Pertamina Berencana Bangun 7 SPBG - Konversi BBM ke BBG

NERACA

Jakarta - Demi mendukung kebijakan Pemerintah terkait dengan konversi dari Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG), PT Pertamina (Persero) berencana akan menambah 7 unit Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG). \"Nantinya ketujuh SPBG itu sepenuhnya akan dibiayai oleh dana internal Pertamina,\" kata Direktur Gas Pertamina, Hari Karyuliarto di Jakarta, Rabu 23/7).

Menurut Hari, pembangunan SPBG sudah masuk dalam rencana kerja perusahaan. Kebijakan ini sekaligus untuk mendorong penggunaan kendaraan berbahan bakar gas terutama angkutan umum di Jabodetabek. Proyek SPBG yang dikerjakan Pertamina selama 2013 antara lain SPBG Cililitan, Pulogadung di Jakarta Timur, serta revitalisasi SPBG Mampang, dan Bendagading.

Ia mengakui bahwa jumlah SPBG yang ada di wilayah Jakarta dan sekitarnya saat ini masih jauh dari mencukupi karena kurang dari 30 stasiun. \"Idealnya di Jabodetabek itu ada lebih dari 30 SPBG. Untuk amannya mungkin 50 unit SPBG,\" kata Hari.

Selain dari dana perusahaan, pemerintah melalui APBN 2013 juga mengalokasikan dana sekitar Rp474 miliar untuk pembangunan SPBG. Dana tersebut disalurkan melalui Pertamina untuk pembangunan pompa gas di sejumlah kota besar di Jawa dan wilayah Indonesia lainnya.

Hari melanjutkan Pertamina sudah menyiapkan cadangan gas lebih dari 35 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) untuk mendukung rencana pembangunan SPBG di sejumlah kota di Indonesia tersebut. \"Kalau pasokan gas CNG alokasinya lebih dari cukup. Cuma yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah adalah soal infrastruktur penunjang, seperti stasiun induk (mother station), jaringan pipa gas dan alat konverter,\" jelasnya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk 2013 memprogramkan pembagian 2.000 unit alat konverter BBG secara gratis kepada angkutan umum dengan kebutuhan dana mencapai Rp35 miliar. Pengadaan konverter juga akan melibatkan tiga BUMN, yakni PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, dan PT Wijaya Karya.

Total kebutuhan konverter kit secara nasional diperkirakan mencapai 40 ribu unit. Namun pada tahun 2013 hanya ditargetkan 14.000 unit mengingat keterbatasan anggaran dan infrastruktur SPBG. Yakni 10 ribu unit konverter disediakan Kemenperin dan sisanya oleh Kementerian ESDM.

Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok akan mempermudah proses perizinan pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di wilayah ibukota. Sebab, penambahan transportasi massal BBG di ibukota harus diiringi dengan ketersediaan SPBG.

Hal tersebut dikemukan Ahok usai menghadiri rapat pembahasan Penerbitan Perijinan untuk Pembangunan SPBG, Mobil ber-BBG dan Penggelaran Pipa jaringan Gas di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). \"Nah, supaya bisa dapat gas, kami juga mempermudah perizinan supaya cepat. Izin-izin boleh menyusul sajalah, yang penting gas ada gitu,\" ujar Ahok.

Seperti yang sering disampaikan, pemerintah provinsi DKI Jakarta bakal menambah 1.000 armada bus Transjakarta. Bahkan tahun ini diperkirakan armada bus Trans Jakarta bakal mencapai 694 unit. Meningkatnya jumlah armada angkutan massal khusus ibukota tersebut tentnunya membutuhkan pembangunan SPBG tambahan.

Ahok mengatakan target pembangunan SPBG diharapkan mencapai sekitar 40 SPBG. Dirinya juga melaporkan, Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Hendi Prio Santoso, telah menyatakan kesanggupannya untuk segera melakukan penyambungan pipa gas ke SPBG di Jakarta yang kekurangan gas.

\"Kami berterima kasih menteri ESDM sekarang sudah komitmen ingin bangun sampai 40 SPBG. Tahun ini kita harap bisa terpasang sampai 40. Terus SPBG kami yang 3 tahun tidak ada gas, tadi dari Dirut PGN, pak Hendi, juga baik banget, besok dia langsung instruksikan untuk menyambung pipa nih,\" kata Ahok menuturkan.

Perbanyak Infrastruktur

Sebelumnya, Menteri Energi Sumber Daya Mineral Jero Wacik mengatakan, untuk mendukung konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) Perusahaan Gas Negara (PGN) diminta lebih memperbanyak infrastruktur industri untuk mendorong BBG keseluruh pelosok Indonesia. Ini karena gas di Indonesia biayanya lebih murah bila dibandingkan dengan Bahan Bakar Minyak (BBM).

\"Bahan Bakar Gas itukan biayanya lebih murah ketimbang BBM, ini yang akan kita terapkan ke semua transportasi seperti, taksi akan menggunakan gas semua, yang romobongan-rombongan bahkan ribuan taksi, bajaj juga, transjakarta, dan bus-bus jakarta juga nantinya,\" ujar Jero.

Jero menambahkan, untuk realisasinya tersebut, sudah mulai diterapkan di kota-kota besar yakni Jakarta (Jabodetabek), Surabaya, Palembang dan Balikpapan. Sementara itu dia juga berharap agar bisa bekerjasama dengan pihak-pihak yang berkepentingan dalam proses konversi dari BBM ke BBG.

\"Saat inikan kami sudah mulai di empat kota besar, ini bisa kita kerjakan, Jakarta sudah jelas Jabodetabek, kemudian Surabaya, Palembang, dan Balikpapan. Itu kita akan dorong pelopor menggunakan gas dan saya yakin akan kerjasama dengan pihak yang terkait mengenai konversi perpindahan dari bbm ke bbg untuk kedepannya,\" tukas Jero.

Sedangkan untuk realisasinya tersebut, lanjut Jero, memang rencana ini tidak bisa diterapkan dalam kurun waktu satu tahun. Namun, dalam penerapan tersebut membutuhkan waktu lebih dari itu dengan sistem bertahap.

\"Memang tidak bisa langsung diterapkan satu tahun, semuanya tidak bisa langsung, itu butuh bertahap, karena negara-negara lain saja butuh waktu lima tahun baru bisa berjala. Kita tahun depan harus lebih keras lagi dalam mendorong perpindahan konversi dari BBM ke BBG, mari kita dorong semangat ini,\" tutup Jero.

Related posts