Mandiri Mengaku Nilai Tukar Rupiah Masih Stabil

NERACA

Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk menilai pelaku pasar tidak perlu panik dalam menyikapi kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), di mana dalam hampir sepekan ini berada di level Rp10 ribu, lantaran likuiditas dolar masih tersedia cukup banyak di pasar valas.

Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin menuturkan, kekhawatiran pelaku pasar akan kelangkaan dolar AS di pasar valas disebabkan adanya penahanan dolar oleh sejumlah pengusaha yang menunggu nilai tukar rupiah terus melemah sehingga bisa meraup keuntungan lebih.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah terus melemah pada 1 Juli 2013, rupiah berada dikisaran Rp 9.934 per dolar AS. Namun, pada 15 Juli menembus diatas Rp 10 ribu. Sedangkan nilai tukar rupiah kemarin, tetap bergerak melemah sebesar 30 poin menjadi Rp10.060 per dolar AS dibanding sebelumnya di posisi Rp10.030 per dolar AS.

Sementara kurs tengah Bank Indonesia tercatat, mata uang rupiah bergerak melemah nilainya menjadi Rp10.059 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya yang sebesar Rp10.040 per dolar AS. \"Kita sudah lima kali (rupiah di atas Rp10 ribu) mengalami. Saya prediksi akan normal lagi kembali ke posisi Rp9.000 atau Rp8.000. Ini hal yang biasa saja,” klaim Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Rabu (17/7) malam.

Dia mengakui kalau dalam beberapa tahun terakhir nilai tukar rupiah tidak pernah menembus Rp10 ribu. Kondisi ini pernah terjadi beberapa tahun yang lalu, yakni pada 2005 dan 2008, di mana kala itu pemerintah menaikkan harga BBM dan dalam jangka waktu setahun defisit neraca transaksi berjalan mengalami perbaikan.

“Pengalaman Indonesia defisitnya current account memang karena subsidi minyak, gap (jarak) antara harga dalam dan luar negeri, serta banyaknya impor yang masuk, menjadikan defisit menjadi tidak terkontrol disitulah nilai tukar rupiah akan terus melemah,” kata Budi. Dia mengatakan, dengan nilai tukar rupiah yang saat ini menembus Rp10 ribu, diharapkan para pelaku pasar yang menahan dolarnya mulai mau melepas dolar tersebut ke pasar.

\"Bank Indonesia akan membuat rupiah naiknya pelan-pelan dan kami sebagai market maker atau pedagang besar diminta membantu agar transaksi jual beli dolar bisa lancar lagi agar pasar menjadi tenang,\" tandasnya. Budi pun menjelaskan, faktor utama penyebab terus bergejolaknya nilai tukar rupiah merupakan defisit neraca transaksi berjalan yang semakin memburuk. “Tapi dengan kebijakan kenaikkan BBM Juni lalu saya optimis defisit neraca transaksi berjalan akan berkurang,” imbuhnya.

Bersifat sementara

Terkait aturan rasio pinjaman terhadap aset atau loan to value (LTV) yang diperketat, EVP Coordinator Consumer Finance Bank Mandiri, Tardi, memproyeksikan hal ini akan mempengaruhi kinerja bisnis kredit pemilikan rumah (KPR) pada perbankan. Walaupun pengaruh ini hanya akan berlaku sementara.

“Seperti tahun lalu ada aturan uang muka (down payment/DP) naik dari 20% ke 30%. Itu ternyata pengaruhnya hanya sebulan saja,” imbuh Tardi. Dia menjelaskan, dampak sementara ini karena masih tingginya kebutuhan properti di Indonesia. BI, kata Tardi, melakukan ini untuk menekan agar tidak terjadi gelembung (bubble) dan menekan spekulan. Sementara harga properti untuk tipe menengah ke atas saat ini sudah tidak masuk akal.

“Kenaikkan harga rumah yang di atas 20 kali lipat per tahun, sebenarnya sudah termasuk bubble, bahkan di beberapa tempat sudah irrasional. Namun, jika harga rumah atau apartemen melebihi dari 20-25 kali sewa per tahun, itu sudah tidak rasional juga,” ucapnya.

Lebih lanjut Tardi menuturkan, properti yang digunakan sebagai ajang spekulasi, umumnya dibeli dengan dana tunai langsung maupun bertahap. Sedangkan rumah bertipe di bawah 70 meter persegi, menurut Tardi, belum menunjukkan tanda-tanda bubble. Pasalnya, rumah bertipe ini umumnya dimiliki oleh orang yang memang membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. [sylke]

Related posts