Puasa Mampu Turunkan Risiko Kerusakan Saraf

Begitu banyak manfaat puasa untuk kesehatan, seperti penderita neuropati puasa terbukti bermanfaat untuk menurunkan risiko saraf. Namun sayangnya, seringkali momen puasa tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menjaga kesehatan saraf.

Ya, ketika berpuasa, tubuh mendapatkan kesempatan untuk melakukan detoksifikasi dari pola hidup sehari-hari, yang mungkin tidak sehat. Detoksifikasi akan menyebabkan penurunan radikal bebas. Radikal bebas adalah molekul yang tidak memiliki pasangan, yang kemudahan mengambil elektron dari sel sehat sehingga sel tersebut menjadi rusak.

\"Dengan menurunya radikal bebas yang menyebabkan kerusakan sel, risiko kerusakan saraf juga akan ikut menurun,” tuturnya Dr Manfaluthy Hakim, Sp. S (K), Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi PERDOSI Pusat.

Menurutnya, Neuropati umumnya dialami oleh sekitar 26% atau 1 dari 4 orang yang berusia 40 tahun keatas. “Untuk angka prevalensi ini meningkat menjadi 50% atau 1 dari 2 penderita. Neuropati juga dapat menyerang mereka yang mengalami defisiensi vitamin B1, B6 dan B2,” tuturnya.

Ia mengatakan kerusakan saraf membutuhkan perbaikan bertahun-tahun, jadi manfaatkan momen puasa ini dengan sebaik-baiknya. Untuk mencegah neuropati, jalani gaya hidup dengan mengupayakan gizi seimbang, oleh raga teratur, dan istirahat cukup. Termasuk di saat puasa, asupan makanan sebaiknya yang bernutrisi tinggi, khususnya yang mengadung vitamin B yang baik untuk kesehatan saraf. \"Konsumsi vitamin neurotropik sebaiknya dikonsumsi pada saat sahur agar mencakup kebutuhan vitamin yang dibutuhkan saraf saat menjalankan puasa,” ungkapnya.

Konsumsi vitamin neurotropik saat bagus ini dikarenakan terdiri dari vitamin B1, vitamin B6, dan vitamin B12 yang lebih banyak. Vitamin neurotropik berfungsi menjaga dan menormalkan fungsi saraf dengan memperbaiki gangguan metabolisme sel saraf, dan memberikan asupan yang dibutuhkan supaya saraf dapat bekerja dengan baik.

Vitamin ini juga terlibat dalam metabolisme energi sel, sehingga dapat dipakai untuk mengatasi kelelahan dan membantu dalam masa penyembuhan penyakit. Asupan vitamin B12 yang lebih banyak sangat dibutuhkan oleh tubuh, karena vitamin B12 yang masuk ke tubuh, hanya diserap kurang dari 2% asupannya.

Ia mengatakan pada kasus tertentu, penderita neuropati diabetes misalnya, di bulan puasa harus tetap mengkonsumsi makanan yang rendah kadar gula. Hal ini dikarenakan kadar glukosa darah perlu dikontrol dengan baik. Diusahakan untuk mencapai angka di bawah 130 mg/dL saat sesudah puasa delapan jam, atau sesudah makan dibawah angka 180 mg/dL dan angka HbA1c di bawah angka 7%.

BERITA TERKAIT

Program B20 Mampu Tekan Impor Solar 4.000 kl/hari

      NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya…

Budaya dan Manajemen Risiko

  Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis   Peringatan akan sepuluh tahun krisis yang menghantam Amerika…

Menkop Yakin BMT Mampu Wujudkan Pemerataan Kesejahteraan

Menkop Yakin BMT Mampu Wujudkan Pemerataan Kesejahteraan NERACA Jakarta - Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga menegaskan bahwa peran dan…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Indonesia Pimpin Aksi Penanggulangan Zoonosis Global

Pemerintah Indonesia menegaskan komitmen untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran penyakit zoonosis secara global dengan menyelenggarakan Pertemuan Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis,…

Bersama Hadapi Ancaman Keamanan Kesehatan

Perubahan iklim dan peningkatan resistensi anti-mikroba telah mendorong peningkatan munculnya new-emerging diseases dan re-emerging diseases yang berpotensi pandemik dengan karakteristik…

Mengatasi Diabetes Akut dengan Diet Vegan

Tiga tahun lalu, Khaled Al-Suwaidi (35) mendapat kabar buruk yang mengubah gaya hidupnya secara drastis. Dia didiagnosis menderita penyakit kronis…