Inalum Lebih Praktis Diambil BUMN - Penilaian Menperin

NERACA

Jakarta - Negosiasi akuisisi sisa saham PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebesar 58,87% masih belum menemui titik terang. Bahkan Menteri Perindustrian, MS Hidayat menilai Inalum akan lebih praktis bila diambil alih Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. \"Kalau mau praktis, Inalum diambil saja Menteri BUMN,\" kata dia di, Jakarta, Selasa (23/7).

Paska kembali ke pangkuan Indonesia pada 1 November 2013, Hidayat melanjutkan, Inalum bisa masuk menjadi bagian BUMN yang sudah ada. Sedangkan bila ada pemerintah daerah yang meminta porsi saham Inalum, bukan merupakan urusan pemerintah pusat.\"Kami sudah sama-sama menghitung dan bertemu lagi dengan pihak Jepang minggu depan. Tapi tidak mengumumkan berapa (perbedaan nilai aset), karena itu adalah strategi perundingan,\" jelasnya.

Saat ini, dia memastikan pendekatan antara pemerintah Indonesia dan Jepang masih berlangsung. Hidayat berharap, PT Nippon Asahan Aluminium dapat mengikuti angka (nilai) yang ditetapkan Badan Pengawas Keuangan Pembangunan (BPKP).

\"Maunya mereka yang ikut angka Indonesia, karena hitung-hitungannya sudah diperoleh BPKP. Kan proses masih tiga bulan lagi, namanya juga negosiasi,\" tukas dia.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa menambahkan, perbedaan nilai aset masih menjadi pembicaraan antara kedua belah pihak menyusul pertemuan pada 10 Juli 2013.\"Kami akan terus berpegang teguh pada nilai buku BPKP. Sedangkan Jepang berpegang pada master agreement, karena mereka mengganggap ada revaluasi aset. Sementara Indonesia berpendapat tidak ada revaluasi aset,\" tukas Hatta.

Kontrak Habis

Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengaku siap mengelola PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) setelah diambil alih pemerintah dari Jepang. Saat ini kontrak Inalum dengan Jepang sudah habis, dan Dahlan siap menjadikan Inalum sebagai salah satu perusahaan pelat merah. \"Silakan aja, yang jelas kontraknya sudah selesai, diserahkan lagi ke Indonesia,\" ucap Dahlan.

Menurut Dahlan, Inalum nantinya akan menjadi BUMN yang berdiri sendiri dengan menjalankan cash flow yang ada saat ini. Mengembangkan BUMN Inalum tidak butuh modal besar kecuali dana untuk mengambil alih dari Jepang saja. \"BUMN murni dulu karena kalau Antam sebagian sudah milik publik. BUMN murni tinggal jalankan cash flownya saja. Kalau perlu suntikan untuk membelinya kepada Jepang itu saja,\" tuturnya.

Dia menjelaskan, pihaknya akan melakukan rapat negosiasi pada tanggal 3 Juli untuk bahas dua hal. “Pertama dengan pembicaraan dengan NAA ada kesepakatan mengalihkan Inalum ke Indonesia, kita sudah persiapkan itu,\" ujarnya.

Selain dijadikan tempat industri aluminium, lanjut dia, daerah di sekitar Inalum yaitu Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batubara Asahan, Sumatera Utara sekaligus diarahkan menjadi kawasan industri berbasis aluminium. Sehingga dapat meningkatkan nilai tambah logam dasar tersebut untuk produksi dalam negeri.

Pengambilalihan Inalum di Sumatera Utara ke pemerintah, lanjutnya, akan menguntungkan. Pasalnya, di masa depan Indonesia dapat mengurangi impor bahan jadi aluminium.Apalagi, seiring peningkatan daya beli masyarakat, bahan jadi berbahan alumunium seperti rak buku, rangka rumah, hingga transmisi listrik, membutuhkan bahan logam dasar tersebut.

Inalum berdiri pada 1976, dengan 58 % sahamnya dikuasai konsorsium 12 perusahaan Jepang, termasuk Mitsubishi Corporation. Pada 2012 penjualan aluminium jenis ingot dari Inalum mencapai 198.003 ton. Dengan rincian, diekspor ke Jepang sebesar 115.002 ton dan dipasok ke pasar domestik sebesar 83.001 ton.

Hasil kajian Tim Pengambilalihan Inalum menyebutkan, akuisisi saham Inalum akan berdampak positif untuk kepentingan negara. Alasannya, industri alumunium memiliki prospek baik seiring program hilirisasi industri yang dicanangkan pemerintah.

Selain itu, Inalum merupakan satu-satunya perusahaan peleburan alumunium di Asia Tenggara yang memiliki fasilitas lengkap. Sehingga pemerintah dapat memanfaatkan pabrik ini sebagai fondasi integrasi industrialisasi di Indonesia.

PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) mengaku kesiapannya untuk menjadi pengelola produsen penghasil alumunium di PT Indonesia Alumunium (Inalum). Perseroan juga berharap dapat ditunjuk pemerintah jika Inalum sepenuhnya dikuasai Indonesia.\"Kalau ditanya serius take over, tentu siap,\" ujar Direktur Keuangan ANTM, Djaja Tambunan.

Related posts