Penyaluran Kredit Mutiara Tumbuh 8,5% - Semester I 2013

NERACA

Jakarta - PT Bank Mutiara Tbk mencatatkan total penyaluran kredit sebesar Rp11,4 triliun pada semester I 2013, atau tumbuh 8,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai Rp10,5 triliun. Direktur Utama Bank Mutiara, Sukoriyanto Saputro, menuturkan bila pencapaian kredit semester I 2013 itu diperoleh dari kontribusi sektor kredit konsumer sebanyak 30% dan kontribusi kredit komersial, baik kecil maupu menengah, sebanyak 70%.

Menurut dia, total penyaluran kredit Rp11,4 triliun per 30 Juni itu menunjukkan kinerja bank yang cukup baik karena target penyaluran kredit hingga akhir tahun ditetapkan sebesar Rp12 triliun. \"Saya optimistis target ini dapat kami capai dalam waktu enam bulan ke depan,\" tegas Sukoriyanto.

Dia juga menyampaikan bahwa total aset bank yang dahulu bernama Bank Century itu, per 30 Juni 2013, mencapai Rp15,9 triliun. Sementara dana pihak ketiga (DPK) sepanjang semester I 2013 mencapai Rp14,1 triliun.

\"Namun, bulan ini (Juli) DPK kami sudah lebih besar lagi menjadi Rp14,5 triliun,\" ungkapnya. Dia juga mengatakan bahwa pihaknya menyadari adanya persaingan likuiditas perbankan yang semakin ketat akibat kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate).

\"Kita tahu dunia perbankan sedang menaikkan suku bunga karena ketatnya persaingan likuiditas. Masing-masing bank sudah siap bersaing untuk memperebutkan DPK,\" tuturnya. Oleh karena itu, kata Sukoriyanto, pihaknya sementara waktu akan menahan pengeluaran dana sebagai strategi untuk menghadapi persaingan likuiditas.

”Prinsipnya, semua dananya kami tahan dulu karena bank-bank besar sedang menaikkan suku bunga lebih besar. Modal kami hanya yang bisa kami bentuk dari laba berjalan. Karena kami tidak ada dana untuk modal lagi dari penyetoran pemilik, dalam hal ini LPS (Lembaga Penjamin Simpanan),\" tukasnya.

Senada, Direktur Pemasaran dan Jaringan Distribusi Bank Mutiara, Benny Purnomo juga mengatakan, menahan dana merupakan cara yang tepat untuk sementara dalam menghadapi persaingan likuiditas.

\"Berdasarkan sejarah, BI Rate biasanya ditetapkan satu hingga 1,5% di atas inflasi. Ada perkiraan bahwa inflasi bisa mencapai 7,5%, maka suku bunga bisa mencapai 8,5%- 9,5%. Dengan demikian bisa dihitung, suku bunga bank harus dinaikkan berapa. Makanya kami memilih untuk berusaha memperbanyak dana likuiditas bank dulu,\" jelas Benny. [ardi]

Related posts