Ekonom: Kredit Bank Hanya Tumbuh 21% - Lebih Rendah dari Tahun Lalu

NERACA

Jakarta - Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Destry Damayanti, memprediksi pertumbuhan kredit di industri perbankan pada 2013 berkisar 19%-21%, atau lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan kredit perbankan pada 2012 yang sebesar 23%. \"Kami memang perkirakan secara industri pertumbuhan kredit 19%-21% tahun ini,” ujarnya di Jakarta, Senin (22/7).

Namun begitu, dirinya mengharapkan pada kuartal III dan IV, arus modal asing atau capital inflow sudah mulai masuk ke Indonesia. Dia pun memprediksi perekonomian nasional pada 2014 akan jauh lebih baik bila dibandingkan 2013.

\"Selain itu, normalisasi kembali terjadi untuk inflasi kita sehingga ini menyebabkan para investor, bonds market khsusnya, ia melihat tren bahwa inflasi ke depan akan turun sehingga yield juga akan turun ke depannya. Suku bunga juga akan menyesuaikan dan kami melihat pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi,\" tutur Destry.

Dia juga memperkirakan, perekonomian Indonesia pada 2013 akan tumbuh 6,3%-6,4% dengan inflasi sekitar lima persen. \"Tapi memang tekanan terhadap rupiah masih ada walapun tidak seberat 2013,\" ujarnya. Destry menuturkan pemerintah harus tetap optimistis dengan perekonomian di dalam negeri kendati juga harus menghadapi kenyataan normalisasi ekonomi saat ini sedang berlangsung.

\"Perlambatan ekoomi itu bukan suatu hal yang buruk juga, karena kita perlu ambil nafas, kita lebih melihat ke dalam permasalahan-permasalahan internal yang bisa diselesaikan. Perlambatan tersebut memang berpengaruh ke perbankan, dan bank-bank lah yang siap serta punya segala macam program yang bisa hadapi di dalam kondisi seperti ini,\" tukasnya.

Tak hanya itu, Destry pun memperkirakan t ingkat suku bunga acuan atau BI Rate akan tetap pada angka 6,5% hingga akhir 2013. \"Kami masih yakin BI tidak akan hajar lagi di BI Rate, tapi BI akan main di Fasbi Rate,\" terang dia. Jika BI Rate diperkirakan tetap 6,5% hingga akhir tahun, lanjut Destry, Fasbi Rate diperkirakan akan meningkat lagi sebesar 50 basis poin (bps) ke angka 5,25% dari sebelumnya 4,75%.

Menurut Destry, pertumbuhan ekonomi nasional tidak bisa mengharapkan dari faktor eksternal yakni adanya perbaikan dari perekonomian global. Oleh karena itu, penahanan BI Rate hingga akhir tahun diharapkan mampu tetap mendorong dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.

\"Kita harapkan BI Rate tetap paling tidak sampai akhir tahun, di mana BI akan menggunakan bauran kebijakan yang lain bisa dengan Fasbi Rate, bisa dengan exchange rate (nilai tukar), ada berbagai kombinasi,\" kata Destry.

Informasi saja, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 11 Juli lalu telah menaikkan BI Rate dari posisi sebelumnya 6%. Kebijakan tersebut untuk memastikan inflasi yang meningkat pasca-kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi dapat segera kembali ke lintasan sasarannya. RDG BI juga memutuskan suku bunga deposit facility naik 50 basis poin menjadi 4,75% dari sebelumnya 4,25% dan suku bunga lending facility tetap sebesar 6,75%. [ardi]

Related posts