Peruri Catat Peningkatan Cetak Uang Hingga 20% - Incar Laba Bersih Rp250 Miliar

NERACA

Jakarta - Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) mencapai rekor tertinggi dalam mencetak uang pada tahun ini, di mana terjadi peningkatan cetak uang hingga 20% atau 7,4 miliar bilyet per tahun, dari sebelumnya yang hanya 6 miliar bilyet per tahun.

Kepala Departemen Pengembangan Pasar Perusahaan Perum Peruri, Novialdi Nasri menjelaskan pihaknya tahun ini mencetak uang hingga 600 juta bilyet setiap bulan, yang nominalnya mulai dari Rp1.000-Rp100 ribu. “Peningkatan uang pecahan kecil terjadi dalam dua bulan terakhir ini, karena menjelang lebaran,” tutur dia di Jakarta, Rabu (24/7) malam.

Untuk realisasi target 2013, Perum Peruri tinggal memenuhi sisanya saja. Pasalnya, berdasarkan data sementara pada semester I 2013 sudah terpenuhi sebanyak 40%-50%. Namun, Nasri belum mengungkapkan angka detailnya. Data resmi dan rincian nanti disampaikan,” tambahnya.

Selain itu, kata Nasri, Perum Peruri menargetkan perolehan laba bersih sebesar Rp250 miliar sepanjang tahun ini, yang utamanya dikontribusikan dari usaha pencetakan mata uang rupiah. Adapun laba sebelum pajak di enam bulan pertama tahun ini sebesar Rp205 triliun. Lalu dikurangi pajak sehingga hasilnya sekitar Rp120 miliar-Rp130 miliar. Dia menambahkan, pertumbuhan laba sendiri diharapkan bisa 10-11 kali lipat dari perolehan laba yang hanya sebesar Rp23 miliar pada tahun lalu.

Menurut dia, perolehan laba yang cukup kecil pada 2012, diakibatkan pemesanan uang dari Bank Indonesia (BI) terhambat birokrasi sehingga membuat pihaknya hanya mencetak secara efektif selama delapan bulan. “Tahun lalu, kita mulai dapat order cetak rupiah bulan April. Jadi selama delapan bulan kita hanya cetak hampir 4 miliar bilyet. Tahun ini, pesanan BI mencapai 5,3 miliar bilyet,” jelasnya.

Kontribusi pendapatan terbesar masih dihasilkan bisnis pencetakan uang mencapai 70% dari total pendapatan. Tahun ini, selain harus memenuhi permintaan pencetakan uang rupiah dari BI, Peruri juga menerima pesanan pencetakan uang rupee dari Nepal yang kontraknya telah berjalan sejak 2005 silam.

“Target revenue (pendapatan) Rp2 triliun pada tahun ini. Kita juga akan maksimalkan semua usaha, selain pencetakan uang, yakni materai, perangko, sertifikat tanah, pita cukai dan paspor,” tutur dia. Ya, Perum Peruri tidak hanya mencetak uang kertas dan logam saja, namun produk-produk kertas berharga non uang seperti dokumen imigrasi, dokumen perpajakan, dokumen pertanahan serta dokumen cukai. [lulus]

Related posts