Harga Jadi Acuan Kebijakan Impor Daging - Pasca Sistem Kuota Dihapus

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Bachrul Chairi menyatakan bahwa dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 699/MDAG/KEP/7/2013 tentang Stabilisasi Harga Daging Sapi maka kran impor untuk sapi siap potong telah dibuka sampai dengan 31 Desember 2013. Meskipun begitu, pihaknya menyatakan impor akan dihentikan ketika harga telah mencapai ketentuan yang telah disepakati.

\"Saat ini acuannya jadi harga. Ketika harga daging mencapai Rp79 ribu maka importasi akan dihentikan. Akan tetapi ketika harga lebih dari Rp79 ribu maka kita akan terus melakukan impor sampai harga kembali ke normal yaitu Rp79 ribu perkilo,\" ungkap Bachrul ketika ditemui di kantornya, Selasa (23/7).

Ia menyatakan dengan dikeluarkannya aturan tersebut maka sampai dengan H+5 lebaran, Indonesia akan kedatangan 6.500 ekor sapi yang telah siap potong guna menstabilkan harga di dalam negeri. Kedatangan tersebut dibagi dalam 4 gelombang. Sedangkan untuk urusan karantina, proses karantina telah dilakukan di negara asalnya yaitu Australia dan membawa tenaga karantina di kapal yang membawa sapi sampai ke Jakarta.

\"Gelombang pertama akan datang sebanyak 1.500 ekor sapi pada 1 Agustus, dilanjutkan pada 3 Agustus sebanyak 1.500 ekor, pada 16 Agustus sebanyak 1.500 ekor dan pada 18 Agustus kedatangan 2.000 ekor sapi. Sapi datang setelah melalui proses karantina yang sudah dilakukan di Australia. Saat tiba di Indonesia tinggal disebar ke RPH (Rumah Pemotongan Hewan) yang sesuai dengan rekomendasi Kementan,\" imbuhnya.

Menurut Bachrul, ada 7 importir sapi yang sudah mengajukan dan berniat untuk mendatangkan 6.500 ekor sapi siap potong asal Australia. Saat ini prosesnya masih menunggu rekomendasi kesehatan yang dikeluarkan Kementerian Pertanian. \"Ada 7 perusahaan yang siap untuk datang dan potong,\" imbuhnya.

Langkah ini ditempuh agar harga daging bisa ditekan ke level Rp 76.000/kg. Bachrul mengklaim kebijakan ini tidak akan merugikan para peternak karena Indonesia nyatanya kekurangan stok sapi hidup. \"Sementara itu untuk sapi siap potong impor, kita harus hati-hati dan tetap menjaga kebutuhan petani. Sehingga harga akan ditekan di angka Rp 76.000. Harga itu tentu dapat memihak peternak kita, sehingga mata rantai diperpendek,\" kata Bachrul.

Terkait dengan ulah spekulan yang memainkan harga daging sehingga bisa melonjak, menurut Bachrul, hal tersebut justru membuat spekulan menjadi rugi lantaran daging yang diimpor tidak terserap dengan baik oleh masyarakat. Ia juga menjelaskan bagi importir yang telah mendapatkan izin impor akan tetapi karena harga sudah normal maka impornya akan ditunda. \"Akan dipending dulu,\" katanya.

Dijamin Halal

Di tempat terpisah, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menegaskan bahwa daging sapi beku yang diimpor dari Australia merupakan daging halal dan penolakan pedagang untuk memasarkannya bukan terkait hal tersebut. \"Kalau yang kita impor dari Australia itu saya jamin halal, kita mengikuti betul terkait hal itu,\" kata Bayu seusai membuka pasar murah di Direktorat Pengembangan Mutu dan Barang Kementerian Perdagangan di Jakarta.

Bayu mengatakan, Australia selalu mengutamakan kehalalan khususnya untuk para konsumen di Indonesia yang sangat sensitif terkait hal itu. \"Mereka tahu bagaimana masyarakat kita sangat sensitif terhadap masalah kehalalan, jadi saya sangat yakin daging tersebut halal, dan penolakan beberapa pedagang tersebut terkait dengan selera saja,\" ujar Bayu.

Impor Sapi

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo) Joni Liano mengaku akan mengimpor sebanyak 45 ribu ekor sapi siap potong setiap bulannya. Dalam aturan pengetatan impor daging sapi, Pemerintah hanya memberi jatah 80 ribu ton dengan rincian 32 ribu ton daging sapi beku dan 267 ribu ekor sapi atau setara dengan 48 ribu ton.

\"Dari 267 ribu ekor pertahun, maka kami hanya mengimpor 22 ribu ekor perbulan. Padahal setiap bulannya kebutuhan daging mencapai 45 ribu ekor perbulan. Maka dari itu, mulai dari Agustus sampai akhir tahun, kami akan mengimpor 45 ribu ekor perbulan,\" tuturnya.

Menurut dia, pihaknya telah menghitung kebutuhan daging nasional mencapai 549 ribu ton pertahun. Untuk impor mencapai 120 ribu ton dan sisanya dipasok dari daging lokal. Namun, kata dia, ada perbedaan pendapat antara Pemerintah dengan pengusaha yaitu mengenai besaran impor.

Dijelaskan Joni, komposisi impor yang pas adalah 79% dari daging sapi lokal sementara 21% dari impor. Akan tetapi, Pemerintah justru merasa mampu dengan komposisi 85% lokal dan 15%. \"Dari tahun lalu, kami telah menghimbau kepada Pemerintah. Kita bisa lihat hasilnya sekarang, justru Pemerintah membuka kran impor daging. Itu karena pasokan di dalam negeri belum cukup menghadapai kebutuhan yang meningkat,\" katanya.

Related posts