Ajaran Berzakat ala Dompet Dhuafa

Ajaran Berzakat ala Dompet Dhuafa

Zakat mengajarkan kita untuk lebih produktif hingga kita bisa menjadi pengusaha yang sukses, dan akhirnya bisa berinfak, bersedekah, berzakat, dan berwakaf. Melalui berzakat, kita juga bisa memberdayakan kaum lemah yang ada di sekitar kita.

“Zakat juga mengajarkan kita untuk jujur dalam setiap aktivitas bisnis, sama seperti kita harus jujur dalam menentukan besar zakat yang harus kita bayar dari setiap penghasilan kita,” kata M Arif Purwakananta, direktur sumberdaya Yayasan Dompet Dhuafa(YDD). Ide dasar itulah yang melatarbelakangi didirikannya pada 1 September 1994.

Hngga akhirnya, pada 8 Oktober 2001, YDD dikukuhkan untuk pertama kalinya oleh Kementerian Agama sebagai lembaga zakat nasional (Lembaga Amil Zakat/LAZ). Itu sesuai dengan UU Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan zakat, DD merupakan institusi pengelola zakat yang dibentuk oleh masyarakat.

Ada dua hal yang yang selalu mengginggapi para kaum dhuafa, yaitu pengangguran dan kemiskinan. Dua hal yang yang hingga kini menjadi masalah masyarakat dan bangsa. Untuk mengentaskan kaum dhuafa, YDD pun mengemasnya dalam sejumlah program pengelolaan dana masyarakat. Di antaranya mendirikan Institut Kemandirian pada 23 Mei 2005. “Tujuannya untuk mengentaskan pengangguran dan kemiskinan masyarakat melalui pelatihan berwiraswasta atau upaya mendapatkan pekerjaan yang layak,” tutur Arifin lagi.

Program yang ditawarkan sekurangnya ada sebelas macam. Yaitu, berbagai pelatihan ketrampilan sepeda motor, teknisi handphone, menjahit/fashion class, entrepreneurship & salesmanship, salon muslimah, IT (software & hardware), budidaya lele, catering & kuliner, handicraft (kerajinan), pelatihan elektronik.

“Semua gratis, biaya ditanggung Yayasan Dompet Dhuafa, bahkan peserta terbaik akan mendapat bantuan modal usaha,” kata Arifin. Kalaupun harus menyerahkan ijazah asli dan uang jaminan Rp 100 ribu, semua dikembalikan setelah selesai mengikuti pelatihan dan memulai usaha. Pelatihan mendapatkan sertifikat, karena memang diajarkan oleh mereka yang berpengalaman di bidangnya.

Berbuah Hasil

“Alhamdulillah kerja keras dan doa saya dan keluarga membuahkan hasil, kini saya memiliki 4 konter servis handphone dengan omzet kurang lebih Rp 60 juta per bulan,” kata Dudin, pria asal Malimping, Banten ini. Awalnya, Dudin adalah seorang pemulung untuk membantu orang tuanya, sambil bersekolah. Ganti profesi, menjadi tukang ojek dengan sepeda motor pinjaman. Hingga akhirnya sempat mengenyam kuliah hingga semester akhir putus, tak ada biaya.

Hingga akhirnya Dudin pun mendapat kesempatan mengikuti pelatihan di Institut Kemandirian. “Meski diadakannya hanya sebulan, hasil pelatihan yang saya dapat begitu mengesankan. Pengalaman memperbaiki handphone mati sudah pasti saya dapatkan. Kedua, saya mendapatkan pengetahuan baru tentang berwirausaha dan cara pengelolaannya,” ujarnya.

Menurut dia, ada hal yang paling menarik bagi saya saat pelatihan kewirausahaan. Oleh tentornya, dia diminta untuk berkeliling kampung berjualan kerupuk dan air mineral. Ini yang sampai saat ini masih saya rasakan. Mentalnya untuk berwirausaha benar-benar tertanam. Setelah lulus dari pelatihan, dan berbekal dana hibah dari YDD dalam bentuk peralatan servis handphone (ponsel), awalnya hanya menjual pulsa, lalu dikembangkan menjadi servise ponsel.

Ternyata usaha itu berpeluang, Karena di tempatnya membuka usaha, masih jaraang diemukan tempat servis ponsel. “Saya juga percaya bahwa suatu saat usaha yang masih kecil ini akan membesar sebagaimana impian saya,” kata Dudin, pemilik Sikah Cell di kawasan Malimping.

Khusus pelatihan teknisi HP, misalnya, sejak Januari hingga Desember 2013 membuka 11 angkatan. Tiap angkatan membutuhkan waktu pelatihan 25 hari penuh. Paling banyak, kelas pelatihan mengemudi, hingga 12 angkatan yang tiap angkatan membutuhkan waktu 11 hari. Sedangkan pelatihan menjahit dan tata busana butuh waktu yang cukup lama juga, yaitu selama tujuh pecan. Pelatihan tata boga tematik waktunya cukup singkat, hanya lima hari.

Di antara ‘dosen’ yang dihadirkan di Institut Kemandirian ada Ippho Santosa, pendiri Khalifah Group yang juga penulis bestseller buku ‘7 Keajaiban Rezeki’. Lainnya, Dahlan Iskan menteri BUMN. Untuk memberi motivasi peserta Institut Kemandirian, para alumnus pun menerbitkan kisah suksesnya dalam sebuah buku besar bertajuk ‘Rela Kecebur, Demi Bebas Nganggur’. (saksono)

Related posts