Apindo Usul Pelabuhan Ekspor-Impor Dipisah

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengatakan, perlu adanya pelabuhan lain yang menjadi sentra keluar masuknya barang. Pelabuhan Tanjung Priok tidak memungkinkan lagi dapat menampung banyaknya barang. Kalangan pengusaha mengusulkan akan dibangun pelabuhan di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) dan percepatan Pelabuhan Cilamaya di Karawang, Jawa Barat.

\"Saya tadi berbicara selama 2 jam yang mau kita follow up hasil rapat tempo hari di Kemenko (Perekonomian). Yang satu adalah stuck di kunci di tempat yang menjadi tumpuan kita. 70% terkonsentrasi di Tanjung Priok,\" kata Hidayat usai melakukan pertemuan dengan Sofjan Wanandi, di Kantor Kementerian Perindustrian, Senin (22/7).

Lebih jauh lagi Hidayat menyambut baik ketika dia (Sofjan Wanandi) juga melihat bahwa solusi terobosan antaralain, adalah memproses pelabuhan di KBN, saya menjawab sebaiknya segera kita bedah. Itu paling tidak bisa menjadi alternatif sementara,\" katanya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengungkapkan beberapa permasalahan yang ada di pelabuhan seperti waktu bongkar muat (dwelling time) yang lama di Pelabuhan Tanjung Priok, yang selama ini membuat pengusaha dirugikan.

\"Perlu adanya percepatan infrastruktur pelabuhan, atau pembenahan infrastruktur yang ada. \"Bisa juga nanti dipisah antara pelabuhan ekspor, dan pelabuhan impor. Priok tidak mampu lagi memonopoli,\" kata Sofjan.

Pada kesempatan sebelumnya, menurut Sofjan, perekonomian nasional sangat tergantung pada ekspor impor, terutama di Pulau Jawa yang paling besar dalam sektor manufaktur. Ia mengusulkan pembangunan pelabuhan agar juga direalisasikan di kawasan Selatan Jawa untuk menampung produksi barang-barang dari wilayah itu. \"Di Pantura (Pantai Utara Jawa) lebih banyak pelabuhan, tetapi perlu juga di Selatan karena selama ini belum ada. Kalau di Amerika Serikat setiap 100 kilometer ada pelabuhan,\" katanya.

Sofjan menjelaskan keterhambatan di pelabuhan merupakan faktor terbesar bagi para pengusaha yang menimbulkan inefisiensi miliaran rupiah. \"Bayangkan saja, barang tidak bisa keluar berbulan-bulan, ternyata macetnya di sana (pelabuhan). Paling banyak 100 kontainer yang bongkar muat per hari, kalau ada 400 kontainer berarti butuh waktu 40 hari. Ini yang membuat macet total dan kerugiannya cukup banyak,\" katanya.

Dwelling Time

Sebelumnya,Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Mahendra Siregar mengatakan masalah kepadatan kendaraan dan lamanya waktu keluar barang (dwelling time) dari pelabuhan Tanjung Priok tidak mudah diatasi, karena banyaknya hambatan yang harus diurai.\"Ke depan harus ada terobosan, karena pertumbuhan enam persen dengan infrastruktur seperti ini, dan tidak ada perubahan, pada akhirnya tinggal tunggu waktu saja. Bukan lagi \'bottleneck\', tapi tertutup itu sumbat botolnya,\" ujarnya.

Mahendra mengatakan upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk memperbaiki pelayanan di pelabuhan Tanjung Priok, dengan memindahkan kontainer ke tempat penimbunan pabean Cikarang dan Marunda, belum berjalan maksimal.

\"Semula saya berpikir dengan memindahkan kontainer \'long stay\' ke Marunda dan Cikarang, itu akan terselesaikan. Tapi ternyata, untuk memindahkan dari Priok ke Marunda dan Cikarang saja tidak mudah, karena jalanannya macet,\" ujarnya.

Dengan kondisi yang macet di kawasan jalan masuk dan keluar pelabuhan, Mahendra pesimis, target penurunan Yard Occupancy Ratio (YOR) dari saat ini lebih dari 100 % menjadi maksimum 85 persen pada akhir Juli 2013, dapat tercapai.

Untuk itu, lanjut dia, saat ini sedang dicari solusi jangka pendek agar tingkat kepadatan aktivitas di sekitar pelabuhan cepat berkurang dan masalah pemindahan kontainer dapat segera terselesaikan.

\"Saya sedang rapat untuk mencari lahan yang bisa dimanfaatkan di dalam pelabuhan sehingga (kontainer) lebih cepat (diatasi) dari pada harus dipindahkan ke luar. Tapi memang dilakukan terpisah dan fasilitasnya harus cepat kita perbaiki,\" terangnya.

Mahendra juga meminta komitmen dari 14 pemangku kepentingan di pelabuhan Tanjung Priok untuk terus berupaya mengatasi masalah ini, karena kondisi yang ada diluar perkiraan sebelumnya. \"Sekarang mengurai tiap masalah adalah tantangan tersendiri, tapi saat ini semua punya keinginan yang kuat. Mestinya masalah ini sudah selesai, cuma memang lebih berat dari perkiraan kita sebelumnya,\" lanjutnya.

Sebagai upaya mempercepat dwelling time, pemerintah memutuskan untuk memindahkan petikemas yang telah \"longstay\" serta memperpanjang waktu pelayanan kepabenan di pelabuhan Tanjung Priok hingga pukul 23.00 WIB.

Related posts