BI Klaim Peredaran Upal Menurun

NERACA

Jakarta - Bukan rahasia umum lagi jika peredaran uang palsu (upal) menjelang hari raya keagamaan seperti Idul Fitri, kian marak. Menurut data Bank Indonesia (BI), pada pertengahan 2013 menunjukkan ada 4 lembar uang palsu per 1 juta lembar di tengah masyarakat. Namun, bank sentral mengklaim bahwa angka ini menunjukkan penurunan dari tahun-tahun sebelumnya.

Pada 2011, terdapat 11 lembar per 1 juta lembar dan di 2012, 8 lembar per 1 juta lembar. “Ada penurunan memang. Tapi ini baru bulan Juli. Bisa jadi ada dua kemungkinan mengenai turunnya jumlah uang palsu di tengah masyarakat,” ujar Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI, Lambok Antonius Siahaan di Jakarta, Senin (22/7).

Dua kemungkinan yang dimaksud yaitu, pertama, memang jumlahnya menurun sehingga aparat kepolisian dan bank tidak menemukan adanya upal. Kedua, bisa jadi benar-benar likuid di tengah masyarakat sehingga tidak dapat dideteksi oleh bank dan kepolisian. “Nah, ini poin kedua inilah yang sedang kita cari,” jelas Lambok.

Namun sejauh ini, lanjut dia, mekanisme BI untuk menyaring keberadaan uang palsu di tengah masyarakat pada dasarnya ada dua langkah yang harus diterapkan. Pertama, langkah represif dengan mengandalkan peraturan yang berlaku sehingga jika ada pelakunya maka polisi bisa ambil tindakan untuk dipidana. Kedua, bank sentral meminta kepada media massa dalam memberitakan hal ini.

“Jangan dilihat rupiahnya sebagai nominal. Jumlah nominalnya itu kan sampah. Tapi jumlah lembarnya yang beredar yang harus dicermati. Sekarang yang banyak beredar dalam pecahan Rp100 ribu,” tegas Lambok. Kemudian BI juga menerapkan langkah preventif. Artinya tentu pada uang itu sendiri sudah dilengkapi dengan security feature seperti rumus 3D (dilihat, diraba, dan diterawang).

Lambok menilai rumus-rumus itu sebetulnya mudah untuk dipahami. Hanya saja apakah masyarakat mau melakukannya. Pasalnya, masyarakat kerap mengaku tidak sempat memeriksa sejumlah uang yang dimiliki untuk alasan keterbatasan waktu.

“Selain itu untuk mengantisipasi beredarnya uang palsu kita juga mengajak masyarakat untuk menukarkan uang di tempat-tempat resmi. Misalnya, di bank yang sudah dilengkapi teller-teller. Kita kan kasih uang asli ke bank. Jadi sudah tidak usah dicek lagi lah karena kita yang memberi. Tapi dunia ini memang ibarat padi dan ilalang yang tumbuh bersama dalam satu lahan. Jadi tidak mungkin tidak ada yang palsu,” kata Lambok.

Sebagai langkah preventif berkelanjutan Lambok juga mengaku BI terus melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai hal ini kepada masyarakat. Bahkan materinya sudah masuk ke dalam kurikulum agar masyarakat mengenal tujuan adanya uang dan bank sentral sejak dini.

Tiga lapisan

Harapannya ketika masyarakat sudah mengetahui hal itu maka barang siapa menemukan uang palsu harusnya tidak hanya berdiam diri atau coba ditukarkan ke orang lain. Melainkan masyarakat harus melapor ke aparat atau ke bank sentral.

“Kita juga mendorong bank-bank untuk menyampaikan laporan kepada kita dan mempermudah nasabah jika menemukan uang palsu. Dengan begitu kita bisa punya angka pasti mengenai jumlah uang palsu di masyarakat. Kemudian kita akan mempelajari sejauhmana tingkat kecanggihannya. Itu akan menjadi feedback buat kita untuk rencana sosialisasi maupun edukasi lebih lanjut. Modusnya juga akan dipelajari oleh hukum bagaimana menindak itu,” papar Lambok.

Dari segi level, BI juga membaginya menjadi tiga lapisan untuk menyaring uang palsu. Pada level pertama disebut man in the street, yaitu masyarakat yang menerapkan prinsip 3D tadi. Selanjutnya pada level kasir atau teller yang musti memliki keahlian mendeteksi uang palsu serta dilengkapai alat sederhana seperti sinar ultra violet dan kaca pembesar. Terakhir, lapisan mesin yang ada di BI. Dengan mesin canggih keakuratan sangat terjamin karena adanya sensor yang ketat untuk mendeteksi uang palsu.

“Setelah itu yang harus sama-sama kita lakukan ya menjaga keutuhan rupiah itu sendiri. Coba bayangkan, ini saya sering melihat uang di pasar itu kondisinya lecek karena digeremet-gremet sama pedagang. Kalau uang sudah lecek kan susah juga diraba dan diterawang,” tambah Lambok.

Antisipasi

Sementara Direktur Manajemen Teknologi dan Operasi Bank BCA, Kresno Sediarsi mengaku, pihaknya sudah mengantisipasi peredaran uang palsu sejak jauh-jauh hari. Dengan mempercayai mesin penghitung uang dengan sensor dan mengandalkan keterampilan teller dalam mendeteksi uang palsu, BCA menjamin tidak aka nada uang palsu yang lolos.

“Sepertinya sampai saat ini kita belum menemukan. Jadi masih dalam kondisi yang kondusif,” ungkap Kresno. Lebih lanjut Kresno mendorong agar masyarakat awam yang tidak memiliki alat deteksi bisa mengikuti pola 3D seperti yang disosialisasikan BI. Baginya dengan mencermati tanda-tanda seperi gambar embose, benang, dan nomor seri saja masyarakat sudah bisa melihat mana yang asli dan palsu. ”Tidak hanya teller, pedagang di pasar saja biasanya bisa mendeteksi,” tukasnya. [lulus]

Related posts