Imbangi Penurunan Pendapatan, Antam Tingkatkan Produks

NERACA

Jakarta - Produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tetap ditingkatkan meskipun harga emas saat ini masih turun. Pasalnya, dengan menaikan jumlah produksi ditengah turunnya harga, perseroan berharap dapat mengimbangi turunnya pendapatan.

Menurut Direktur Utama PT Antam Tato Miraza, perseroan meningkatkan produksi emas dengan rumus price x volume. Sehingga harga turun produksi harus ditingkatkan. Ini dilakukan untuk mengimbangi turunnya pendapatan.“Penurunan harga emas belakangan ini disebabkan adanya sikap pasar yang merespon kebijakan ekonomi di Amerika Serikat. Hingga semester pertama tahun ini, perseroan berhasil menaikan produksi emas sebesar 51% dibandingkan produksi yang sama ditahun sebelumnya mencapai 3,6 ton,”ujarnya kemarin.

Direktur Keuangan PT Aneka Tambang Tbk, Djaja Tambunan menambahkan, perseroan berharap harga emas sepanjang tahun ini tidak mengalami penurunan tajam, hingga US$1.000 per ounce karena dapat mematikan produsen emas. Dia berharap harga emas tetap bertahan pada kisaran US$1.300 sampai US$1.200 per ounce.

Pada semester I tahun ini, perseroan mencatat produksi feronikel mencapai 53% dari target sepanjang tahun ini sebesar 18 ribu ton. Penjualan produk tersebut juga tercatat cukup tinggi, hingga 104% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 6.700 ton. Sementara itu, harga emas berjangka di bursa Amerika Serikat sempat turun lebih dari 23% pada kuartal kedua tahun ini.

Penurunan ini menjadi yang paling tajam dalam periode kuartal sejak perdagangan pertengahan 1970-an. Perseroan juga berharap mendapat mandat dari pemerintah untuk mengelola PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum), setelah Inalum jadi milik negara.

Jika telah dipercaya pemerintah, perseroan yakin mampu mengelola usaha tersebut.“Mengenai pendanaan untuk biaya produksi Inalum, Antam mampu mencari pinjaman dana guna menjalankan kegiatan produksi alumuniun tersebut. Dengan melihat kondisi Inalum yang sudah mapan dan memiliki pangsa pasar sendiri”, ungkap Direktur Keuangan PT Aneka Tambang Tbk Djaja Tambunan.

Saat ini pihaknya tengah menunggu keputusan pemerintah akan berikan ke Antam atau pihak lain. Namun dia menyatakan bahwa perseroan 100% siap untuk mengambil alih operasional Inalum.

Inalum merupakan satu-satunya perusahaan lokal untuk sektor produksi aluminium di Sumatera Utara. Selama ini, hasil produksi Inalum sebagian besar dikirim ke Jepang. Sedangkan pemerintah harus mengimpor alumunium dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Berdasarkan perjanjian RI-Jepang pada 7 Juli 1975, kontrak kerja sama pengelolaan PT Inalum akan berakhir pada 31 Oktober 2013. Untuk mengambil alih Inalum sepenuhnya dari Jepang, pemerintah perlu membayar Rp7 triliun. Pada 2012 lalu pemerintah telah membayarkan kebutuhan itu sebesar Rp 2 triliun.

Kepemilikan Inalum saat ini terbagi antara pemerintah Indonesia 41,12% dengan konsorsium swasta pemerintah Jepang yang tergabung dalam Nippon Asahan Alumunium 58,88%. Berdasarkan kontrak yang ditandatangani pada 7 Juli 1975 di Tokyo, pemerintah Indonesia bisa mengambil alih Inalum sepenuhnya, pada Oktober 2013. (nurul)

Related posts