APF Optimis Capai Omzet US$ 600 Juta - Sepanjang 2013

NERACA

Jakarta – Kondisi perekonomian domestik yang tidakstabil, rupiah yang semakin melemah, ditambah lagi persoalan internal permasalahan kepailitan perusahaan tidak mengurungkan niat perusahaan emiten produsen serat sintetis dan poliester, PT Asia Pasific Fibers Tbk (APF), untuk tetap menunjukkan kinerja yang kinclong sepanjang 2013 ini. Perusahaan menargetkan omzet sebesar US$ 600 juta sampai dengan akhir tahun 2013.

“Omzet pendapatan kami untuk semester pertama berkisar US$ 297 juta atau baru 48% dari target tahunan. Namun demikian kami tetap optimis dengan target omzet kami di kisaran angka US$ 600 juta, sampai dengan akhir tahun 2013,” kata Ravi Shankar, Presiden Direktur AFP, di Jakarta, Rabu (24/7).

Optimisme adanya pencapaian target tahunan, menurut Ravi,melihat kondisi market yang masih sangat luas, disamping itu perusahaan masih terus berinovasi serta melakukan exspansi dengan market baru. Dengan market yang tersebar luas baik domestik luar negeri, ditambah dengan inovasi perusahaan, diyakini perusahaan mampu menjaring market sehingga meningkatkan income perusahaan. Dari situlah dapat mendongkrak Omzet sampai dengan akhir tahun ini. “Selama bahan baku tidak bermasalah, kami masih bisa meningkatkan produksi untuk bisa dipasarkan baik domestik, maupun eksport, dengan begitu target tahunan dapat terlampaui,” ujarnya.

Ditambah lagi, lanjut Ravi, saat ini pangsa pasar kami cakupannya sudah semakin luas, . Selain Di Indonesia, Amerika Serikat dan China, negara tujuan ekspor perseroan antara lain Brazil, Turki, Korea Selatan, Argentina, dan negara-negara Eropa. “Sejauh ini presentasi penjualan produk kami 70/30 yaitu, 70% domestik, 30% Eksport. Tapi tidak menuntut kemungkinan jika rupiah terus-terusan melemah maka kami tingkatkan Eksport,” tambahnya.

Namun demikian, Ravi mengungkapkan, sejauh ini kami lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan domestik. Sesuai dengan komitmen perusahaan untuk ikut berkonstribusi dalam pembangunan ekonomi lokal dan juga nasional. Untuk tahun 2012, APF menguasi pasar domestic sekitar 27% pangsa pasar benang dan serat sintesis atau meningkat dari tahun 2010 yang berkisar pada 23% pasar nasional. “Selama permintaan dalam negeri meningkat kami perioritaskan,” katanya.

Adapun sektor bisnis perusahaan yang paling menojol menurut Ravi ada pada sektor tekstil. Walaupun menurut Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan adanya kecenderungan industri tektstil Indonesia turun sebesar 8,32% akibat fluktuasi yang terjadi dari 2010. APF tetap mempertahankan kapasitas produksinya agar dapat memenuhi kebutuhan tekstil baik dalam maupun luar negeri. Maka dari itu, sejauh ini APF terus memaksimalkan kapasitas pabriknya hingga mendekati kapasitas penuh.

“Kapasitas produksi prusahaan dalam sehari yaitu 1000 ton, dan saat ini kami mampu memproduksi 940 ton perhari. Tentu saja kami terus mengupayakan agar mampu memproduksi sesuai dengan kapasitas mesin yang ada,” ungkapnya.

Namun di sektor ekspor, Ravi mengatakan, untuk peningkatan penjualan tahun ini dengan langkah penetrasi pengembangan produk baru, khususnya di segmen filament dan staple fiber. Produk-produk tersebut akan digunakan untuk segmen home furnishing dan otomotif, yang belum banyak dimasuki oleh produsen lain. “Pengembangan produk untuk eksport tentu terus dikembangkan, karena pangsa pasarnya luas, sedangkan kompetisinya masih relative jarang,” katanya.

Adapun ditanya mengenai kondisi ekonomi dalam negeri, adanya kenaikan harga BBM, serta rupiah yang terus melemah, Ravi mengungkapkan tidak berpengaruh besar terhadap kondisi perusahaan. Menurutnya selama bahan baku produksi tidak terkendala, maka perusahaan baik-baik saja. “Pasar kami sudah jelas, selama produksi lancar, maka perusahaan tidak ada masalah,” tuturnya.

Dsinggung mengenai kasus hukum terkait hutang yang membelit diperusahaannya. Ravi menjelaskan, kami menilai putusan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) atas PT Wisma Karya Presetya (WKP) yang diberikan oleh Pengadilan negeri Jakarta Pusat terhadap perusahaan dirinya masih banyak kejanggalan. Untuk itu, kami berharap permasalahan ini bisa dengan segera diselesaikan. “Kasus ini terus terang sangat berpengaruh terhadap investasi kami diindonesia, dampaknya melebar kesektor-sektor yang lain. Tapi kami tetap konsen pada bisnis kami, tentu saja dengan tetap focus pada pencapaian target tahun ini,” tutupnya.

BERITA TERKAIT

Realisasi KUR 2018 Capai Rp120 Triliun

      NERACA   Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memastikan realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sepanjang 2018…

Bakal Diakuisi Bank Korea - Crossing Bank Agris Capai Rp 1 Triliun

NERACA Jakarta – Santernya rencana PT Bank Agris Tbk (AGRIS) bakal diakuisisi perusahan perbankan asal Korea, mendorong terjadinya terjadinya aksi…

Kuras Kocek Rp 460,38 Miliar - TBIG Realisasikan Buyback 96,21 Juta Saham

NERACA Jakarta - Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) telah membeli kembali atau buyback saham dari…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Pemerintah Akselerasi Pengembangan Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pemerintah segera menyiapkan fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur dalam upaya mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Untuk…

Kebutuhan Gula Seiring Kinerja Positif Industri Pengguna

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memproyeksi kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi…

Songsong Era Digital, Kemenperin Beri Pengarahan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menyambut kehadiran 375 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) hasil rekrutmen tahun 2018. Jumlah tersebut terdiri…