Sektor Perdagangan Berjangka Diminta Ambil Peluang - Songsong Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

NERACA

Jakarta - Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan dimulai pada 2015 memberikan kesempatan bagi Indonesia khususnya perdagangan berjangka untuk bisa memimpin di lingkup ASEAN. \"Industri perdagangan berjangka di Indonesia baik bursa maupun pialang dan pedagang berjangka diharapkan dapat memanfaatkan potensi dan peluang pengembangan usaha sehingga dapat menjadi pemimpin dalam industri perdagangan berjangka di kawasan ASEAN,\" ungkap Gita di Jakarta, Rabu (24/7).

Menurut Gita, para produsen komoditi dapat melakukan lindung nilai (hedging) sehingga apabila likuiditas transaksi kontrak komoditi meningkat maka tidak menutup peluang bagi Bursa Berjangka di Indonesia akan sejajar dengan bursa di kawasan ASEAN yang berfungsi sebagai sarana pembentukan harga (price discovery) dan sarana referensi harga (price reference) bagi produk-produk komoditi potensial ekspor di dalam negeri.

Mendag menyatakan bahwa setiap pemangku kepentingan harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik serta menghadapi tantangan-tantangan yang muncul apabila Indonesia ingin berhasil dalam memanfaatkan peluang yang ada. Untuk itu, Mendag berharap bahwa seluruh pemangku kepentingan baik elit politik, pemerintah, dunia usaha maupun kalangan pendidikan bersatu padu melakukan upaya penyebarluasan informasi terkait untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman seluruh masyarakat Indonesia dalam mempersiapkan dirinya menghadapi MEA 2015.

Populasi ASEAN pada tahun 2012 adalah sebesar 617,68 juta jiwa dengan PDB sebesar US$2,1 triliun. Hal tersebut berarti ASEAN merupakan kawasan menarik untuk para investor dan dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan ASEAN sebagai pasar sekaligus basis produksi dan investasi. Tentunya peluang tersebut terbuka luas bagi pengembangan industri di Indonesia termasuk perdagangan berjangka, mengingat sebagai produsen penghasil komoditi potensial dunia kita memiliki peluang untuk mengembangkan produk-produk potensial yang diperdagangkan di Bursa Berjangka Indonesia.

Ia menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan beberapa kebijakan penting terkait pasar tunggal ASEAN, antara lain pasar tunggal dan basis produksi terutama untuk produk kategori ekspor, seperti produk utama, produk potensial, produk jasa potensial dan produk baru lainnya.

Lebih lanjut dikatakan Gita, dalam menghadapi MEA 2015, masyarakat Indonesia dituntut perlu menyiapkan daya saing secara bersama-sama agar dapat memanfaatkan secara maksimal peluang yang timbul sekaligus menyiapkan sektor nasional dalam menghadapi tingkat persaingan yang semakin tinggi di lingkungan pasar domestik.

Jajaki Kerjasama

Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menuturkan bahwa antara Indonesia dengan AS juga telah sepakat untuk menjajaki peluang kerja sama perdagangan berjangka komoditi. penjajakan ini bertujuan untuk mengembangkan perdagangan berjangka komoditi Indonesia yang diselenggarakan di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) dan Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI). \"Dengan adanya peluang kerja sama ini, diharapkan BBJ dan BKDI dapat meningkatkan transaksi PBK terutama komoditi andalan Indonesia seperti kopi, CPO, dan kakao,\" katanya.

Selain peluang kerja sama, dalam pertemuan tersebut juga dibahas pentingnya menjaga integritas Bursa Berjangka dan melakukan pengawasan secara menyeluruh terhadap pelaksanaan PBK. \"Untuk ini Indonesia perlu melakukan pengembangan sistem pengawasan yang menyeluruh dan terpadu antara Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi, Bursa Berjangka, dan Lembaga Kliring Berjangka,\" jelas Bayu Krisnamurthi.

Nursalam, Direktur ICDX mengatakan, apabila negara lain masih menjadi penentu harga, sedangkan kita adalah produsennya, maka transparansi harga yang benar dan adil tidak akan tercipta. \"Dunia harus sadar bahwa kita berkuasa atas harga, karena kita salah satu produsen komoditas terbesar dunia,\" ujarnya.

Dirinya menambahkan, pihaknya selaku bursa berjangka dari Indonesia saat ini butuh untuk membangun kredibilitas untuk bisa menjadi bursa penentu harga komoditas unggulan produksi Indonesia. \"Peran pemerintah dalam hal ini sangat menentukan. Lihat saja Singapura, mereka itu bukan negara produsen, mereka tidak punya sumber daya alam, tapi karena pemerintah mereka tegas, maka harga disana bisa terjaga dengan baik,\" kata Nursalam.

Nursalam menambahkan, kerjasama dengan Chicago sebenarnya sudah kami lakukan sejak 2011, yang juga menjadi salah satu program Penyaluran Amanat Luar Negeri (PALN). \"Namun jenis transaksi baru mencakup Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) seperti emas berjangka dan valas, belum merambah ke kontrak multilateral seperti sawit, timah, atau kopi,\" tutur Nursalam.

Adapun kunjungan ke US-CFTC dilakukan rombongan Kementrian Perdagangan untuk melihat peran regulator Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) di Amerika Serikat seperti yang dilakukan oleh Bappebti. \"Perdagangan berjangka komoditi di Indonesia saat ini mengalami pertumbuhan pesat. Oleh karena itu, Bappebti selaku regulator harus dapat mengembangkan kerja sama yang saling mendukung antara Pemerintah dan swasta seperti yang dilakukan oleh US-CFTC kepada CME,\" tambahnya.

Related posts