Redam Potensi Gejolak

Oleh : Tumpal Sihombing

Presiden Direktur BondRI

Secara umum, ada tiga indikator dalam perekonomian saat ini yang perlu dicermati serius oleh para investor, pelaku pasar dan perumus kebijakan, yaitu gejolak laju inflasi, dinamika kurs, serta struktur defisit. Ketiga hal ini berpengaruh signifikan terhadap kesehatan perekonomian secara fundamental. Ini menunjukkan bahwa tren rupiah yang melemah kini akan kian menekan laju inflasi, memperlebar jurang fiskal serta berpotensi mengurangi kecepatan arus kapital asing masuk. Situasi ini sungguh tidak berdampak positif bagi perekonomian. Depresiasi kurs juga mempengaruhi sentimen di kalangan usahawan dengan meningkatnya ketidakpastian (uncertainty), serta adanya kekuatiran akan potensi krisis mancanegara bakal menjalar ke perekonomian domestik.

Laju inflasi, kurs dan struktur defisit merupakan determinan penting dalam menilai perekonomian secara fundamental. Negara yang berlaju inflasi meningkat pada umumnya mengalami depresiasi kurs relatif terhadap negara mitra dagangnya. Terkait hal tersebut, inflasi, suku bunga dan kurs memiliki tingkat korelasi tinggi.

Bank sentral berupaya mempengaruhi laju inflasi dan tingkat kurs dengan kebijakan suku bunga acuan. Suku bunga yang relatif tinggi menawarkan para kreditor nilai relative return yang lebih tinggi. Akibatnya, suku bunga tinggi diharapkan dapat menarik dana asing, yang seharusnya memperkuat kurs. Namun tak demikian halnya, risiko malah meningkat.

Dampak risiko yang meningkat ini hanya dapat dimitigasi jika laju inflasi domestik lebih tinggi daripada laju inflasi negara mitra dagang. Determinan lainnya seperti struktur defisit juga berpengaruh signifikan bagi kesehatan perekonomian dalam ranah perdagangan internasional. Figur utang yang besar dapat menekan laju inflasi. Jika laju inflasi bertambah, beban utang berjalan juga bertambah.

Biasanya pemerintah akan mencetak uang lebih banyak lagi untuk membayar utang tersebut, yang justru berpotensi menyebabkan naiknya laju inflasi. Lebih jauh lagi, jika pemerintah tidak berupaya mengatasi problema defisit dengan pendekatan domestik yang efektif, maka opsi jalan keluarnya adalah dengan menerbitkan efek pasar modal yang diperdagangkan bagi para investor mancanegara dengan harga diskon tentunya.

Laju inflasi dan suku bunga yang naik juga berpotensi menjadi pertanyaan besar bagi para investor asing, yang secara mudah dapat menilainya sebagai meningkatnya sovereign risk. Para investor mancanegara akan merasa enggan untuk berinvestasi di negara yang memiliki sovereign risk tinggi. Kondisi inilah yang membuat mengapa indikator kurs merupakan determinan penting dalam valuasi atau rating utang suatu negara. So, jika rupiah terus melemah, maka gejolak perekonomian domestik akan sangat mudah terpicu. Kurs yang terus melemah akan menurunkan purchasing power dari setiap rupiah penghasilan/keuntungan yang diperoleh para partisipan dalam perekonomian.

Saat ini Bank Indonesia dinilai memiliki cadangan yang besar untuk dapat mempertahankan kondisi neraca pembayaran, memperbaiki kondisi neraca transaksi berjalan serta secara koordinatif dengan pasar modal mempertahankan minat investor asing berinvestasi di Indonesia. Namun kekuatan cadangan tersebut terbatas dan tidak mungkin mampu bertahan selamanya. Kami menilai bahwa cadangan devisa tersebut hanya kuat menghempang kondisi pelemahan rupiah tak lebih dari 7(tujuh) bulan dengan derajat peluang di atas 90%. Jika lanjut terdepresiasi, maka perekonomian kita berpeluang besar masuk dalam area risiko tinggi (value will be at risk with high degreee of probability).

Kondisi ini sangat berpotensi menimbulkan gejolak ekonomi dan sosial jika tidak segera dihadapi dengan rumusan strategi, set kebijakan serta tindakan yang preventif, cepat dan efektif.

Related posts