Capai Swasembada Gula Diperlukan 10 "Glenmore"

NERACA

Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengatakan bahwa perlu sebanyak sepuluh pabrik gula lagi yang setara Glenmore untuk mencapai swasembada gula. “Kalau mau Indonesia swasembada harus bangun pabrik gula lagi sebesar Glenmore 10 pabrik lagi, kalau tidak, omong kosong,” kata Dahlan di Jakarta saat acara Penyerahan Penetapan Engineering, Procurement, Construction (EPC) Pabrik Gula Glenmore, Selasa (23/7).

Untuk diketahui, PT Industri Gula Glenmore adalah perusahaan konsorsium gula yang berlokasi di Banyuwangi. Glenmore merupakan anak perusahaan dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III (saham 60%), PTPN XI (10%), dan PTPN XII (30%).

Untuk membangun pabrik gula tersebut, diperlukan biaya sebesar Rp1,5 triliun yang 30% dari pendanaan sendiri para pemegang saham dan sisanya pinjaman dari perbankan. Beberapa bank yang sudah dihubungi adalah Bank Mandiri, BRI, Bank Bukopin, dan Bank Jatim.

Pabrik yang akan dibangun berkapasitas 6.000 ton tebu per hari (TTH) dan akan ditingkatkan menjadi 8.000 TTH. Untuk memenuhi kapasitas tersebut dengan masa giling 150 hari per tahun, maka diperlukan tebu sebanyak 900 ribu ton sampai 1,2 juta ton atau setara luas tanam 9 ribu hektar sampai 10 ribu hektar. Pada awal produksinya diharapkan dapat memperoleh rendemen sebesar 9%. Dengan asumsi tersebut, maka akan diperoleh gula putih premium sebanyak 9.000 ton.

Bahan baku berupa tebu akan dipasok sepenuhnya dari kebun-kebun PTPN XII di Kabupaten Banyuwangi dan Kebupaten Jember yang terdekat dengan pabrik. Hal tersebut sudah menjadi kesepakatan para pemegang saham.

Rencananya, pembangunan pabrik Glenmore akan rampung dalam dua tahun dan pada Agustus 2015 sudah mulai beroperasi. “Asal kerja serius bisa. Pertama kerja serius, kedua pengawasan serius. Biasanya proyek itu telat karena ada sengketa. Apakah desainnya berubah, apakah pendanaannya seret, apakah masalah tanah yang tidak selesai-selesai,” kata Dahlan.

Namun, Glenmore ini, lanjut Dahlan, dari sisi desain sudah final. Dari segi pendanaan ada dari BUMN. Dan dari segi tanah, tidak perlu membebaskan tanah karena menggunakan tanah PTPN sendiri.

“Sehingga unsur-unsur yang membuat terlambat mestinya tidak ada. Karena kalau terlambat, tebunya sudah ditanam dan diperkirakan panen saat pabrik itu sudah jadi. Kalau pabrik belum jadi, tebunya mau diapakan?” ujar Dahlan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa produksi gula nasional selalu lebih rendah dari kebutuhan nasional. Pada 2012, BPS mencatat produksi gula nasional sebanyak 2,3 juta ton. Dalam sepuluh tahun terakhir, produksi gula paling tinggi adalah pada tahun 2008, yaitu sebanyak 2,7 juta ton gula. Padahal, kebutuhan gula nasional adalah sebanyak 3 juta ton. Artinya, sudah sejak lama Indonesia melakukan impor gula.

Untuk itu, Dahlan menginginkan agar pembangunan pabrik gula bisa terus didorong, baik oleh swasta maupun PTPN. “Siapa saja boleh, swasta boleh, PTPN juga boleh. (Mengenai lokasi), kita masih cari pandangan, apakah di Lampung, apakah di Sulawesi, yang jelas tidak di Kalimantan,” kata Dahlan.

Lampung disebut-sebut Dahlan karena memang di Lampung terjadi pergerakan yang cukup besar dalam industri gula nasional. Sebelum tahun 1970-an, Lampung bukanlah produsen gula. Tapi setelah itu masuk PT Gunung Madu Plantations (GMP) yang kemudian mendorong dibangunnya beberapa pabrik gula lainnya di Lampung, di antaranya PT Gula Putih Mataram (GPM), PT Sweet Indo Lampung (SIL), dan PT Pemuka Sakti Mas Indah (PSMI). Akhirnya sampai saat ini, Lampung tercatat sebagai lumbung gula nasional dengan produksi sebesar 35% produksi gula nasional. [iqbal]

Related posts