Tunjangan Hari Raya

Ketentuan pemerintah yang mewajibkan para pengusaha membayar Tunjangan Hari Raya (THR) bagi karyawan paling lambat (H-7) sudah diterima yang bersangkutan, untuk sementara dapat melegakan hati para pekerja, khususnya yang sudah bekerja 3 bulan terus menerus.

Adapun perhitungan yang dipakai adalah sistem proporsional, sesuai dengan masa kerja karyawan. Karena itu, tidak mengherankan jika pada pekan-pekan ini banyak pegawai yang menerima uang THR tersebut. Hanya jangan sampai bekal THR itu dibelanjakan tanpa perhitungan yang matang sehingga langsung habis seketika untuk keperluan konsumtif.

Padahal, uang tunai yang diberikan setahun sekali itu idealnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan produktif, yang tentunya dapat bertahan agak lama misalnya, dapat dipergunakan sebagai modal usaha dengan skala bisnis UKM, atau untuk keperluan produktif seperti bisnis kue dan sejenisnya menjelang Lebaran. Mengapa?

Karena saat penerimaan THR tahun ini bertepatan dengan kondisi negara sedang prihatin, dimana harga BBM bersubsidi sudah naik, kenaikan harga komoditas pangan dan jasa transportasi yang cukup membebani daya beli masyarakat. Ini juga tercermin dari melonjaknya angka inflasi yang diprediksi lebih 8%, dan suku bunga perbankan terutama suku bunga kredit terdorong naik, gara-gara BI Rate melesat jadi 6,5% dalam waktu dua bulan berturut-turut.

Dampak dari kondisi perekonomian nasional yang memprihatinkan itu, tentu kita menghadapi ketidakpastian setelah Lebaran 2013. Pasalnya, tidak ada jaminan apakah kantor atau pabrik di mana pegawai bekerja saat ini masih beroperasi atau tidak. Kita perlu mengantisipasi ketidakpastian dunia usaha pascakenaikan harga barang dan jasa akibat terjangan krisis keuangan global.

Sudah dapat dipastikan terjadi kenaikan biaya produksi yang harus ditanggung oleh para pengusaha demikian besar, yang mungkin belum sesuai dengan harga jual produk yang dihasilkannya. Jadi, cukup bijak jika menggunakan uang THR dengan perhitungan yang cermat untuk masa depan. Ini yang harus disadari oleh segenap pegawai yang telah menerima uang THR tahun ini.

Selain itu, jangan lupa sisihkan sebagian dana THR untuk membayar zakat, sedekah, dan dana sosial lainnya. Karena pemberian santunan seperti ini merupakan “penyegar” bagai oase di tengah padang pasir yang tandus dan kering. Tak ada salahnya kaum dhuafa, anak yatim, anak telantar, dapat turut menikmati dampak dari aliran uang THR ini. Inil sebagai wujud solidaritas sosial, yang perlu terus dikembangkan bersamaan dengan momentum pembagian THR.

Kini saatnya semangat solidaritas sosial seperti ini yang perlu terus ditumbuhkembangkan, yang akan menggulirkan azas pemerataan. Karena THR tidak sekadar untuk kepentingan pribadi sendiri dan keluarganya (egosentris), namun juga berdampak bagi sesama.

Artinya, THR tidak hanya sekadar untuk memenuhi berbagai keperluan pribadi, namun juga untuk memenuhi dan membantu kehidupan orang lain yang serba kekurangan saat ini. Dengan cara seperti ini, suasana kehidupan kita akan semakin tenang dan diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan membiasakan memberi, setidaknya akan meningkatkan makna pembagian uang THR yang lebih luas.

Adanya dampak multiplier effect dari THR yang semakin meluas, dan tidak terbatas pada kehidupan keluarga pegawai, tentunya akan membangun semangat solidaritas sosial bangsa Indonesia di tengah kondisi perekonomian nasional yang memprihatinkan.

Adalah momentum pembagian THR pada hakikatnya merupakan hajat besar bagi seluruh masyarakat Indonesia. Artinya, yang berbahagia tidak hanya si penerima THR dan keluarganya, namun juga seluruh warga masyarakat di sekitarnya. Semoga!

Related posts