Masihkah Indonesia Negeri yang Ramah Tamah? - Oleh: Suryono Brandoi Siringo-ringo, Alumni Fakultas Ekonomi Unika St Thomas Medan

Sejak kapan bangsa ini menjadi bangsa pemarah? Sebuah pertanyaan yang tak mudah untuk dijawab, namun menemukan kemarahan di negeri ini tidaklah sesulit yang anda bayangkan. Tengok saja tayangan berita di stasiun-stasiun televisi, berita di koran, siaran radio, maupun berita online yang ditayangkan setiap hari, mulai dari tawuran antar pelajar, perang antar fakultas di kampus, bentrok antar kampung, konflik antar masyarakat, sengketa Pilkada hingga demonstrasi yang kerap berakhir dengan kerusuhan.

Kegaduhan yang terjadi di negeri ini, tersirat menunjukkan bangsa kita sedang mengalami krisis jatidiri yang akut dan serius. Merebaknya tindakan anarkis yang penuh dengan kekerasan dan lumuran darah, adalah pertanda buntunya akal sehat, sehingga terpaksa menempuh cara-cara primitif dalam menyelesaikan sesuatu masalah.

Negeri yang Ramah

Indonesia negeri yang ramah tamah. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sopan santun. Bangsa Indonesia suka bergotong royong dan tolong menolong. Kalimat-kalimat seperti itu sering sekali kita jumpai. Kalimat-kalimat yang membuat kita selalu bangga menjadi bangsa Indonesia. Tetapi masihkah Indonesia negeri yang ramah tamah? Lalu apakah sikap ramah tamah, sopan santun, gotong royong dan tolong menolong bangsa Indonesia hanya tinggal menjadi kenangan?

Dalam kehidupan keseharian dapat kita lihat pergeseran perilaku bangsa Indonesia. Saat ini yang terasa adalah atmosfer individualistis yang sangat kentara di berbagai tempat. Pernah beberapa kali saya bersenggolan dengan orang lain diberbagai tempat yang berbeda apakah itu karena salah saya atau orang lain ‘nyenggol’ duluan karena tempat yang sempit, saya selalu memberi senyum sebagai tanda ‘I’m okay’ atau ‘I’m sorry’ tapi tidak selalu senyuman saya berbalas senyuman pula, seringkali malah berbalas tatapan tajam dari orang lain.

Atau perhatikanlah media sosial yang sering kita kunjungi, betapa mudahnya orang-orang itu menuliskan umpatan, makian, dan kata-kata kotor lainnya hanya untuk mengungkapkan perbedaan pandangan, pendapat bahkan orientasi politiknya. Saat mereka menyatakan bahwa itu bagian dari kebebasan berekspresi, bukankah kebebasan kita itu dibatasi oleh kebebasan orang lain?

Bagaimana dengan gotong royong dan tolong menolong? Masihkah menjadi budaya Indonesia? Saat ini justru yang sering terdengar adalah : “Hari gini mana ada yang gratis.” Bukankah menolong dan membantu sesama tidak lagi menjadi bantuan atau pertolongan bila kita sudah ‘mematok harga’?

Jadi ingat hot topik beberapa waktu yang lalu, katanya jasa keamanan swasta yang ditawarkan oleh Hercules dan kawan-kawannya dijadikan pilihan paling diminati oleh perusahaan-perusahaan swasta untuk mengamankan aset-asetnya. Jadi miris hati ini, bagaimana dengan masyarakat luas yang tidak mampu membayar jasa keamanan? Masih bisakah memperoleh rasa aman?

Krisis Multi Dimensi

Banyak konflik-konflik yang terjadi baik yang terekspos media maupun tidak. Konflik-konflik yang terjadi seperti konflik Aceh, Ambon, Poso, Sampit, Papua, lampung, Cikeusik, Sampang, dan sebagainya. Lain lagi konflik antar kelompok pelajar, konflik antar geng, konflik antar ormas/OKP dan lain-lain.

Konflik-konflik ini merupakan bagian dari krisis multi dimensi yang dihadapi negara dan Bangsa Indonesia. Konflik-konflik yang terjadi telah menunjukkan kepada semua komponen bangsa bahwa ada sesuatu yang mulai hilang dan dilupakan yaitu Pancasila. Ideologi Pancasila sebagai pilar pemersatu telah rapuh dan menyebabkan struktur pondasi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak sekokoh sebelum era reformasi.

Tidak bisa dipungkiri bahwa nilai-nilai ketimuran yang seyogyanya menjadi ciri khas masyarakat Indonesia kini semakin luntur. Budaya malu, ramah, sungkan, toleran dan tidak mudah marah kini semakin jarang kita temukan ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Masyarakat seolah amnesia akan budaya ketimuran yang dulu menjadi ciri khas masyarakat Indonesia dan dikagumi oleh masyarakat dunia. Masyarakat seolah hilang ingatan jika negeri ini dibangun atas dasar nilai-nilai dan adat ketimuran. Kini masyarakat justru lebih terlihat beringas, mudah tersulut amarah, jauh dari semangat toleransi dan bahkan bersatu untuk menganiaya sesama saudara.

Melihat problematika sosial-budaya diatas, ada satu pertanyaan besar yang muncul kepermukaan. Masihkah kita sebagai sebuah bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai, adat dan budaya ketimuran. Masihkan kita menjadi sahabat dan saudara antar sesama masyarakat Indonesia. Jawabannya, ya. Kita masih sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai, adat dan budaya ketimuran.

Ini bisa kita lihat dari semangat kebersamaan masyarakat Indonesia ketika membantu para korban bencana seperti Gempa di Aceh, erupsi Merapi di Yogyakarta dan masih banyak lagi. Laksana satu tubuh, ketika anggota badan yang satu sakit maka anggota tubuh yang lain ikut merasakannya. Masyarakat Indonesia pun bersatu, membantu secara bersama tanpa melihat perbedaan. Secara kolektif maupun perorangan semua ikut membantu meringankan derita yang tengah dihadapi saudaranya. Banyak diantara mereka membantu baik secara materi seperti bantuan makanan, minuman, obat-obatan, maupun berupa bantuan tenaga seperti relawan. Bantuan tersebut sejatinya adalah buah nyata dari upaya merasakan “sakitnya” saudara.

Tanpa kenal pamrih mereka mem-bantu para korban bencana. Tanpa mengenal agama, suku dan aliran mere-ka ikhlas sepenuh hati ikut membantu para pengungsi. Peluh keringat atas nama solidaritas mereka tunjukkan demi kemanusiaan dan persaudaraan. Semua bergerak, bekerja dan berusaha membantu sekuat tenaga.

Dari gerakan solidaritas tersebut seharusnya kita bisa belajar banyak tentang arti hidup sebagai bangsa “Timur”. Yakni sebuah bangsa yang menjunjung tinggi kebersamaan dalam rangka menjadi masyarakat yang baik, bersatu dalam hal positif dan jauh dari konflik. Dengan hidup harmoni sebagai bangsa “Timur” masyarakat yang berbeda agama, suku atau pun aliran berubah menjadi satu yakni sebagai saudara. Saudara sesama warga masyarakat Indonesia. Bukan justru sebaliknya.

Mari tetap berpikiran positif bahwa masih banyak orang Indonesia yang masih ‘suka’ bersikap ramah kepada siapapun yang dijumpainya, bahwa masih banyak orang Indonesia yang ikhlas membantu dan menolong sesamanya tanpa pamrih. Jangan sampai kita berhenti bersikap ramah hanya karena kita di tidak dipedulikan orang lain. Mari kita jadikan Indonesia tetap nyaman dan mampu memberi rasa aman kepada kita semua. (analisadaily)

Related posts