Asuransi Mutual Harus Dipertahankan

NERACA

Jakarta - Nasib perusahaan asuransi berbentuk mutual atau usaha bersama ini dirundung awan hitam, lantaran dalam pembahasan revisi Undang-undang Perasuransian yang kini di Komisi XI DPR, pemerintah mengusulkan untuk menghapus dan mengharuskan semua perusahaan asuransi berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Namun, hal ini ditampik pengamat asuransi Irvan Rahardjo. Dia menilai, keberadaan asuransi mutual harus dipertahankan dalam UU Perasuransian yang baru karena memiliki keunggulan.

Keunggulan yang dimaksud, yakni menyatunya fungsi kepemilikan perusahaan dengan fungsi konsumen, sehingga dapat menghindarkan dari terjadinya konflik antara investor dengan pemegang polis yang kerap terjadi pada perusahaan asuransi umumnya. Nah, alasan inilah mengapa mutual sebagai bentuk usaha asuransi bisa hidup lama bahkan hingga seratus tahun di berbagai belahan dunia.

“Harus dipertahankan karena asuransi mutual telah menjadi aset nasional yang dijamin oleh konstitusi dengan jumlah lima juta pemegang polis,” kata Irvan kepada Neraca, Selasa (23/7) Dia juga menegaskan, penghapusan “mutual” dalam UU Peraasuransian ini juga akan berdampak sistemik bagi industri asuransi dan keuangan dengan biaya yang sangat besar dan akan berkurangnya kepercayaan masyarakat.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator agar segera memberlakukan peraturan tentang usaha bersama asuransi tersebut. “Untuk menjamin tata kelola perusahaan yang baik, terutama akuntabilitas dan transparansi kepada pemegang polis yang diwakili,” ucap dia.

Lalu, perusahaan asuransi terkait harus melakukan penyehatan atas usaha bersama asuransi yang ada dengan menempatkan pengelola statuter dari OJK. “Dan juga mereka menggelar permusyawaratan diantara seluruh anggota usaha bersama untuk menentukan kelanjutan usaha atau merubah bentuk badan usaha lainnya,” papar Irvan. Dia mengharapkan kelemahan mutual ini hendaknya tidak dijadikan apriori yang akhirnya menghapus bentuk usaha ini dalam UU.

“Mutual memang memiliki kelemahan dalam akses permodalan, namun salah satu pilihan untuk menambah modal adalah dengan pinjaman subordinasi dari pemegang polis,” imbuh dia. Irvan pun mencontohkan, baik negara Barat yang berideologi kapitalisme maupun Timur seperti Jepang dan Korea, semuanya didasari oleh semangat kekeluargaan diantara anggota.

“Maka tak heran, asuransi mutual bisa bertahan hingga ratusan tahun,” tambah Irvan. Dia juga membandingkan Metropolitan Life, perusahaan asuransi asal AS, yang menyelenggarakan pemungutan suara demutualisasi kepada 11 juta pemegang polis pada 2000 silam, dan menghasilkan 2,76 juta menggunakan hak pilih, 2,57 juta diantaranya menyetujui demutualisasi.

Irvan juga mengatakan, jika nantinya mutual masih tetap sebagai bentuk usaha perasuransian di Indonesia, dia berharap perusahaan hendaknya menjadi lebih transparan dan akuntabel. “Tidak hanya sekedar menjadi praktek ponzy system yang sarat konflik kepentingan antara pengelola sekaligus pemegang polis,” tukasnya. [sylke]

Related posts