Rupiah Melemah, Indofood Naikan Harga Jual

NERACA

Jakarta - PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) akan menaikkan harga sejumlah produknya jika pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar terus tertekan hingga berada di posisi Rp 10.000 per dolar ke atas.

Menurut Direktur Indofood Franky Welirang, jika dalam beberapa hari ini jika rupiah masih tertekan dolar maka perseroan mau tak mau akan menyesuaikan harga produknya. Pasalnya, perseroan rata-rata memperoleh bahan baku gandum dari Australia, Kanada, Amerika Serikat (AS), India, dan Eropa Timur seperti Ukraina, “Dengan terjadinya pelemahan rupiah, maka bahan baku yang diimpor dengan denominasi dolar akan membuat harganya menjadi lebih mahal,”ujarnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Pelemahan rupiah yang terjadi saat ini menjadi fokus perseroan. “Kami akan lihat terlebih dahulu apakah stabil di Rp 10.000 atau lebih. Kami tunggu beberapa hari karena memang sudah ada indikator penyesuaian harga produk”, ungkap dia.

Namun demikian, jika nantinya ada kenaikan harga, menurut dia kisarannya tidak terlalu besar sehingga diharapkan masih tetap terjangkau.

Sementara itu, dia memprediksi bahwa pada bulan puasa kali ini permintaan bahan pokok seperti tepung terigu akan meningkat hingga 20% dan perseroan telah menyiapkan pasokan untuk mencukupi kenaikan permintaan tersebut.“Biasanya dua minggu sebelum lebaran pasti ada peningkatan sekitar 20%. Kenaikan biaya industri juga sudah kita perhitungkan, kita punya datanya selama lima tahun terakhir”, ujar dia.

Mengenai dampak kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan bahan bakar minyak (BBM)bersubsidi, menurutnya perseroan telah mempperhitungkan saat mengeluarkan budget. Dampak BBM naik pada logistik mencapai 25-30%.

Sebelumnya, perseroan telah menyepakati nota kesepahaman (MoU) dengan PT Perkebunan Nasional (PTPN) XII di Banyuwangi untuk menerima pasokan biji sorgum yang akan digunakan sebagai pengganti biji gandum untuk bahan baku terigu yang biasanya di impor dari berbagai negara.

Menurut dia pembelian belum terealisasi karena belum memberikan rincian pasokan. Selain itu pihaknya belum tahu cara PTPN XII memproduksinya. Sehingga hingga saat ini masih percobaan namun yang paling penting perseroan terus mendapatkan suplai. Selain kurang validnya data yang dimiliki, harga yang ditawarkan PTPN juga tidak sesuai.PTPN XII karena harganya tak sesuai.

Menurut dia, pihaknya masih mengharapkan harga jual sorgum mentah murah, karena jika harganya lebih mahal dari gandum, maka pihaknya lebih memilih tetap mengimpor.“Saat MoU Rp 1.600 per kilo lalu menjadi Rp 3.000 per kilo karena salah hitung. Jika harganya Rp 3.000 tentu masih lebih murah gandum. Karena memang kami ingin harga bagus agar produk terjangkau masyarakat”, ungkap dia. (nurul)

Related posts