Kredit Perbankan ke UMKM Masih Rendah - Masih di Bawah 10%

Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) masih sangat rendah di bawah 10% sejak Januari hingga Mei 2011. Bank sentral terus mengarahkan bank untuk menggenjot kredit sektor produktif tersebut untuk mencegah ekonomi overheating alias kepanasan. "Kredit UMKM memang masih tumbuh rendah karena sekarang BI membedakan kredit UMKM dan MKM atau Mikro Kecil Menengah. Kredit UMKM baru tumbuh di bawah 10%," kata Direktur Direktorat UMKM dan BPR Edy Setiadi di sela HUT BI ke-58 di Jakarta, Jumat.

Edy menjelaskan, BI membedakan kredit UMKM dan MKM karena bank saat ini tergolong masih banyak menyalurkan kredit MKM yang masih berbau konsumtif jika dibandingkan UMKM yang bersifat produktif. "UMKM itu murni digunakan untuk usaha, berbeda dengan MKM yang konsumtif. BI kini mendorong bank untuk lebih menyalurkan ke UMKM," tutur dia. Seraya menyebutkan, untuk kredit MKM masih tumbuh cukup baik yakni mencapai 24% hingga Mei 2011 (tahunan).

Di tempat yang sama Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono mengatakan, pertumbuhan kredit industri perbankan juga termasuk hal yang perlu diperhatikan dan difokuskan mencegah overheating. Karena, sambungnya ketika hanya kredit di sisi konsumerisme yang meningkat akan berbahaya. "Ini harus dilihat detilnya diarahkan ke mana, kalau kredit konsumerisme akan berbahaya tidak akan menambah kapasitas produksi bukan demand. BI sedang melihat kredit mana yang membahayakan dan kita encourage itu dan dorong ke sektor yang produktif harus lihat secara detilnya," papar Hartadi.

Sebelumnya, BI juga mentargetkan perbankan di Indonesia tumbuh sebesar 23 persen di tahun ini. Hal ini disokong meningkatnya kegiatan ekonomi 2010 yang ditopang oleh ketahanan dan kinerja sektor perbankan yang positif.

Selain itu, target kredit ini tercermin dari terjaganya stabilitas, financial stability index yang mencapai sebesar 1,75 atau jauh lebih rendah dibandingkan krisis 2007/2008 sebesar 2,34.

Adapun fungsi intermediasi juga meningkat meski masih ada peluang untuk lebih tumbuh, risiko kredit masih terjaga (non-performing loan/NPL di bawah lima persen), serta permodalan yang memadai (capital adequacy ratio/CAR mencapai 16 persen). "2011 kredit diperkirakan tumbuh pada kisaran 20-23 persen. Namun dengan mempertimbangkan potensi risiko kenaikan harga komoditas dan potensi tekanan harga komoditas, potensi tekanan inflasi, serta pembiayaan nonbank yang semakin meningkat. beberapa hal tersebut dapat menyebabkan kredit berada di kisaran 19-21 persen," jelas Gubernur BI Darmin Nasution beberapa waktu lalu.

BI mencatat pertumbuhan kredit perbankan saat ini tergolong tinggi hingga memberikan kontribusi 20% dalam pertumbuhan ekonomi. Adapun pertumbuhan ekonomi ditargetkan pemerintah sebesar tujuh persen sampai 2012 mendatang. sementara kredit perbankan ditargetkan Bank Sentral sampai akhir tahun sebesar 23 persen.

Kabiro Humas BI Difi A Johansyah mengatakan, pertumbuhan sekarang ini masih dominan oleh pembiayaan investasi. “Kredit perbankan mendukung pertumbuhan itu dua puluhan persen itu dari perbankan, sisanya modal sendiri dan dari komunikasi, dan lain-lain,” Ungkap Difi di Jakarta, beberapa waktu lalu. Dari hasil survei kepada industri, sumber pembiayaannya lebih banyak dari investasi, modal sendiri, penjualan saham, dan bahkan laba ditahan.

BERITA TERKAIT

Rasio Kredit Macet Di Sulteng Aman

    NERACA   Palu - Kepala kantor perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah Miyono mengatakan rasio kredit macet atau…

Masih Ada Perusahaan Yang Belum Bayar THR

      NERACA   Jakarta – Meski hari raya lebaran idul fitri telah usai, namun masih ada perusahaan yang…

Proyek Tol Bandung-Tasikmalaya Masih Tunggu Pemerintah Pusat

      NERACA   Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menunggu aksi pemerintah pusat serta mendorong Kementerian Pekerjaan Umum…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank SulutGo Ajukan Izin Terbitkan Kartu Debit

  NERACA   Manado - PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo) mengajukan permohonan izin kepada Bank…

Rasio Kredit Macet Di Sulteng Aman

    NERACA   Palu - Kepala kantor perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah Miyono mengatakan rasio kredit macet atau…

Sinergi Pesantren dengan Pembiayaan Ultra Mikro

      NERACA   Jakarta - Pemerintah mendorong sinergi pondok pesantren dengan program pembiayaan Ultra Mikro yang diyakini dapat…