Air Bersih Anak Sehat

Oleh : Kencana Sari, SKM., MPH

Peneliti di Balitbangkes, Kemenkes RI

Ada yang menarik pada tampilan mesin pencari Google beberapa hari lalu. Dua karakter anak berseragam Pramuka dan merah putih tampil menghiasi mesin pencari di internet terbesar itu. Itu rupanya cara Google menyambut Hari Anak Nasional (HAN) di Indonesia yang jatuh setiap 23 Juli. Peringatan HAN di tahun ini bertema \"Indonesia yang ramah dan peduli anak dimulai dari pengasuhan dalam keluarga\" diantaranya dengan mewujudkan anak Indonesia yang sehat, cerdas, tangguh dan mandiri, ciptakan lingkungan aman dan nyaman untuk anak.

Menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman terkait dengan perwujudan anak yang sehat dan cerdas. Lingkungan fisik dan sosial akhirnya memang menentukan produk manusia seperti apa yang akan dihasilkan.

Berbagai studi menunjukkan bahwa akses (kuantitas dan kualitas) terhada air akan menentukan status gizi anak. Berangkat dari sebuah studi tentang dampak faktor pada masa prenatal dan lingkungan terhadap pertumbuhan anak menunjukkan bahwa penambahan berat lahir berdampak positif terhadap status gizi selanjutnya.

Berkaitan dengan itu, kualitas air minum rupanya punya andil atas status gizi anak. Studi tersebut menyimpulkan bahwa peningkatan kualitas air minum dapat meningkatkan status gizi. Hasil riset kesehatan dasar Kemenkes menunjukkan bahwa 18.3% daerah-daerah di seluruh Indonesia masih sulit untuk mendapatkan air minum. Bahkan jika kita lihat lagi berdasar propinsi maka ada sekitar 11 propinsi yang 25% masyarakatnya masih sulit mendapatkan air minum, terlebih lagi jika musim kemarau tiba.

Jika parameter akses air minum berkualitas adalah air terlindung, sarana berada dalam radius 1 km, tersedia sepanjang waktu, dan kualitas fisik airnya baik, maka baru 32,5% saja rumah tangga yang mempunyai akses terhadap air minum berkualitas. Keseluruhan di Indonesia masih ada 13 propinsi yang lebih dari 40% rumah tangganya mempunyai akses kurang baik terhadap air minum berkualitas.

Ketersediaan air yang berkualitas ini penting untuk diperhatikan. Air bersih tidak hanya mencegah dari penyakit infeksi tetapi juga menjaga status gizi anak agar tetap baik. Seperti diketahui infeksi merupakan salah satu faktor penentu status gizi anak. Bila status gizi kurang , kekurusan, kependekan akan berlanjut terhadap produktifitas dan kualitas seseorang ketika dia dewasa.

Dengan demikian pembenahan atas infrastruktur air juga mendesak. Sebuah studi di Nepal yang mengintervensi dengan menyediakan infrastruktur air bersih kepada masyarakat menunjukkan penurunan 40% terhadap angka kesakitan selama kurun waktu 3-5 tahun.

Kebijakan tentang pentingnya penguatan infrastuktur akses air bersih dan air berkualitas bagi seluruh anak Indonesia perlu lebih diperhatikan. Setidaknya infrastuktur dasar penyediaan air bersih dan berkualitas bisa tercukupi mengingat dampaknya terhadap kesehatan dan kematian, khususnya pada anak. Tentu saja pembangunan infrastuktur lain tidak boleh diabaikan.

Related posts