Penjualan Turun, Indofarma Rugi Rp 9,29 Miliar

NERACA

Jakarta – Mengalami penjualan yang merosot dan tender yang belum terealisasikan, menyebabkan PT Indofarma Tbk (INAF) membukukan rugi menjadi Rp 9,29 miliar pada semester pertama tahun ini. Padahal periode yang sama pada tahun lalu perseroan berhasil meraup untung Rp 6,13 miliar.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (23/7). Disebutkan, kerugian tersebut karena beberapa faktor. Pertama, penjualan perseroan turun sektiar 14,45% pada semester pertama 2013. Kedua, ada kemunduran realisasi tender pada semester pertama 2013.

Padahal tahun 2012, perseroan telah merealisasi tender dalam waktu cepat sehingga memperoleh tender signifikan. Selain itu, perseroan juga melakukan renovasi pabrik di Cibitung untuk memenuhi standar baru pabrik obat. Renovasi pabrik di Cibitung menghabiskan biaya sekitar Rp 17 - 20 miliar.

Perseroan juga mencatatkan rugi per saham menjadi 3 hingga semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya 1,98. Selain itu, total liabilitas perseroan turun menjadi Rp 505,93 miliar pada 30 Juni 2013 dari periode 31 Desember 2012 sebesar Rp 538,51 miliar. Ekuitas perseroan turun menjadi Rp 636,56 miliar pada 30 Juni 2013 dari periode 31 Desember 2012 sebesar Rp 650,10 miliar. Kas dan setara kas perseroan turun menjadi Rp 29,19 miliar pada 30 Juni 2013 dari periode 31 Desember 2012 sebesar Rp 194,90 miliar.

Penjualan perseroan turun 14,45% menjadi Rp 346,22 miliar hingga semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 404,72 miliar. Beban pokok pendapatan perseroan turun menjadi Rp 222,17 miliar hingga semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 244,99 miliar. Sehingga laba bruto perseroan turun menjadi Rp 124,05 miliar hingga semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 159,73 miliar.

Indofarma memang tengah menguras dana untuk pembangunan pabrik site-II yang diperkirakan menelan biaya hingga Rp 72 miliar, renovasi pabrik sekira Rp 17 miliar dan herbal Rp 23 miliar. Perseroan menargetkan renovasi pabrik di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, rampung bulan ini dan sudah mampu beroperasi mulai bulan depan.

Sebelumnya, pada 12 Juli lalu Direktur Utama Indofarma Elfiano Rizaldi mengatakan, menghadapi pemberlakuan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) atau Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pada 2014, perseroan sedang fokus menyelesaikan renovasi pabrik obat.

Dia optimis permintaan produk obat dipastikan akan meningkat seiring penyelenggaraan program pemerintah tersebut. Selain renovasi pabrik, perseroan juga akan membangun pabrik obat baru di kawasan Cibitung untuk memenuhi meningkatnya permintaan. Pembangunannya dimulai awal tahun depan.

Dengan pembangunan pabrik baru dan renovasi pabrik itu, maka kapasitas produksi obat Indofarma diharapkan akan menjadi dua kali lipat. Saat ini, perseroan mampu memproduksi obat sebanyak 2,5 miliar per tahun, baik dalam bentuk kapsul maupun tablet. Setelah renovasi dan adanya pabrik baru beroperasi, maka produksi obat akan digenjot menjadi 5 miliar tablet atau kapsul dengan 90% merupakan obat generik. (lia)

Related posts