kita nanti juga akan rendah. Ini perlu diperhatikan karena kita akan bersaing dengan ASEAN dan dunia,” ungkapnya di Jakarta, beberapa waktu lalu. Slamet juga menjelaskan, persatuan dan kesatuan yang dimiliki perusahaan asuransi di Indonesia perlu dilakukan saat ini juga.

Dengan persatuan dan kesatuan, maka perusahaan asuransi di Indonesia akan memunculkan suatu kekuatan yang besar dan nantinya mampu mengantarkan Indonesia kepada persaingan yang memadai dengan negara-negara lain. “Kesendirian itu kenapa tidak kita lewati saja. Kita harus bisa mengoptimalkan kapasitas dalam negeri, termasuk memperbesar. Paling tidak, bisa menyerap permodalan untuk bersaing di MEA itu. Kita (industri asuransi) harus betul-betul bersatu,” tutur Slamet.

Praktisi asuransi B Munir Sjamsoeddin mengamini pendapat Slamet Riyadi. Menurut dia, pemenuhan modal minimum oleh industri asuransi sangat penting. Tidak hanya berfungsi mengendalikan risiko, namun juga menghidupi perusahaan melalui promosi-promosi yang dilakukan.

“Kalau uang saja cekak, bagaimana dapat bersaing dengan perusahaan asuransi asing saat dibukanya ‘pintu’ Masyarakat Ekonomi ASEAN? Harus realistis, karena ujung-ujungnya uang,” tegas Munir, beberapa waktu lalu. Dengan permodalan yang terjaga, kata dia, perusahaan asuransi juga dapat membangun dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM).

\"Dengan ada kepemilikan asing dan MEA, akan ada free flow anything. Sederhananya, nggak bisa dengan modal cekak. Harus besar. Industri asuransi kita harus cepat berbenah,” terangnya. Sementara Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Kornelius Simandjuntak menambahkan, pemenuhan permodalan minimum menjadi harga mati.

Dia menuturkan, pihaknya sejak awal telah mengingatkan kepada industri asuransi untuk sesegera mungkin menambah permodalan. Hal ini sudah ditetapkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), sekarang Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tahun ini, modal minimum yang mesti dipunyai industri asuransi adalah Rp70 miliar. Namun, pada 2014, angka ini meningkat menjadi Rp100 miliar.

“Tahun 2014 kan (modal minimum) menjadi Rp100 miliar. Itu bagus. Kalau saja tahun 2008 lalu modalnya harus Rp100 miliar, wah, 60 perusahaan asuransi siap tutup,\" tegas Kornelius. Di sisi lain, masih rendahnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya asuransi, dirinya mendorong perlu dilakukan edukasi sejak dini. [ardi]

Related posts