Abenomics dan Implikasinya di Indonesia

Oleh: Imaduddin Abdullah

Peneliti INDEF

Dalam pemilu yang diselenggarakan pada 21 Juli 2013, partai koalisi pendukung Perdana Menteri Shinzo Abe memenangkan kursi mayoritas Majelis Tinggi Parlemen Jepang. Walau kemenangan partai Abe tersebut sudah diprediksikan sebelumnya, momen tersebut sangat dinanti oleh berbagai kalangan baik dari domestik Jepang maupun para pelaku pasar. Satu makna dari kemenangan Abe adalah akhirnya Jepang akan memiliki pemerintahan yang stabil setelah sejak ditinggal PM Koizumi berada pada ketidakstabilan politik. Meski sudah memimpin Jepang sejak akhir 2012, namun kemenangan terbaru Abe diyakini akan semakin memuluskan dikeluarkannya kebijakan reformasi ekonomi lainnya.

Abenomics

Sejak memimpin Jepang, Perdana Menteri Abe memperkenalkan sebuah grand design reformasi ekonomi yang dikenal sebagai Abenomics dan terdiri dari tiga \'panah\' utama. Panah pertama adalah kebijakan moneter yang lebih agresif dengan menargetkan inflasi sebesar 2%, melakukan depresiasi yen, serta kebijakan quantitative easing. Panah kedua adalah kebijakan fiskal yang ekspansif dalam bentuk peningkatan public spending hingga 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang yang diharapkan mampu menstimulus perekonomian domestik Jepang. Sedangkan panah terakhir adalah reformasi struktural untuk meningkatkan daya saing Jepang. Secara keseluruhan, grand design kebijakan tersebut ditujukkan untuk mengakhiri stagnasi ekonomi yang dialami oleh Jepang sejak awal dekade 90-an.

Dalam 6 bulan pertama sejak kebijakan baru ini diperkenalkan oleh pemerintah Jepang, perekonomian negeri Sakura itu menunjukkan tren positif. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa indikator seperti PDB Jepang yang pada triwulan pertama mengalami ekspansi sebesar 0,9% dibanding triwulan sebelumnya. Meningkatnya produksi industri dan penjualan ritel diyakini memberikan andil terhadap kembalinya Jepang dalam fase pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, akibat terdepresiasinya yen sebesar 12% sejak bulan Januari 2013, ekspor Jepang juga mengalami peningkatan sebesar 10% dan memberikan kontribusi 0,4% terhadap pembentukan PDB.

Kemenangan Abe kali ini setidaknya menambah angin segar bagi perekonomian global yang sejak tahun 2008 mengalami kelesuan. Jepang menjadi salah satu negara di dunia yang justru mengalami perbaikan kinerja ekonomi di tengah resesi global.

Bagi Indonesia, perbaikan ekonomi di dalam negeri Jepang seharusnya menjadi berita baik mengingat Jepang merupakan salah satu negara tujuan utama ekspor Indonesia dimana Jepang menjadi negara tujuan dari 16% total ekspor Indonesia di tahun 2012. Sehingga membaiknya perekonomian Jepang diharapkan mampu meningkat permintaan domestik Jepang terhadap barang-barang dari Indonesia. Lebih dari itu, perbaikan ekonomi Jepang juga dapat menjadi kompensasi atas melemahnya ekonomi negara-negara yang selama ini menjadi tujuan ekspor Indonesia seperti China dan India.

Selain dari saluran perdagangan, perbaikan ekonomi Jepang juga diharapkan mampu meningkatkan investasi Jepang di Indonesia dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA). Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi PMA Jepang di semester pertama tahun 2013 mencapai US$2,3 miliar atau 16,2% dari total PMA. Nilai investasi tersebut membuat Jepang menjadi sumber investasi tertinggi di Indonesia dan menggeser Singapura yang dalam beberapa tahun terakhir selalu berada pada posisi teratas.

Related posts