Pelemahan Rupiah Mengancam Kinerja Emiten

NERACA

Jakarta- Di tengah penantian rilis laporan keuangan kuartal kedua 2013, perhatian pelaku pasar saat ini yaitu perkembangan nilai tukar rupiah atas dolar setelah menembus di atas level 10.000.“Kekhawatiran USD/IDR bergerak liar setelah tembus diatas level \"psikologis\" 10,000, yang pastinya akan memberatkan emiten yang punya hutang dolar cukup besar serta emiten pengimpor bahan baku dalam dolar.” kata Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang di Jakarta, Kamis (18/7).

Kekhawatiran pelaku pasar terhadap pelemahan rupiah bukan tanpa alasan. Setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate 50 basis point dan mengintervensi FX market dengan puluhan miliar dolar AS, ternyata nilai tukar rupiah atas dolar AS tembus di atas 10,000. Namun, akhir-akhir ini BI bersama pemerintah ramai mengatakan level 10,000 untuk rupiah bukanlah level \"keramat\".“Pertanyaannya, kenapa BI perlu repot-repot melakukan intervensi dengan menghabiskan puluhan miliar dolar cadangan devisa kalaupun rupiah tembus di atas 10,000 dan untuk menutupi kegagalan,” jelasnya.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, pergerakan nilai tukar Rupiah secara perlahan masih melemah seiring belum percayanya pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Apalagi dengan masih melambatnya ekonomi Cina membuat ekonomi Indonesia tentunya juga akan berpengaruh.

Komentar salah satu pejabat bahwa level Rp10.000 bukanlah suatu level psikologis, sambung dia, menimbulkan asumsi bahwa pelemahan rupiah bisa berlanjut karena tidak ada batas level bawah. Selain itu, pernyataan BI bahwa inflasi Juli bisa akan lebih tinggi direspon negatif oleh pasar bahwa ekonomi masih akan terbebani dan tidak mungkin bagi BI untuk kembali menaikkan BI rate.

Sepanjang perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh level 4715,53 (level tertingginya) jelang akhir sesi 1 dan menyentuh level 4671,03 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan berakhir di level 4720,44. Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy. “Diperkirakan IHSG akan berada pada support 4665-4689 dan resistance 4744-456.” ujarnya.

Menurut dia, adanya sentimen positif mampu membuat IHSG berada di atas target resisten kami (4683- 4694) yang menandakan meningkatnya dorongan beli. Laju positif ini seharusnya masih bisa bertahan bila didukung oleh sentimen yang ada terutama dari global untuk dapat mengimbangi sentimen negatif dari dalam negeri. Beberapa saham-saham antara lain BSDE, LPCK, CPIN, ADHI. (lia)

BERITA TERKAIT

PROYEKSI KINERJA BPOM 2019

kiri ke kanan. Sekertaris Utama  BPOM Elin Herlina,  Ketua BPOM Penny. K. Lukito, Plt Deputi 4 BPOM  Hendri Siswadi, Inspektur…

PELEMAHAN RUPIAH JADI PENYEBAB KENAIKAN TARIF - INACA: Harga Tiket Pesawat Turun 20-60%

Jakarta-Maskapai penerbangan di Indonesia akhirnya memutuskan untuk menurunkan kembali harga tiket penerbangan domestik, menyusul banyaknya protes netizen melalui serangkaian petisi…

Optimalkan Produk Investasi - Pencapaian Emiten Harus Selaras Pertumbuhan Investor

NERACA Jakarta – Pencapaian positif PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang tahun 2018 kemarin, seperti jumlah emiten yang melesat dari…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Harga Saham Melorot Tajam - Saham Cottonindo Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta - Perdagangan saham PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) karena mengalami…

Kuras Kocek Rp 460,38 Miliar - TBIG Realisasikan Buyback 96,21 Juta Saham

NERACA Jakarta - Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) telah membeli kembali atau buyback saham dari…

KINO Akuisisi Kino Food Rp 74,88 Miliar

PT Kino Indonesia Tbk (KINO) akan menjadi pemegang saham pengendali PT Kino Food Indonesia. Rencana itu tertuang dalam perjanjian Jual…