MI Kurangi Saham Multifinance dan Properti

NERACA

Jakarta- Kenaikan BI rate 50 basis points yang dinilai akan mempengaruhi kinerja sektor keuangan berdampak pada pengelolaan dana kelola reksa dana oleh Manajer Investasi,”Kalau reksa dana saham kita kurangi porsi di saham-saham yang sensitif BI rate seperti saham multifinance dan properti,”kata Intermediary Business Schroders Investment Management Indonesia, Yudhi Rangkuti di Jakarta, Senin (22/7).

Menurut dia, dalam situasi pasar yang fluktuatif seperti saat ini pihaknya lebih memilih saham yang dinilai konservatif seperti konsumer, telekomunikasi, dan media. Sektor tersebut, kata dia, memberikan sumbangan yang besar terhadap pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan masih akan perform ditopang konsumsi masyarakat yang saat ini terbilang masih tinggi. \"Tampaknya media mirip dengan konsumer, dan beri sumbangan yang besar juga terhadap indeks kita.\" jelasnya.

Meski secara tidak langsung kenaikan inflasi berdampak terhadap sektor konsumer, dirinya meyakini kenaikan inflasi hanya akan bersifat temporer. \"Juli diprediksi yang tertinggi, namun berangsur-angsur akan turun. Konsumsi kita juga relatif masih tinggi.\" ujarnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, total dana kelolaan Schroders sampai dengan Juni 2013 sudah mencapai Rp 55 triliun. Dari dana kelolaan tersebut, sumbangan terbesar berasal dari reksadana saham dengan komposisi mencapai 40%. Pihaknya mencatat, dalam jangka panjang reksa dana saham masih akan memberikan return yang menarik dibanding reksa dana lainnya. “Selama sepuluh tahun terakhir, reksa dana memberikan return 1327%, properti 1285%, investasi pada indeks saham 955%, emas 376%, obligasi 317%. Dalam jangka panjang biasanya polanya tetap sama.” paparnya.

Meskipun pasar saham saat ini dalam kondisi volatile, dirinya optimistis tidak akan mempengaruhi industri reksa dana secara signifikan.\"Penurunan tidak terlalu berpengaruh karena masyarakat sudah banyak yang mengerti. Dengan pasar yang mengalami koreksi, justru banyak dana yang masuk selain dana yang keluar,\" jelasnya.

Dalam kondisi pasar fluktuatif, sambung dia, investor dapat menyesuaikan investasinya sesuai dengan profil risiko. Selain itu, investor juga dapat menyiasatinya dengan berinvestasi secara bertahap. Memang, kata dia, berinvestasi di reksa dana pun tidak dapat dipungkiri juga memiliki risiko, antara lain risiko berkurangnya nilai unit penyertaan, risiko kredit, berkurangnya nilai tukar mata uang asing, dan perubahan kondisi politik dan ekonomi.

Meski demikian, reksa dana merupakan instrumen investasi yang mudah dan menguntungkan, di mana legalitasnya diatur dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk berivestasi pada reksa dana juga bisa dimulai dalam jumlah kecil, bahkan dengan Rp200 ribu. Selain itu, juga bersifat transparansi, dan investor dapat mendiversifikasi risiko dengan menempatkannya pada beberapa unit penyertaan yang diambil. Asetnya pun disimpan pada bank kustodi yang ditunjuk oleh pihak otoritas. “Selama legal tidak perlu khawatir karena dananya di taruh di bank kustodian. Kalaupun kustodiannya misalnya collaps, biasanya OJK akanmenunjuk bank kustodi yang lain.” ucapnya. (lia)

Related posts