Tampilkan Wajah Indonesia Sesungguhnya

The Venice Biennale 2013

Sabtu, 03/08/2013

Indonesia turut ambil bagian dalam pameran 55thInternational Art Exhibition of the Venice Biennale atau yang lebih dikenal dengan The Venice Biennale 2013 di Kota Venice, Italia. Dalam ajang pameran karya seni rupa kontemporer yang tertua, terbesar dan paling bergengsi di dunia.

Paviliun Indonesia menampilkan karya seni rupa kontemporer terbaik dari lima perupa Indonesia yaitu Sri Astari (dengan karya patung Dancing the Wild Sea), Albert Yonathan Setyawan (Cosmic Labyrinth: A Silent Pathway), Entang Wiharso (The Indonesian: No Time To Hide), Eko Nugroho (Penghasut), dan Titarubi (Shadow of Surender).

Dengan mengangkat tema “Sakti” yang menggambarkan energi kreatif yang kuat, ilahiah, tak terkalahkan dan bisa mencapai lebih ketimbang manusia biasa, dipamerkan untuk menggambarkan keragaman karya seni rupa kontemporer Indonesia kepada dunia.

Tampilnya karya seni rupa Indonesia yang difasilitasi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan didukung oleh beberapa instansi pemerintah dan institusi swasta kali ini sangat berbeda dengan keikutsertaan pada pameran Venice Biennale sebelumnya yang hanya diwakili oleh individu ataupun galeri.

Karya seni rupa kontemporer Indonesia ditampilkan dalam satu area seluas 500 meter persegi sebagai suatu paviliun yang berada dalam anjungan utama di area Arsenale sehingga menarik perhatian para pengunjung pameran dan para wisatawan yang datang dari seluruh dunia. Karya seni rupa Indonesia lebih menampilkan karya-karya 3 dimensi yang mencerminkan kekayaan warisan budaya Indonesia tetapi dalam bentuk kontemporer. Beberapa karya yang ditampilkan di Paviliun Indonesia bahkan telah mendapatkan respon positif dari kolektor dan pemilik galeri seni rupa internasional dalam bentuk keinginan untuk mengoleksi karya-karya yang ditampilkan.

Paviliun Indonesia tersebut melibatkan Soedarmadji Damais sebagai komisioner dan Achille Bonito Oliva sebagai Wakil Komisioner, Carla Bianpoen dan Rifky Effendy sebagai kurator, dan diproduksi oleh PT. Bumi Purnati Indonesia yang dipimpin oleh Restu Imansari Kusumaningrum bekerjasama dengan Change Performing Arts (Indonesia-Italia). Bahkan karena tampilannya di Venice Biennale, seniman Sri Astari mendapat undangan untuk memamerkan karyanya juga di Festival yang bergengsi di Italia yaitu Festival Spoleto baru-baru ini.

Pada hari-hari puncak Paviliun Indonesia bisa memperoleh 500-600 pengunjung. Paviliun Indonesia kali ini turut pula merepresentasikan karya seni rupa dari Asia, karena di ajang 55thInternational Art Exhibition of the Venice Biennale hanya ada beberapa negara, seperti Saudi Arabia dan Iran, yang tampil total dalam satu pavilun besar seperti Paviliun Indonesia.

Pameran yang berlangsung selama enam bulan dari 1 Juni hingga akhir November 2013. Dampak positif yang diharapkan selain keuntungan langsung kepada para seniman yang ikut adalah minat wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia.