Awas, Rupiah (Bakal) Terpuruk - AKHIR TAHUN DIPREDIKSI TEMBUS Rp12.000/US$

Jakarta – Performa nilai rupiah tampaknya terus saja melorot. Lihat saja, nilai tukar rupiah pada Kamis sore (18/7) bergerak melemah sebesar 30 poin menjadi Rp10.060 dibanding sebelumnya di posisi Rp10.030 per dolar AS. Bahkan, pelemahannya itu seiring dengan kondisi fundamental, dimana pertumbuhan ekonomi yang cenderung melambat akan menekan mata uang suatu negara.

NERACA

Yang jelas, pergerakan nilai tukar rupiah masih cenderung negatif seiring pelaku pasar yang bersikap menahan diri adanya kemungkinan The Fed akan mulai mengurangi stimulus keuangannya. Apalagi, sentimen dari dalam negeri juga tidak ada yang positif. Hal itu terlihat dari pernyataan salah satu pejabat pemerintah bahwa level Rp10.000 per dolar AS bukanlah level psikologis.

Melihat kondisi seperti itu, pengamat ekonomi yang juga Rektor Kwik Kian Gie School of Business, Prof Dr Anthony Budiawan, menegaskan kondisi nilai tukar rupiah pada waktu dekat ini bisa terpuruk. Bahkan, sampai akhir tahun ini akan bisa mencapai Rp12.000 per dolar AS. Hal ini dikarenakan fenomena nilai tukar sampai sekarang ini sudah bisa menembus lebih dari Rp10.000 per dolar AS.

“Bisa bertahan pada angka Rp10.000 per dolar ini merupakan hasil dari seberapa kuat dari Bank Indonesia menahan laju kenaikan nilai tukar rupiah ini. Namun, untuk ke depannya, akan bisa dilihat apakah BI bisa menahan laju nilai tukar rupiah yang naik ini dan seberapa banyak cadangan devisa yang dipunyai oleh BI dalam menahan laju rupiah,\" ujarnya kepada Neraca, kemarin.

Anthony bahkan sudah memprediksi bahwa nilai tukar rupiah akan bisa menembus di atas Rp10.000 meskipun kondisi perekonomian Indonesia baik dalam beberapa tahun yang lalu. Dengan adanya segala permasalahan perekonomian yang terjadi di Indonesia dan terjadi defisit perdagangan maka nilai tukar rupiah akan bisa terpuruk di kondisi di atas Rp 10.000.

\"Kenaikan nilai tukar rupiah yang tinggi ini akan mengakibatkan inflasi dalam sektor pangan dikarenakan sektor ini banyak melakukan sektor impor yang secara otomatis berimbas langsung atas kenaikan nilai tukar rupiah,\" ujar Anthony.

Menurut dia, kenaikan nilai tukar rupiah yang akan bisa menembus di angka Rp 10.000 sampai akhir tahun akan bisa berimbas dan mempunyai efek berantai terhadap sektor perekonomian Indonesia. BI diharapkan supaya tidak panik dalam menahan laju nilai tukar rupiah yang naik ini sehingga akan bisa menstabilkan nilai tukar rupiah.

\"Hal yang dianggap kepanikan BI dalam menahan laju nilai tukar rupiah adalah dengan menaikkan nilai suku bunga dasar atau BI Rate yang seharusnya tidak dilakukan karena akan berimbas kepada nilai suku bunga kredit perbankan yang akan ikut naik atau tinggi,\" ungkap Anthony lagi.

Kemudian, dia menjelaskan bahwa beban masyarakat bertambah tidak hanya karena kenaikkan BBM tapi juga penurunan nilai rupiah terhadap dolar. Oleh Karena itu, pemerintah diharapkan mempunyai kebijakan yang tepat dalam menahan laju kenaikan nilai tukar rupiah sampai akhir tahun.

\"Kebijakan pemerintah yang salah dalam menahan laju rupiah akan merugikan masyarakat miskin dengan adanya inflasi di sektor pangan, dimana harga bahan pokok sudah melonjak naik,\" tambah Anthony.

Sedangkan di mata pengamat ekonomi Lana Soelistianingsih, pelemahan nilai tukar rupiah tidak bisa dilihat dari satu sisi permasalahan. Karena itu, kebijakan yang diperlukan untuk menahan pelemahan rupiah tidak sebatas pada kenaikan BI Rate. “Kebijakan BI Rate yang diambil BI hanya merupakan langkah antisipasi kenaikan inflasi Juli yang diperkirakan sebesar 2,3%, atau mengurangi ekspektasi yang berlebihan.” ujarnya, kemarin.

Bagi Lana, pelemahan mata uang rupiah juga dipengaruhi kondisi regional yang saat ini memang tidak mendukung. Pelemahan ekonomi China telah mempengaruhi mata uang Asia, termasuk rupiah. Apalagi China tercatat sebagai mitra dagang terbesar sehingga mempengaruhi neraca perdagangan Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Selain itu, mata uang dolar AS juga mengalami penguatan.

Dari dalam negeri sendiri, kata Lana, saat ini Indonesia masih mengalami defisit transaksi neraca pembayaran. Oleh karena itu, hal ini tidak hanya menjadi tanggungjawab Bank Indonesia, namun juga Menteri Keuangan dan Presiden untuk mengatur kebijakan fiskal moneter. Termasuk mendorong peningkatan kinerja di sektor riil. “Ini juga merupakan kombinasi dari pengambilan kebijakan yang berlarut-larut dari menaikkan harga BBM”, jelas Lana.

Meski demikian, Lana sepakat bahwa BI perlu menjaga BI rate agar tidak serta merta dinaikkan karena akan menaikkan suku bunga perbankan. “Jangan dinaikkan begitu saja, harus dihitung naiknya berapa. Kalau misalnya Juli ini sesuai ekspektasi maka tidak perlu dinaikkan lagi”, imbuh Lana.

Sejauh ini Lana optimistis nilai tukar rupiah akan kembali berada di bawah Rp10.000. Pasalnya, kondisi saat ini juga didorong adanya kekhawatiran psikologis bahwa rupiah akan melewati angka Rp10.000 atau mendekati Rp12.000 seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

Namun, penguatan tersebut bisa terjadi dengan catatan, masuknya capital inflow ke Indonesia. “Dengan masuknya inflow akan mendorong penguatan rupiah. Apalagi, kalau Bank Sentral AS tidak jadi melakukan pengurangan stimulus. Akhir tahun saya optimis masih bisa berada di posisi Rp9.800”, ungkap Lana.

Jangan Panik

Sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyatakan para pelaku pasar tidak perlu panik dengan nilai tukar rupiah yang beberapa hari terakhir menembus angka Rp10.000 rupiah per US$ karena likuiditas dolar masih tersedia cukup banyak di pasar valas.

Direktur Utama Mandiri Budi Gunadi Sadikin menuturkan, kekhawatiran pelaku pasar akan kelangkaan dolar di pasar valas disebabkan adanya penahanan dolar oleh sejumlah pengusaha yang menunggu nilai tukar rupiah terus melemah sehingga bisa meraup keuntungan lebih.

\"Kita kan sudah empat lima kali (rupiah di atas Rp10.000), nanti kalau udah normal lagi kembali ke Rp9.000 atau Rp8.000, jadi nothing very special. Cuma mungkin gara-gara pemberitaan, mereka jadi panik dan orang merasa tidak ada dolar, padahal dolarnya banyak banget,\" ujarnya di sela-sela acara buka puasa bersama wartawan di Jakarta, Rabu malam.

Budi melanjutkan, memang dalam beberapa tahun terakhir nilai tukar rupiah tidak pernah menembus Rp10.000, namun perlu diingat ketika krisis pada 2008 ketika pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, rupiah bahkan tembus ke angka Rp12.000. \"Waktu itu sering di atas Rp10.000, jadi kita tidak merasa aneh. Sekarang begitu di atas Rp10.000 kita merasa aneh, padahal sebetulnya biasa-biasa saja,\" tuturnya.

Budi mengatakan, dengan nilai tukar rupiah yang saat ini menembus Rp10.000, diharapkan para pelaku pasar yang menahan dolarnya mulai mau melepas dolar tersebut ke pasar. \"Bank Indonesia akan membuat rupiah naiknya pelan-pelan dan kami sebagai market maker atau pedagang besar diminta membantu agar transaksi jual beli dolar bisa lancar lagi agar market menjadi tenang,\" ujarnya.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di laman BI, sejak awal Juli rupiah terus melemah perlahan. Pada 1 Juli 2013 lalu rupiah menunjukkan angka Rp9.934 hingga pada 15 Juli 2013 rupiah menembus angka di atas Rp10.000. Kurs rupiah Kamis ini sendiri menunjukkan angka Rp10.059. mohar/lia/rin

Related posts