Menikmati Megahnya Arsitektur Masjid Tionghoa - Wisata Religi

Masjid yang satu ini berbeda dengan yang lainnya, masjid yang satu ini memiliki nuansa Tionghoa yang sangat kental. Bangunan masjid indah di tengah kota ini diberi nama Masjid Cheng Ho. Masjid ini adalah bentuk penghormatan kepada Laksamana Cheng Ho yang telah berjasa dalam misi politik perdamaian bahari, perdagangan, dan akulturasi budaya yang mengagumkan.

Masjid Cheng Ho adalah tempat yang tepat untuk Anda yang ingin berwisata arsitektur sekaligus wisata budaya secara bersamaan. Anda akan menikmati keindahan ornamen China yang berpadu dengan nuansa lokal di masjid ini. Arsitekturnya menyerupai kelenteng secara jelas menunjukkan identitas Muslim Tionghoa (Islam China).

Masjid Cheng Ho merupakan masjid yang memiliki keunikan tersendiri dibangun dengan perpaduan unsur budaya China dan budaya Islam. Cheng Ho datang ke Surabaya abad ke-15, karena masa itu Surabaya merupakan pelabuhan penting. Selain di Surabaya, di Palembang juga ada masjid serupa dengan nama Masjid Cheng Ho Palembang atau Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho Sriwijaya Palembang.

Masjid Cheng Ho dikenal sebagai masjid pertama di Indonesia yang menggunakan nama muslim Tionghoa. Bangunannya bernuansa etnik dan antik cukup menonjol dibandingkan bentuk masjid lain pada umumnya di Indonesia. Masjid Cheng Ho memiliki kolom sederhana dan dinding dilapisi keramik bermotif batu bata. Di beberapa bagian ada ornamen horizontal berwarna hijau tua dan biru muda. Pewarnaan itu diulang juga pada bentukan kuda-kuda pada bagian interior.

Atap utama masjid ini bersusun tiga lapis menyerupai bentuk pagoda. Pada puncaknya terdapat lafaz \\\"Allah\\\". Sedangkan mahkota pada ujung atap lebih condong pada gaya arsitektur Hindu-Jawa. Ada juga bukaan lengkung pada dinding, sebuah ciri khas arsitektur India dan Arab. Pada bagian dalam masjid, terdapat podium guna menghindari kelembapan.

Dalam dakwahnya, Cheng Ho menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang dikunjunginya. Cheng Ho sangat menanamkan rasa persaudaraan pada setiap daerah yang dikunjunginya seperti membangun tempat peribadatan yang menunjukkan adanya sinkretisme antara Islam, budaya lokal, dan Tionghoa.

Related posts