Kemenperin Minta Aturan DNI Diperlonggar - Banyak Perusahaan Berminat Investasi

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berusaha mengusulkan agar adanya pelonggaran ketentuan Daftar Negatif Investasi (DNI) untuk minuman beralkohol. Alasannya, banyak perusahaan yang berminat untuk berinvestasi di sektor tersebut.

\"Kami masih mengusulkan minuman keras, agar peraturan DNI mengenai minuuman beralkohol bisa dilonggarkan,\" ujar Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, Kamis (25/7).

Hidayat menjelaskan, dipandang dari sisi bisnis dan devisa, Indonesia sebetulnya bisa memperoleh investasi baru dengan ketentuan industri minuman beralkohol yang lebih longgar. Terbatasnya pasokan dari produksi dalam negeri, membuat Indonesia senantiasa harus mengimpor minuman tersebut dari luar negeri.

Tingginya angka impor tersebut, menurut Hidayat, merupakan peluang untuk meraup investasi lewat pengembangan industri minuman beralkohol. \"Impor minuman beralkohol terus meningkat, sehingga bisa memberikan peluang atau kesempatan memperoleh investasi yang baik untuk Indonesia,\" ujarnya.

Selain industri minuman beralokohol, pemerintah juga berencana membuka kembali masuknya investasi di sektor alat kesehatan dan pendidikan. Di kedua sektor tersebut pemodal asing bisa kembali menanamkan modalnya namun dengan ketentuan tidak boleh menjadi pemegang saham mayoritas.

\"Ada beberapa sektor yang sudah ditutup, tapi sektor alat kesehatan dan pendidikan dibuka lagi. Mau dibicarakan mengenai Penanaman Modal Asing (PMA) sampai berapa persen yang diperbolehkan untuk asing,\" tegasnya.

Industri minuman beralkohol di Indonesia menarik minat investasi produsen asing, baik dalam bentuk penanaman saham maupun investasi langsung. Meski demikian, investasi produsen saat ini masih terhambat peraturan daftar negatif investasi (DNI).

Heineken International BV, perusahaan minuman beralkohol asal Belanda, tahun ini mengakuisisi 75,10% saham produsen bir lokal PT Multi Bintang Tbk (MLBI). Adapun saham yang diakuisisi Heineken merupakan saham pindahan dari Asia Pacific Breweries Limited.

Pada Februari 2010, Heineken pernah menjual 65,1% saham Multi Bintang kepada Asia Pacific Breweries. Selain dari Heineken, Asia Pacific Breweries juga membeli 3,4% saham Multi Bintang dari Hollandsch Administratiekantoor. Nilai pembelian total 68,5% saham Multi Bintang oleh Asia Pacific Breweries pada 2010 sebesar Rp 2,33 triliun atau setara Rp 161.741 per saham.

Dengan menggunakan harga per saham sebesar Rp 1,4 juta per lembar, nilai akuisisi Heineken terhadap 75,1% saham Multi Bintang diperkirakan mencapai Rp 22,15 triliun. Nilai akuisisi tersebut hampir sepuluh kali lipat dari pembelian saham oleh Asia Pacific Breweries pada 2010.

Ketertarikan investor untuk mengakuisisi Multi Bintang juga karena kinerja perseroan yang menawarkan profitabilitas yang tinggi, dengan margin kotor sebesar 65% pada kuartal I 2013. Multi Bintang juga masih dapat meningkatkan margin usahanya sepanjang Januari-Maret 2013, yang tercatat naik 3,1% secara tahunan.\"Kami sangat gembira dengan akuisisi saham Multi Bintang oleh Heineken, karena akan mempercepat sinergi bisnis kami untuk mengembangkan kedua merek tersebut,\" kata Michael Chin, Presiden Direktur Multi Bintang.

Minat Produsen

Sebelumnya Benny Wachjudi, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian mengatakan saat ini sejumlah produsen minuman beralkohol yang berminat investasi di Indonesia seperti Biaggio (Johny Walker), produsen minuman dari Australia, serta perluasan kapasitas dari Grup Orang Tua. \"Namun investasinya belum boleh dilakukan, karena ada larangan sejak 1996,\" kata dia.

Ketertarikan produsen untuk berinvestasi juga tak lepas dari pasar yang terus bertumbuh di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, konsumsi minuman mengandung etil alkohol (MMEA) sepanjang tiga tahun terakhir tercatat terus tumbuh hingga mencapai 263 juta hektoliter di 2012.\"Tingginya konsumsi minuman alkohol salah satunya dipicu oleh peningkatan wisatawan asing di Indonesia,\" ujar Benny.

Related posts